Hikmah dari Isra Mi’raj

Oleh KH Bachtiar Nasir
Said Nursi, seorang ulama cendikiawan muslim dan mutakallim (ahli kalam) yang lahir tahun 1877 dan wafat 23 Maret 1960) berkata, ada buah-buah penting atau hikmah agung dari peristiwa Isra Mi’raj.
Ada lima buah (hikmah) agung dari Isra Mi’raj, yakni:
Pertama, pengukuhan kedudukan manusia sebagai makhluk mulia (ahsan taqwim),
Kedua, isra mi’raj adalah simbol kasih sayang Allah, tali penghubung makhluk menuju kesatuan ilahi (tauhid),
Ketiga, pemberian hadiah agung berupa perintah shalat lima waktu,
Keempat, perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW untuk menyaksikan langsung keagungan Ilahi dan menyempurnakan pemahaman spiritualnya.
Kelima, peristiwa ini mengajarkan pentingnya membersihkan hati dan meningkatkan keimanan untuk mencapai kedekatan dengan Allah.
Betapa besar anugerah yang Allah beri untuk mengetahui kehendak ilahi.
Secara umum yang kita ketahui dari Isra Mi’raj adalah peristiwa Nabi diperjalankannya Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, beliau mengimami shalat para Nabi dan Rasul, lalu diperjalankan ke Sidratul Muntaha, sampai dekat sedekat-dekatnya dengan Allah Subhana Wa Ta’ala.
Kita mengenal ada keinginan ilahi atau masyi’ah ilahi. Alangkah bahagianya jika kehendak kita sama dengan kehendak Allah, sehingga kita ringan mengikuti perintah dan syariah Allah.
Menyadari bahwa Allah punyak kehendak, dan di balik kehendak Allah meskipun ada yang menyakitkan bagi kita, tetapi ada hikmah besar.
Betapa besar keberuntungan kalau kita diberikan kehendak yang sama dengan kehendak atau masyi’ah Allah.
Kisah Isra Mi’raj, selama ini kita mendapatkan informasi lewat Jibril. Ini adalah satu pengalaman spiritual yang tidak dialami oleh makhluk mana pun.
Perlu diketahui, memang ada inner circle Allah dari kalangan malaikat, tetapi kehadiran Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam yang diantar sendiri oleh malaikat Jibril adalah keistimewaan. Dan beliau mendapat pengakuan bahwa Allah memberikan kehendak-Nya berupa amanah risalah agama.
لا إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَريكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ ؛ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatunya.
Nabi Muhammad mendapat legitimasi pembawa risalah dan agama Allah. Inilah salah satu tanda paling jelas yang dibawa ke bumi sebagai oleh-oleh untuk umat beliau.
Karenanya barangsiapa yang mendapatkan oleh-oleh dari perjalanan Isra Mi’raj-nya Nabi, betapa agungnya. Oleh-oleh itu adalah berupa perintah shalat yang merupakan perintah Allah untuk dibagikan kepada seluruh manusia tanpa terkecuali.
Shalat adalah rahmat agung bagi para pencari rahmat Allah dan sarana bagi para pencari cinta Allah.
Kita tidak bisa mengetahui peristiwa itu, apalagi akal kita terlalu lemah dan bodoh. Tetapi kita mendapatkan anugerah mengetahui kehendak Allah, iradatullah, masyi’atullah.
Kita ini ada di dunia dan menjadi manusia adalah karena kehendak-Nya. Begitu pun kita menerima bagian dari kehendak Allah berupa shalat, betapa bahagianya.
Kita presentasikan nikmat ini dengan merasakan kenikmatan agama, mensyukuri nikmat shalat, mensyukuri nikmat Islam dengan segala syariat-Nya.
Allahumma shali ala Muhammad.
Jangan sampai peristiwa besar itu terlewat begitu saja.
Kadang kita disibukkan dengan pertanyaan, mana mungkin bisa berjalan dalam semalam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha lalu ke Sidratul Muntaha. Itulah mukjizat yang diberikan Allah kepada kekasih-Nya.
Kalau bisa dijangkau akal, namanya itu bukan mukjizat.
Analogi di zaman sekarang, misal dengan teknologi tinggi.
Misalnya, kita ingin mengulang rekaman kajian yang aslinya selama dua jam, kita bisa putar di YouTube hanya satu jam dengan cara memutar intisari saja. Atau bisa lewat AI, bisa baca dengan ringkasan materi yang kita cari.
لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Lailaha illa Anta subhanaka inni kuntu minadzdzolimin.
“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah adalah termasuk orang-orang yang zalim.”