Muhasabah lewat Asma Al-Hayyu Qoyyum

Oleh: KH Bachtiar Nasir
Dalam dunia yang tak pernah tenang, jiwa manusia senantiasa terombang-ambing. Ada satu nama yang selalu menenangkan, Al-Hayyu Qoyyum.
Kita hidup bersama Al-Hayyu Qoyyum, Dialah Yang Maha Hidup, yang tak pernah mati, tak pernah tidur. Allah selalu hadir ketika semua pergi meninggalkan kita. Bahkan yang kita cintai pun pergi. Hanya ada satu nama yang tetap menemani kita, ialah nama satu Zat: Al-Hayyu Qoyyum.
Asma ini bukan hanya sebutan dalam ayat kursi, atau doa para Nabi. Nama ini adalah pelukan bagi jiwa yang rapuh. Nama ini adalah pondasi bagi hati yang kuat dan tegak.
Para ulama Tazkiyatunnafs mengatakan, para pencari Allah dengan hati yang lembut, menimba hikmah dari nama ini, menghidangkannya sebagai penawar kegelisahan. Inilah renungan- yang lahir dari hati yang pernah guncang.
Makna Al-Hayyu Qoyum menuntun jiwa dan tak pernah mati.
Sesiapa yang mengenal Al-Hayyu Qoyyum, dia tak pernah menyandarkan hatinya kepada yang fana, karena yang fana akan mati. Zat yang hidup hanyalah Dia Al-Hayyu Qoyyum, yang menghidupkan hati yang mati.
Tanpa zikir kepada Al-Hayyu Qoyyum, hati kekasih Allah hanyalah jasad kosong, bagaikan bangkai-bangkai yang berjalan. Hati itu seperti jasad yang tanpa zikir akan sekarat meski badannya hidup.
Al-Hayyu berdiri sendiri, yang pada dirimu tak akan bersandar kepada yang lain.
Al-Junaid berkata: Al-Hayyu Qoyyum berdiri sendiri, malulah kamu jika bergantung kepada yang lemah. Ketika kita lalai kepada Allah Al-Hayyu, berarti kita masuk kepada ruang kelalaian. Reduplah hati kita.
Al-Hayyu, Zat yang tidak pernah melupakan kita, Dia tidak akan pernah sepadan dengan siapa pun yang mengenalmu, karena mereka itu akan melupakanmu.
Melupakan Al-Hayyu adalah hidup dalam kehampaan meski badanmu bergerak.
Al-Hayyu, Yang Maha Menumbuhkan Harapan, ketika hati terasa hampa dan kosong.
Ketika rasa takut menyergapmu, sebutlah Al-Hayyu, maka hatimu akan bernafas.
Al-Hayyu adalah sumber keberanian bagi hati yang sedang gentar. Al-Hayyu akan hadir menyapamu.
Kata ulama, tidak ada tirai antara engkau dan Al-Hayyu Yang maha hidup, karena doa tak perlu protokol, cukup menunduk, merendahkan hati.
Ibrahim Ibnu Adham berkata: rasa malu terhadap Al-Hayyu tanda hati memiliki malu.
Al-Hayyu cukup bagi seorang yang berserah diri. Bencana besarlah bagi seseorang yang tidak merasa cukup bersama Al-Hayyu. (*)
