Jantungnya Tauhid

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfiman:
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya.” (QS. Al-A’raaf ayat 180).
Bagi sebagian orang, apalah arti sebuah nama. Namun, akan sangat berbeda bila kita ingin mengenal Allah Azza wa Jalla. Allah Subhanahu wa Ta’ala memang berbeda dari apa pun dan siapa pun mahluk-Nya. Oleh karena itu, jika ingin memahami Allah Ta’ala – baik melalui ciptaan atau kejadian; maka itu merupakan tajalli atau manifestasi dari nama-nama AllahTa’ala. Lihat dan kenalilah Allah Azza Wajalla berdasarkan nama dan sifat-Nya.
Nama dan Sifat Allah
Dalam ilmu, jika kita ingin mengenal sesuatu pun pasti bermula dari nama. Untuk mengenal Allah Ta’ala, maka dapat kita lihat bagaimana gambaran tentang diri-Nya bermula dari asma (nama)-Nya, kemudian sifat-Nya. Misalnya, salah satu nama-Nya adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahiim, yang melahirkan sifat-Nya Ar-Rahmah yang berarti bersifat penuh kasih sayang. Begitu juga nama-nama Allah Ta’ala yang lain.
Bila kita melihat semua yang terjadi di muka ini berdasarkan asma dan sifat Allah Ta’ala, maka itulah yang disebut dengan berdzikir sepanjang waktu. Terus mengingat Allah Azza wa Jalla dalam keadaan apa pun karena segala yang wujud, terasa, dan terindra di dunia ini; tak lain adalah manifestasi asma dan sifat-Nya.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al Imran ayat 190-191).
Inilah karunia-Nya sebagai ketetapan-Nya; perbuatan-Nya untuk kita. Ketetapan-Nya yang suci yang berasal dari perbuatan-Nya yang suci karena berasal dari sifat-Nya yang suci dan berasal dari nama-Nya yang suci. Inilah jantungnya tauhid.
Memohon lewat Asma-Nya
Bagaimana caranya agar asma dan sifat Allah Ta’ala menjadi jantung dalam tauhid kita? Kaitkanlah selalu di dalam hati kita, nama-nama Allah Ta’ala dengan semua fenomena alam dan dengan semua peristiwa hidup kita. Selalu ada Allah Ta’ala di situ. Itulah asma washifat yang akan menjadi jantung tauhid kita. Ingat dan sebutlah semua asmaul husna dalam setiap peristiwa yang kita temui. Semakin banyak library kita tentang asma-Nya maka akan semakin bercahaya dan cerdaslah bathin ini.
Dalam pepatah Arab ada yang berbunyi ‘bahwa tidak semua yang berkilau itu emas.” Dengan mengenal asma dan shifat Allah Ta’ala, maka kita juga akan mengenali karakter dunia. Dunia ini mengandung dua karakter yang paling sering kita temui:
Pertama, besarnya keinginan tidak akan bisa diikuti oleh kemampuan. Misalnya kita selalu ingin menaiki mobil mewah. Mungkin kita mampu membeli sebuah mobil Ferrari terbaru bulan ini, tetapi bisa jadi kebanggaan kita menaiki mobil itu mungkin akan terusik manakala kita melihat Rolls Royce terbaru yang terbit di bulan selanjutnya. Bila kita tergolong “sultan” mungkin kita bisa membelinya, tetapi pasti kita tidak bisa memakai keduanya di waktu yang bersamaan.
Kedua, tidak mengenal kata puas. Tidak akan ada kata puas dalam mengejar dunia. Ibaratnya orang yang meminum air laut, maka ia akan semakin haus, meski air laut itu terhampar seluas pandangan. Hingga mungkin, tanpa sempat berpikir, kita akan mati akibat tenggelam di dalamnya.
Kita akan selalu lelah dalam menghadapi dunia ini, jika standar kepuasannya diukur dari barometer keduniaan. Oleh karena itu, memang seseorang akan ada dalam keadaan yang paling tenang disaat ia berada dalam naungan asmaul husna Allah Azza wa Jalla. Saat dunia sejenak terpinggirkan dan digantikan dengan kedalaman makna asma dan sifat Allah Ta’ala.
Itulah pentingnya, ibadah harus sesuai dengan asma dan sifat Allah Azza wa Jalla. Semakin banyak ingatan kita tentang asma dan sifat Allah, maka akan semakin berwarnalah kebahagiaan jiwa kita.
Semakin besar jumlah hafalan dan pemahaman kita terhadap asma dan sifat Allah, maka akan semakin lapang hati kita memandang hidup ini. Semakin melebar cakrawala pandang kita akan makna hidup dan ibadah yang perlu kita lakukan di dalamnya, orientasi hidup kita akan semakin cemerlang dan luas. Tidak lagi melulu uang. Obsesi pun akan berganti tentang bagaimana ibadah kita bisa diterima Allah Ta’ala. Karena, kita adalah mahluk ibadah yang butuh menyembah kepada Allah dan diterima ibadah kita oleh Allah. Orang yang sudah berorientasi kepada ibadah akan mengerti bahwa substansi hidup ini adalah diterimanya ibadah dan amal saleh yang kita lakukan, oleh Allah Azza wa Jalla.
Itulah perilaku hidup dan kesadaran spiritual yang akan dicapai oleh seseorang yang sudah memahami asma dan sifat Allah Swt. Nama dan sifat Allah yang melahirkan perbuatan-Nya yang suci dan takdir-takdir-Nya yang juga suci. Tidak ada yang salah dan tidak ada yang buruk dari apa yang sudah ditetapkan-Nya. Bagi seluruh hamba-Nya yang ada di semesta alam ini.
Maka, ibadah tertinggi adalah ibadah yang disesuaikan dengan nama dan sifat Allah Azza wa Jalla, sesuai dengan konteks hati dan situasi hidup seorang hamba. Jadi, jika kita ingin beribadah dengan sempurna, maka beribadahlah dengan berbasis asma dan sifat Allah Ta’ala. Karena, didalam nama-Nya-lah petunjuk bagaimana kita harus menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.*
