Mana yang Lebih Prioritas, Bersedekah atau Berkurban?

Oleh KH Bachtiar Nasir
Sebagian dari kita yang mempunyai tabungan atau rezeki yang pas-pasan, mungkin punya pilihan: berkurban dulu atau bersedekah kepada kaum dhuafa?
Dan bagi kaum dhuafa, mungkin ada yang lebih suka mendapat uang sedekah saja dibandingkan daging kurban.
Tetapi menurut hukum Islam, ada ibadah yang bersifat syiar, terkait momen waktu. Maka yang perioritas bukan sedekah, melainkan membeli hewan kurban untuk disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyrik.
Mayoritas ulama berpendapat, menyembelih hewan kurban lebih afdhol dibandingkan sedekah meskipun jumlah banyaknya seharga hewan kurban.
Kurban adalah ibadah yang bersifat maksum. Kurban sebuah ibadah utama yang tidak bisa digantikan dengan ibadah lain, karena dalam berkurban ada misi kepatuhan total kepada Allah dan melakukan sunah Nabi Ibrahim Alaihissalam. Inilah esensi kurban dibandingkan sedekah.
Ibadah kurban memiliki tata cara, waktu, jenis hewan, dan ketentuan qurban sudah diatur secara rinci dalam syariat dan tak tergantikan oleh ibadah lain.
Sedekah itu baik, tetapi itu menghilangkan esensi kurban yang merupakan inti ibadah Idul Adha.
Jika ibadah kurban ditinggalkan, maka lambat lain akan hilang. Idul Adha akan kehilangan esensinya.
Kurban juga merupakan sarana syukur atas keberlangsungan rezeki yang kita terima selama setahun.
Dengan menabung untuk berkurban, seseorang sudah melatih disiplin untuk mempersembahkan yang terbaik kepada Allah Subhana Wa Ta’ala.
Sedekah juga baik tetapi bersifat umum dan bisa dilakukan kalan saja. Sedangkan kurban momentumnya terbatas dan bagian dari keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.
Di sisi lain, mengalirkan darah hewan kurban membuktikan ketaatan kita. Kurban mengandung aspek vertikal yang mendalam. Berkurban bukan saja menyembelih hewan dan membagikan dagingnya. Tetapi ada aspek sosial dalam ibadah.
Dari sisi ilmu fiqih, kurban memiliki tiga dimensi:
1. Dimensi Ketaatan, kurban adalah bentuk yang ibadahnya ditentukan dalam waktu tertentu dan hewannya tertentu.
2. Dimensi Syiar, artinya menampakkan simbol ketaatan umat Islam saat hari raya Idul Adha. Ini mempunya nilai dakwah yang kuat.
3. Dimensi Ijtima’i atau dimensi sosial, dagingnya dibagikan kepada fakir miskin walaupun di pengurban mendapatkan seperempat daging kurbannya.
.