KSP

Kesaksian Terhadap Nama-nama dan Sifat-sifat Allah

Oleh KH Bachtiar Nasir

Kesaksian terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah sangat penting, karena pada tingkatan itu kita bisa merasakan dan membuktikan langsung kehebatan-Nya.

Kesaksian terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhana wa Ta’ala adalah bentuk penglihatan diantara penglihatan-penglihatan hati yang paling mulia, paling tinggi derajatnya, dan paling luas cakupannya.

Ketika hati sudah berani dan ditampakkan dan berani bersaksi tentang asma dan sifat Allah, itulah penglihatan yang sesungguhnya. Bukan sekadar bermata tapi tak melihat, dan bertelinga tapi tak mendengar.

Lebih dari itu, orang-orang yang dapat melihat asma dan sifat Allah, kadang matanya terpejam tetapi hatinya lebih terang dalam menangkap kekuasaan Allah. Inilah bentuk hati yang mulia, penglihatan yang tinggi derajatnya, dan penglihatan hati yang paling luas cakupannya.

Mengenai keberadaan alam semesta ini bersumber dari nama-nama dan sifat-sifat Allah. Dan keterkaitan ilmu antara Allah sebagai Sang Pencipta dan Allah Maha Indah, dengan segala sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi.

Kalau kita sudah dimampukan oleh Allah bisa bersaksi atas nama dan sifat-Nya dan mampu menangkap luar biasanya cakrawala, ini adalah bentuk nyata dari penglihatan hati.

Dunia ini tidak lain adalah hasil dari efek dan konsekuensi dari nama-nama Allah. Apa yang kita lihat di alam raya ini adalah bentuk konsekuensi nama-nama dan sifat Allah yang sudah kita saksikan.

Di balik ayat-ayat Allah, terdapat pengenalan nama-nama dan sifat-sifat Allah.

Maka dalam setiap ketetapan-Nya dan takdir-Nya, dan hukum-hukum syar’i yang penuh hikmah, ini bagian dari nama-nama dan sifat-sifat Allah.

Setiap nama-Nya memiliki bentuk ibadahnya sendiri kepada Allah, baik dalam bentuk pengenalan, keadaan, maupun dalam bentuk amal saleh.

Ibadah yang sempurna adalah yang sesuai dengan nama dan sifat-Nya yang menjadi tuntutan kondisi seorang hamba. Maka jika seorang hamba dalam kondisi memohon, memelas, dia akan menghadap kepada Allah dengan nama-Nya Ar-Rahman Yang Maha Pengasih dan Ar-Rahim Yang Maha Penyayang.

Dalam kondisi terhalang dan sempit, dia akan menghadap Allah dengan asma Al-Mani’ Yang Maha Menahan, dan Al-‘Afuw Yang Maha Pemaaf.

Jika seorang hamba dalam kondisi berdosa dan memohon ampunan, dia akan menghadap Allah dengan asma-Nya At-Tawab Yang Maha Menerima Taubat, Al-Ghofur Yang Maha Pengampun, dan Al-‘Afuw Yang Maha Pemaaf.

Jika dalam kondisi diliputi rasa takut dan harap, maka dia menghadap Allah dengan nama-Nya sebagai Al-Birr Yang Maha Baik, Al-Latif Yang Maha Lembut, Al-Jabbar, dan sebagainya.

Firman Allah dalam Surah Al-A’raf ayat 180:

وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَۖ ۝١٨٠

Allah memiliki Asmaulhusna (nama-nama yang terbaik). Maka, bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut (Asmaulhusna) itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.

Orang yang sempurna adalah jika beribadah kepada Allah disesuaikan dengan nama dan sifat-sifat Allah yang harus diagungkan.

Pada ayat 180 Surah Al-A’raf tersebut, wa lillâhil-asmâ’ul-ḫusnâ fad‘ûhu bihâ, artinya, doa ini adalah mencakup semua jenis doa permohonan, permintaan.

Sesungguhnya Allah Maha Mulia dan Allah mencintai orang-orang yang menyebut nama-Nya.

Allah menyukai orang berilmu, karena Allah al-Alim.

Allah mencintai orang yang memaafkan, karena Allah Al-‘Afuw.

Allah mencintai orang yang bersyukur, yang sabar, Allah Maha Penyantun dan mencintai orang-orang yang penyantun.

Maha suci Allah yang menyerukan manusia untuk beribadah kepada-Nya.