Tadabbur

Memangkas Angan, Menguatkan Hati

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (QS. An-Nisaa ayat 120).

Hiruk-pikuk informasi, terutama melalui media sosial, tak pelak memengaruhi cara berpikir sebagian besar manusia yang hidup di era digitalisasi ini. Padahal kita tahu persis arti penting cara berpikir dalam kehidupan. Itulah yang akan menjadi frame sekaligus pengendali tindakan yang selanjutnya akan kita ambil. Bahkan lebih spesifik, cara berpikir akan menentukan keberuntungan atau kerugian hidup yang kita dapatkan. Oleh karena itu, tidak berlebihan kiranya bila ada nasihat untuk berhati-hati dengan cara berpikir kita.

 

Bersandar kepada Allah

Pertanyaan selanjutnya adalah: cara berpikir seperti apa yang terbaik agar hidup kita selamat di dunia hingga akhirat? Maka jawabannya adalah cara berpikir yang menguatkan hati. Mengapa harus menguatkan hati? Karena jalan yang akan kita lalui untuk bisa sampai dengan selamat di hari perjumpaan dengan Allah Azza wa Jalla sungguh berat. Tanpa hati yang kuat untuk tetap menapak dan melanjutkan perjalanan, jalan panjang itu mungkin tidak pernah terselesaikan.

Ada nasihat bijak yang pernah disampaikan, “Bila beban di pundakmu terlalu berat dan mempersulit langkah, buanglah saja di sisi jalan agar langkahmu ringan.” Sayangnya, sesuatu yang memberatkan itu sering kali kita sendiri yang memilihnya, dengan alasan kekhawatiran, kasih sayang, bahkan harapan. Padahal segala hal itu sejatinya adalah perbendaharaan yang ada di sisi Allah Ta’ala. Harapan, tujuan, bahkan cinta dan kekhawatiran; semuanya hanya dapat digantungkan kepada Allah saja, kepada Allah Yang Mahaperkasa dan berkuasa.

Oleh karena itu, pikiran yang terbaik hanyalah yang disandarkan pada Allah Ta’ala, digantungkan kepada Allah Azza wa Jalla, dan senantiasa berorientasi kepada Allah saja, tidak pada yang lain. Menjadikan-Nya sebagai satu-satunya harapan dan kekhawatiran. Ini membuat kita terbebas dari segala hal yang tidak diperlukan, menguatkan hati, dan memendekkan angan-angan.

 

Memangkas Angan

Satu hal yang menjauhkan kita dari Allah Azza wa Jalla dan menjauhkan kita dari keberuntungan adalah angan-angan yang panjang. Angan-angan yang panjang ini selain muncul dari hawa nafsu juga merupakan janji setan untuk menyesatkan manusia. Angan-angan tidaklah sama dengan tujuan. Angan-angan adalah sesuatu yang tidak pernah bisa diukur dengan spesifikasi, ukuran, taktis, relevansi, dan perhitungan waktu. Ia hanyalah sesuatu yang imajiner dan tanpa makna.

Angan-angan hanya membuang waktu dan membelokkan langkah dari ketaatan dan kebaikan kepada kemaksiatan dan keburukan. Sebaliknya, memendekkan angan membuat waktu termanfaatkan untuk ketaatan secara efektif dan mendatangkan berbagai kesempatan, karena pemiliknya secara otomatis selalu terhubung dan bersegera dalam kebaikan.

Berpikir dengan baik akan membuat kita menyadari bahwa dunia ini hanya sebentar dan fana. Cara berpikir yang baik juga menumbuhkan kerinduan pada akhirat dan mendorong kita “menabung” amal shalih sebagai bekal pulang dengan selamat. Maka berpikirlah dengan baik: bersandar hanya kepada Allah dan memendekkan angan-angan. Ini akan menutup pintu bagi setan untuk masuk dan meracuni hati serta pikiran.

Ibnul Qayyim berkata, “Orang yang terus memendekkan angan, hatinya akan tegak. Karena ia melihat dengan dua mata hati. Satu mata melihat kefanaan dunia dan mata lainnya menyaksikan keabadian akhirat.”

Orang yang telah memangkas angan-angan dapat melihat dengan jelas mana jalan yang mengantarnya bertemu dengan Allah Ta’ala dan mana jalan yang akan membuatnya tersesat. Dunia dan akhirat pada dasarnya adalah dua arah yang berbeda, tidak akan pernah bersama. Bila yang satu mendekat, maka yang lain akan menjauh. Bila kita memilih untuk menjejak di jalan akhirat, maka jalan dunia berseberangan dengannya. Begitu pun sebaliknya.

Berhati-hatilah dalam membedakan dua jalan yang bertolak belakang ini. Jangan sampai kita menjadi orang yang dilalaikan oleh angan-angan dunia dan sibuk mengejarnya, hingga tibalah hari akhir ketika kita harus mempertanggungjawabkan semua amal, sementara dunia malah berbalik meninggalkan.

“Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (QS. An-Nazi‘at ayat 46).*

Exit mobile version