Makna Taubat

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur ayat 31).
Manusia diciptakan tidak pernah lepas dari kesalahan dan dosa. Tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat kesalahan dan dosa, bahkan Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam pun pernah berbuat salah dengan mengabaikan Abdullah bin Ummi Maktum yang buta karena ingin segera menyampaikan Islam pada pemuka kaum Quraisy.
Manusia tidak akan pernah lepas dari salah dan dosa; meski sudah berusaha keras menghindari dan memasang strategi terbaik agar tidak gagal. Hal ini karena manusia memang Allah Azza wa Jalla ciptakan sebagai tempatnya gagal dan dosa. Karena hal ini pula, malaikat pernah “bersalah” karena mempertanyakan: mengapa Allah Azza wa Jalla akan menciptakan mahluk yang kerjanya hanya menumpahkan darah.
Allah Ta’ala berfirman, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.” (QS. Al-Baqarah ayat 30).
Sekarang, pertanyaan pentingnya adalah mengapa Allah ciptakan kita harus bersalah dan harus berdosa? Karena, kita butuh taubat dan Allah Ta’ala menyukai orang-orang yang bertaubat. Sebagaimana terdapat dalam hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya; maka minta ampunlah kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.” (HR. Muslim).
Lalu apa sebenarnya maksud Allah Ta’ala dengan menakdirkan kita selalu berbuat dosa setiap malam dan siang; kemudian Allah pasti akan mengampuni dosa kita? Maksudnya adalah manusia ditakdirkan menjadi mahluk yang selalu berbuat salah dan dosa, tidak lain agar kembali kepada Allah Ta’ala. Bertaubat kepada-Nya. Inilah yang disukai Allah Ta’ala dan Allah Ta’ala menjamin untuk mengampuni dosanya.
Taubat adalah Keberuntungan
Di dalam kaidah bisnis, tidak mungkin pernah ada orang yang selalu sukses dalam membangun bisnisnya. Tidak pernah tertipu dan tidak pernah gagal dalam mengeksekusi keputusan bisnis. Saya pernah bercerita tentang seorang kolega yang melakukan grand opening untuk cabang ke sekian puluh bisnisnya yang terdapat di berbagai kota. Saya otomatis mengeluarkan pujian atas capaian yang telah diperolehnya.
Namun, di luar dugaan, beliau malah menjawab, bahwa ini adalah cabang kesekian yang berhasil dibuka; setelah sebelumnya entah sudah berapa puluh cabang yang gagal dibuka, tutup, bahkan yang kini masih ada pun, tidak semua menguntungkan.
Adalah hal yang mustahil, bila ada seorang pebisnis yang menginginkan semua bisnisnya sukses. Karena, memang itu tidak akan pernah ada. Semua hal diciptakan oleh Allah Ta’ala dengan berpasang-pasangan.
Ada benar dan ada salah, ada sukses ada gagal, dan ada untung juga ada buntung. Oleh karena itu, orang yang tangguh, manakala ia salah, kena tipu, atau merugi besar; ia akan berpikir bahwa itu adalah bagian dari sukses. Harus ada fase gagal, harus ada fase terpuruk, dan harus ada masa rugi. Dari fase dan masa sulitlah ia akan belajar. Mana step by step yang akan mengantarkan pada keberhasilan dan mana step by step yang akan membuatnya terperosok pada kegagalan.
Inilah pula maksud Allah Ta’ala menjadikan manusia selalu salah dan berdosa. Allah Ta’ala ingin kita kembali kepada-Nya. Mengevaluasi diri, belajar dari kesalahan, hingga menjadi pribadi dengan kualitas yang lebih baik. Inilah esensi taubat.
Taubat adalah pelajaran yang Allah berikan agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama di masa depan. Taubat adalah waktunya kita meninjau kembali adakah hal yang kita lalaikan atau bahkan sengaja kita lakukan sebagai bentuk dosa dan salah kepada Allah Azza wa Jalla. Karena, hanya orang-orang yang telah melepaskan “jubah” perlindungan Allah-lah yang akan dijangkiti salah dan dosa. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mempertahankan perlindungan itu dengan selalu dekat dan menempatkan diri berada dalam area pengawasan Allah Ta’ala.
Sesungguhnya, bagi Allah Azza wa Jalla, nikmat atau musibah bagi hamba-Nya adalah sama saja. Sama-sama untuk membuat hamba-Nya semakin taat dan cerdas. Walau, bagi manusia nikmat atau musibah adalah point-point penting dalam kehidupan.
Namun, tidak bagi Allah Ta’ala. Yang penting adalah sejauh mana kita bertaubat. Untuk semakin dekat, mengenali Allah beserta keagungan Dzat-nya, dan taat. Oleh karena itu, Rasulullah saw mengajarkan kita untuk bersyukur terhadap nikmat dan bersabar terhadap musibah. Tidak untuk dipikirkan terlalu dalam, tidak juga untuk diselebrasi berlebihan. Karena, point pentingnya adalah pada sejauh mana kedua hal itu mendekatkan kita kepada Allah Ta’ala. Sehingga, sungguhlah benar firman-Nya, “Bertaubatlah supaya kamu beruntung.”*
