Tadabbur

Keutamaan Bulan Żulqa`dah dan Persiapan Menyongsong Hari Raya Qurban

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي تَقَلُّبِ الزَّمَانِ عِبْرَةً لِلأَنَامِ، وَفَضَّلَ بَعْضَ الشُّهُورِ عَلَى بَعْضٍ بِالْفَضْلِ وَالإِكْرَامِ.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْعَلاَّمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَيْرُ مَنْ صَامَ وَصَلَّى وَقَامَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا تَعَاقَبَ الضِّيَاءُ وَالظَّلاَمُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Jamaah Shalat Jum’at yang Dimuliakan Allah,

Marilah kita senantiasa memanjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah , Rabb semesta alam yang tak henti-hentinya mencurahkan nikmat-Nya kepada kita. Nikmat yang jika kita hitung, niscaya kita takkan sanggup menjumlahkannya. Di antara nikmat yang paling agung adalah nikmat waktu dan kesempatan. Hari ini, Allah masih mengizinkan kita menghirup udara di bulan yang mulia, bulan Żulqa`dah.

Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada sebaik-baik ciptaan, Baginda Nabi Muhammad . Dialah yang telah membimbing kita dari pekatnya kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam yang benderang. Melalui tuntunannya, kita memahami mana waktu yang biasa dan mana waktu yang istimewa di mata Sang Pencipta.

Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan jamaah sekalian: Marilah kita teguhkan kembali komitmen ketakwaan kita. Ketahuilah bahwa takwa adalah satu-satunya standar kemuliaan di sisi Allah. Terlebih saat ini kita berada di bulan haram, di mana setiap amal saleh memiliki nilai lebih dan setiap dosa memiliki konsekuensi yang lebih berat.

Oleh karena itu, jadikanlah takwa sebagai penjaga lisan kita dari kata-kata yang sia-sia, penjaga hati kita dari sifat hasad, dan penggerak anggota badan kita untuk tunduk sepenuhnya kepada syariat Allah . Inilah bekal terbaik sebelum kita melangkah menuju hari pengorbanan yang kian dekat.

1. Memahami Hakikat Żulqa`dah: Bulan Kesucian yang Terlupakan

Jamaah yang dirahmati Allah,

Seringkali dalam dinamika kehidupan, kita terjebak dalam rutinitas yang membuat kita abai terhadap pergantian waktu-waktu mulia. Bulan Żulqa`dah sering dianggap sebagai “bulan kosong” karena ia berada di tengah-tengah dua kegembiraan besar: Idul Fitri dan Idul Adha. Padahal, secara terminologi dan teologi, Żulqa`dah memiliki kedudukan yang sangat tinggi.

Allah  berfirman dalam Al-Qur’an,

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauḥ Maḥfūẓ) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu).” (QS At-Taubah [9]: 36).

Empat bulan yang dimaksud adalah Żulqa`dah, Żulḥijjah, Muharam, dan Rajab. Disebut sebagai “Bulan Haram” karena Allah mengharamkan segala bentuk peperangan, pertikaian, dan kedzaliman di dalamnya. Mengapa Allah memberikan penekanan khusus pada bulan-bulan ini? Hal ini bertujuan agar manusia memiliki waktu jeda untuk merenung, melakukan gencatan senjata terhadap syahwatnya, dan memfokuskan diri pada pengabdian kepada Allah.

Mengenai hal ini, ulama besar dari kalangan tābi`īn, Imam Qatādah bin Di`āmah, memberikan peringatan yang sangat keras agar kita waspada,

إِنَّ الظُّلْمَ فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ أَعْظَمُ خَطِيئَةً وَوِزْرًا مِنَ الظُّلْمِ فِيمَا سِوَاهَا، وَإِنْ كَانَ الظُّلْمُ عَلَى كُلِّ حَالٍ عَظِيمًا، وَلَكِنَّ اللَّهَ يُعَظِّمُ مِنْ أَمْرِهِ مَا يَشَاءُ

“Sesungguhnya kezaliman pada bulan-bulan haram lebih besar dosanya daripada kezaliman di bulan-bulan lainnya, meskipun kezaliman secara umum adalah perkara besar. Namun Allah mengagungkan urusan-Nya sesuai kehendak-Nya.” (Ibnu Kaṡīr, Tafsīr al-Qur’ān al-`Aẓīm, IV/288).

Pesan ini sangat jelas: Di bulan Żulqa`dah ini, satu kata kotor yang kita ucapkan, satu fitnah yang kita sebar, dan satu tindakan zalim yang kita lakukan terhadap sesama muslim, dosanya jauh lebih berat dibanding bulan-bulan biasa. Sebaliknya, satu rukuk kita, satu butir dzikir kita, dan satu rupiah sedekah kita, nilainya dilipatgandakan oleh Allah .

Imam Ibnu Rajab al-Ḥanbali menambahkan −dalam kitab “Laṭāiful Ma`ārif”− sebuah riwayat dari seorang pria suku Bāhilah yang fisiknya berubah drastis karena memaksakan diri puasa terus-menerus. Nabi  menegurnya dengan bertanya,

»مَنْ أَمَرَكَ أَنْ تُعَذِّبَ نَفْسَكَ؟ «

“Siapa yang menyuruhmu menyiksa dirimu?”. Beliau  kemudian memberikan wasiat,

 »صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَأَفْطِرْ «

“Berpuasalah di bulan-bulan haram dan berbukalah”. Ini membuktikan bahwa Żulqa`dah adalah bulan yang disiapkan Allah untuk kita memperbanyak puasa sunnah sebagai bentuk pemuliaan terhadap Asyhurul Ḥurum.

2. Filosofi “Duduk” di Bulan Żulqa`dah

Nama Żulqa`dah berasal dari akar kata qa`ada (قَعَدَ) yang berarti “duduk” atau “berhenti”. Secara historis, masyarakat Arab berhenti melakukan perjalanan dagang dan peperangan untuk duduk diam bersiap menuju ibadah Haji.

Namun bagi kita yang tidak sedang berangkat haji tahun ini, apa makna “duduk” tersebut? Maknanya adalah Muhāsabah (evaluasi diri). Setelah kita melewati gemuruh kegembiraan Idul Fitri, kita diminta untuk “duduk sejenak” menenangkan hati. Kita perlu mengevaluasi sejauh mana bekas-bekas Ramadan masih menempel pada diri kita.

Żulqa`dah adalah waktu i’tikaf maknawi. Ia adalah momen persiapan ruhani sebelum kita memasuki “Hari-Hari Emas” di sepuluh hari pertama Żulḥijjah. Jika kita ingin merasakan nikmatnya ibadah qurban dan indahnya puasa Arafah bulan depan, maka “pemanasannya” harus dimulai sekarang.

Perlu dicatat bahwa di antara keistimewaan bulan ini, Rasulullah  melakukan seluruh umrah beliau (sebanyak empat kali) di bulan Żulqa`dah. Ini menandakan bahwa bulan ini memiliki kemuliaan khusus untuk menjalankan ibadah-ibadah besar. Sebagaimana disebutkan dalam Laṭāiful Ma`ārif, para salaf bahkan meyakini bahwa 30 hari yang dijanjikan Allah kepada Nabi Musa  adalah bulan Żulqa`dah, sebelum digenapkan dengan 10 hari pertama Żulḥijjah.

Ulama salaf Abu Bakar Al-Balkhi Raḥimahullāh memberikan analogi yang luar biasa dalam kitab Laṭāiful Ma`ārif,

شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ

“Bulan Rajab adalah bulan untuk menanam benih. Bulan Sya’ban adalah bulan untuk menyirami tanaman. Dan bulan Ramadhan adalah bulan untuk memanen hasilnya.”

Jika kita tarik analogi ini ke dalam siklus Haji dan Qurban, maka Żulqa`dah adalah saat kita kembali memupuk tanah hati kita. Jangan biarkan hati kita gersang oleh urusan dunia sehingga saat Hari Raya Qurban tiba, kita hanya sekadar menyembelih hewan tanpa merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap tetesan darahnya.

3. Persiapan Menyongsong Hari Raya Qurban: Melampaui Ritualitas

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Beberapa pekan ke depan, gema takbir akan berkumandang di seluruh penjuru bumi. Umat Islam akan merayakan Idul Adha, sebuah hari yang juga disebut sebagai Yaumun Naḥr (Hari Penyembelihan). Persiapan apa yang sudah kita lakukan di bulan Żulqa`dah ini?

A. Persiapan Hati dan Tauhid

Syarat utama diterimanya ibadah qurban bukanlah pada besar atau mahalnya hewan tersebut, melainkan pada ketulusan niat. Allah  berfirman,

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.” (QS al-Ḥajj [22] : 37).

Kita harus memastikan bahwa qurban kita bukan untuk pamer status sosial. Bukan agar kepala hewan qurban kita dipajang dan dibicarakan orang. Bersihkan hati di bulan Żulqa`dah ini dari penyakit riya. Ulama dari kalangan salaf saleh mengingatkan:

لَيْسَ الْعِيدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيدَ، إِنَّمَا الْعِيدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيدُ

“Bukanlah Id (Hari Raya) itu bagi orang yang mengenakan pakaian baru, melainkan Id itu bagi orang yang ketaatannya bertambah.”

Ibnu Rajab menekankan bahwa yang terpenting bukanlah sekadar banyaknya amal secara fisik, melainkan apa yang menetap di hati. Beliau mengutip perkataan sebagian ulama, “Seseorang bisa mencapai kedudukan tinggi bukan karena banyaknya shalat dan puasa, melainkan karena kemurahan hati, kebersihan hati, dan nasihat bagi umat.”

B. Persiapan Ekonomi dan Fikih Qurban

Bagi jamaah yang diberikan kelebihan rezeki, ibadah qurban adalah sebuah kewajiban moral yang sangat ditekankan. Rasulullah  memberikan peringatan keras dalam hadits riwayat Imam Ahmad,

»مَن وَجَدَ ‌سَعَةً فلم ‌يُضَحِّ فلا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانا«

“Barang siapa yang memiliki kelapangan (rezeki) namun tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.”

Gunakan bulan Żulqa`dah ini untuk mengalokasikan harta terbaik. Jangan memberikan sisa-sisa harta untuk Allah. Jika kita mampu membeli gadget yang mahal, kendaraan yang mewah, atau pakaian yang bermerek, mengapa untuk berqurban kita mencari yang paling kecil dan paling murah? Pilihlah hewan yang samīn (gemuk), tidak cacat, dan musinnah (telah memenuhi umur). Ini adalah bentuk ta`ẓīm (pengagungan) terhadap syiar Allah.

C. Persiapan Ruhani: Menyembelih Sifat Kebinatangan

Ibadah qurban memiliki akar sejarah pada kisah Nabi Ibrahim  dan Ismail . Ini adalah kisah tentang totalitas cinta. Ibrahim diminta menyembelih sesuatu yang paling ia cintai di dunia. Pelajaran besar bagi kita: Qurban adalah tentang menyembelih apa yang kita cintai demi Dia yang kita sembah.

Dalam diri setiap manusia, terdapat sifat-sifat kebinatangan (ṣifatul bahīmiyyah). Sifat rakus, sifat ingin menang sendiri, sifat sombong, dan sifat malas. Maka, sebelum kita menyembelih sapi atau kambing di hari Idul Adha, gunakan bulan Żulqa`dah ini untuk menyembelih sifat-sifat buruk tersebut di dalam diri kita.

4. Meneladani Kesabaran Salafush Shalih

Sidang Jum’at rahimakumullah,

Para salafuṣ ṣāliḥ sangat menghargai waktu di bulan haram. Mereka meningkatkan intensitas ibadahnya seolah-olah besok akan datang kiamat. Qatādah berkata,

فَعَظِّمُوا مَا عَظَّمَ اللهُ، فَإِنَّمَا تُعَظَّمُ الْأُمُورُ بِمَا عَظَّمَهَا اللهُ عِنْدَ أَهْلِ الْفَهْمِ وَأَهْلِ الْعَقْلِ

“Maka agungkanlah apa yang diagungkan oleh Allah, karena sesungguhnya perkara-perkara itu menjadi agung (mulia) disebabkan Allah yang mengagungkannya di mata orang-orang yang memiliki pemahaman dan akal.”

Żulqa`dah adalah waktu bagi kita untuk memperbanyak istighfar. Banyak ulama menyebutkan bahwa Żulqa`dah adalah bulan di mana Allah memberikan ampunan yang luas bagi hamba-hamba-Nya yang ingin bertaubat sebelum mereka masuk ke “tanah suci” bulan Żulḥijjah.

Jamaah sekalian rahimakumullah,

Khutbah ini tidak akan ada gunanya jika hanya menjadi angin lalu di telinga kita. Harus ada langkah nyata sebagai bukti bahwa kita menghormati bulan Żulqa`dah.

Pertama, tetapkan niat dan alokasikan harta. Bagi Anda yang belum mendaftar qurban, lakukanlah hari ini atau esok. Jangan menunda. Niatkan bahwa qurban ini adalah tebusan bagi diri Anda dan keluarga Anda dari api neraka.

Kedua, jaga lisan dan tangan. Mengingat ini adalah bulan haram, berjanjilah untuk tidak memulai pertengkaran. Jika ada masalah dengan keluarga, tetangga, atau rekan kerja, maafkanlah. Jangan sampai kita masuk ke bulan Dzulhijjah dalam keadaan membawa beban dendam.

Ketiga, hidupkan malam dan siang dengan zikir. Karena pahala dilipatgandakan, perbanyaklah membaca Al-Qur’an dan zikir pagi-petang. Sebagaimana pesan Ibnu Rajab, kesibukan membersihkan hati di bulan ini lebih utama daripada memperbanyak amal tapi hati dipenuhi penyakit.

Keempat, siapkan edukasi untuk keluarga. Ajarkan kepada istri dan anak-anak tentang makna bulan Żulqa`dah dan sejarah Nabi Ibrahim . Biarkan mereka paham bahwa agama ini dibangun di atas pengorbanan, bukan sekadar kesenangan.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِلإِيمَانِ، وَأَمَرَنَا بِتَعْظِيمِ شَعَائِرِهِ لِنَيْلِ التَّقْوَى وَالرِّضْوَانِ.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، الَّذِي جَعَلَ الْقُرْبَانَ طَرِيقًا إِلَى مَحَبَّتِهِ وَالْجِنَانِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَاحِبُ الْخُلُقِ الْعَظِيمِ وَالْبَيَانِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّاهِرِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى حيث قال : يَٰقَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا مَتَٰعٌ وَإِنَّ ٱلْـَٔاخِرَةَ هِىَ دَارُ ٱلْقَرَارِ

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Sebagai penutup dari rangkaian khutbah ini, mari kita tanamkan dalam jiwa kita bahwa kesempatan hidup di bulan Żulqa`dah tahun ini adalah karunia yang belum tentu kita dapatkan tahun depan. Berapa banyak kawan kita, saudara kita, yang tahun lalu masih salat Jum’at bersama kita, namun hari ini mereka telah berbaring di liang lahat?

Mereka mungkin ingin kembali ke dunia hanya untuk bertasbih satu kali di bulan haram ini, atau untuk berqurban dengan seekor kambing yang sederhana. Namun pintu itu telah tertutup bagi mereka. Sedangkan bagi kita, pintu itu masih terbuka lebar.

Jangan biarkan harta kita mengendap di bank tanpa ada yang menjadi saksi di akhirat. Jangan biarkan waktu kita habis untuk urusan duniawi yang fana tanpa ada bekal untuk perjalanan abadi. Ibadah Qurban adalah manifestasi dari syukur. Jika Allah memberikan kita nafas, kesehatan, dan sedikit harta, maka berqurbanlah sebagai tanda terima kasih kepada Sang Pemberi Hidup.

Mari kita tundukkan kepala sejenak, memohon kepada Allah  agar diberikan keistiqamahan.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَهْرِ ذِي الْقَعْدَةِ، هَذَا الشَّهْرِ الْحَرَامِ الَّذِي عَظَّمْتَ حُرْمَتَهُ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُلُوبَنَا فِيهِ خَاشِعَةً، وَأَعْمَالَنَا صَالِحَةً مَقْبُولَةً. اللَّهُمَّ هَيِّئْ أَنْفُسَنَا لِاسْتِقْبَالِ مَوَاسِمِ الْخَيْرِ فِي ذِي الْحِجَّةِ، وَأَلْهِمْنَا فِيهِ ذِكْرَكَ وَطَاعَتَكَ.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْقُدْرَةَ وَالْبَسْطَةَ لِإِقَامَةِ شَعِيرَةِ الْأُضْحِيَّةِ، وَتَقَبَّلْهَا مِنَّا بِقَبُولٍ حَسَنٍ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُرْبَانَنَا خَالِصًا لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ، وَطُهْرَةً لِأَبْدَانِنَا، وَزَكَاةً لِأَمْوَالِنَا، وَنُورًا لَنَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Exit mobile version