KSP

Hari Ini Milik Kita, Besok Belum Pasti 

Oleh KH Bachtiar Nasir

Ada kata-kata bijak yang kita kenal:

“Dunia ini hanya memiliki tiga hari: adapun kemarin, ia telah pergi dengan segala yang ada di dalamnya. Adapun esok, kamu mungkin tidak akan pernah menemuinya. Maka hari ini, itulah yang menjadi milikmu, beramallah di hari ini.”

Benar, kata-kata bijak tersebut berasal dari Hassan Al-Bashri. Dia berkata, “Wahai anak Adam, jauhilah kebiasaan menunda-nunda, sesungguhnya engkau hanya memiliki hari ini, bukan hari esok. Apabila esok menjadi bagian hidupmu, maka bersungguh-sungguhlah pada hari esok seperti bersungguh-sungguhnya engkau pada hari ini. Namun apabila hari esok bukan menjadi milikmu, engkau tidak akan menyesali karena engkau tidak melalaikan hari ini.

Ini berarti besok belum tentu seperti hari ini. Jadi lebih baik dikerjakan hari ini. Untuk apa ditunda-tunda, karena hari besok belum tentu ada.

Hassan Al-Bashri ini berbicara tentang waktu. Intinya jangan menunda-nunda.  Mereka yang merasa dirinya masih sehat, masih mampu, jangan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan.

Ada sebagian orang juga yang mentalnya lebih parah. Besok belum terjadi tetapi sudah takut sejak hari ini, sehingga hari ininya menjadi lemah. Masa depan jangan dicemaskan.

Hari yang menjadi milik kita adalah hari ini, karena masa lalu telah berlalu dan jangan menyesali kejadian di masa lalu.

Kalau hari ini kita berdosa dan langsung bertaubat, selesai sudah masalah hari ini. Hari ini milik kita dan hari esok yang belum tentu terjadi, jadi jangan sampai kita merusak hari ini.

Jika dikaitkan dengan maut, sesuatu yang paling pasti dan dekat waktunya adalah kematian. Kenapa banyak manusia tidak mempersiapkan hari yang paling pasti dan paling dekat itu? Kenapa justru yang dikejar itu adalah hal-hal yang belum pasti bisa dan jauh diraih.

Mengenai skala prioritas, kita prioritaskan hari yang pasti dan dekat, yakni kematian. Orang yang memandang bahwa kematian itu dekat dan pasti, sudah benar hidupnya.

Jika orang memandang kematian bukan sebagai prioritas, hidupnya tidak akan selesai-selesai.

Kunci sukses menghadapi kehidupan itu apa? Pertanyakan pada diri sendiri: Sang Penciptaku ingin apa dari aku? Ternyata aku diciptakan untuk beribadah. Dan ibadah menjadi kunci sukses menghadapi kehidupan. Karenanya jika kita ingin membuat skala prioritas, prioritaskan sesuai dengan tujuan kita diciptakan oleh Allah.

Cara kehidupan sekarang akan menentukan kehidupan kita nanti.*

Exit mobile version