Bersihkan Hati Sebelum Berdoa

Oleh:
KH. Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قَالَ رَبِّ إِنِّىٓ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْـَٔلَكَ مَا لَيْسَ لِى بِهِۦ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِى وَتَرْحَمْنِىٓ أَكُن مِّنَ ٱلْخَٰسِرِينَ
“Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi.” (Surat Hud ayat 47).
Berdoa adalah bentuk kita meminta kepada Allah Azza wa Jalla. Mengapa kita harus membersihkan hati? Ketahuilah bahwa pentingnya membersihkan hati sebelum berdoa adalah supaya kita tidak menyesal dengan doa-doa yang kita minta sendiri. Mengapa menyesal? Karena, doa orang-orang yang tidak bersih hatinya pun akan salah. Dikemudian hari, kesedihannya pun karena doanya. Kecemasannya bertambah-tambah karena zikirnya pun keluar dari hati yang tidak bersih.
Misalkan saja Anda punya mobil hybrid. Suatu ketika Anda mengisi tangki mobil Anda dengan bensin yang campur-campur, apakah mobil Anda bisa berjalan? Bisa, tetapi dengan resiko akan mogok di jalan. Meski pun saat itu tangki mobil terisi penuh. Oleh karena itu, meskipun hati dipenuhi dengan zikir dan doa, tetapi kondisi hati dalam keadaan kotor, maka kecemasan tetap menjadi-jadi. Zikir dan doa kita hanya akan memperpanjang kesedihan.
Doa Nabi Nuh
Pertanyaannya kemudian adalah doa seperti apa yang kita panjatkan agar doa kita tidak berujung pada kesedihan? Doa apa yang mesti dibaca agar tidak justru mewujud menjadi kesedihan. Sekaligus, ingat-ingatlah, doa seperti apa yang dulu pernah kita minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Mari belajar dari doa yang dipanjatkan Nabi Nuh dalam surat Huud ayat 47, dimana Nabi Nuh Alaihissalam berkata bahwa beliau memohon kepada Allah untuk berlindung dari sesuatu yang tidak diketahui hakikatnya. Dan, jika Allah tidak mengampuninya, maka sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang rugi.
Nabi Nuh ketika itu meminta agar anaknya yang sulung diselamatkan oleh Allah Azza wa Jalla. Dia berkata, “Sesungguhnya dia adalah anakku.” Perkataan ini memang benar adanya dan logis, tetapi sungguh bukan ini yang dimaui Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena, selama ini jelas-jelas anak sulung Nabi Nuh adalah penentang dakwah ayahnya yang keras. Allah hendak menggantikan untuk Nuh Alaihissalam anak-anak yang shalih yang kelak akan mendukung dakwahnya.
Walau sekilas terlihat logis, tetapi apa yang dilakukan oleh Nuh as ini kemudian dicela oleh Allah Azza wa Jalla. Dimana salahnya? Kesalahan Nuh Alaihissalam terletak pada hatinya yang dibutakan rasa cinta kepada anaknya. Yang kedua, dia tidak sampai hati melihat orang yang dicintainya hanyut terbawa arus. Padahal anaknya jelas menentang ajakan ayahnya. Bahkan di detik-detik terakhirnya pun dia tetap memilih untuk mencari gunung yang tertinggi yang dikiranya dapat menyelamatkan dari azab.
Nuh kemudian meminta tolong agar Allah mau menyelamatkan anaknya, tetapi permohonan ini ditolak karena anaknya termasuk orang kafir dan sealu menyulitkan dakwah Nabi Nuh. Di sinilah kita belajar bahwa kadangkala rasa yang kita anggap baik, ternyata menjerumuskan diri sendiri.
Oleh karena itu, bila hati kita sedang kotor, jangan meminta yang tidak kita ketahui hakikatnya kepada Allah Ta’ala. Jangan sampai apa yang kita minta justru akan mengantarkan kita pada kesedihan. Baik dalam urusan karier, jodoh, bisnis, atau apa pun. Jangan sampai kita menyesali apa yang kita minta kepada Allah. Meski ini adalah sesuatu yang diminta sampai setengah memaksa, sejak kita masih sekolah, kuliah, maupun belajar. Maka, berhati-hatilah dalam berkeinginan atau bercita-cita. Oleh karena itu, Nabi Nuh berdoa, “…sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi.”
Oleh karena itu, Allah mengajari kita melalui kisah Nabi Nuh ini, bahwa jangan engkau minta sesuatu yang engkau tidak ketahui ilmunya. Kadang kalau kita ada maunya, tidak bisa berpikir panjang, langsung saja menyatakan keinginan di hadapan Allah Azza wa Jalla. Padahal ketika mau meminta tolong kepada orang, kita pasti berpikir-pikir terlebih dulu. Namun, mengapa ketka meminta kepada Allah seringkali kita mau tidak berpikir panjang?
Seperti ketika saya ingin “mengopi di rumah tetangga”, di Timur Tengah sana. Di dekat rumahnya ada mall terbesar di dunia, juga ada menara tertinggi di dunia. Sepertinya apa yang ada di dalam mall tersebut adalah trendsetter untuk seluruh produk yang ada di dunia. Sayangnya, tak banyak yang tahu bahwa belum tentu yang dipajang di toko yang ada di dalam mall tersebut adalah produk yang laku dibeli masyarakat. Bisa jadi hanya pajangan belaka. Dan, fenomena ini banyak kita temui di mall-mall seluruh dunia. Ada barang-barang atau display toko yang digunakan untuk memamerkan barang yang sekadar untuk dipajang saja. Sama sekali bukan barang yang laku dibeli konsumen.
Semata-mata karena barang itu mahal, barang branded, yang tujuannya hanya sekadar untuk menaikkan gengsi toko dan pengusahanya. Sehingga orang-orang terdorong mengejar barang tersebut karena berlabel “limited edition”. Padahal, sebenarnya barang itu tidak ada yang beli. Nah, begitulah juga dengan apa yang kita inginkan atau cita-citakan. Jangan hanya sekadar “itu adalah sesuatu” yang dianggap berkelas oleh masyarakat kemudian kita menginginkannya. Namun, kita tidak tahu apa sebenarnya sesuatu itu bagus dan baik untuk diri kita.
Akhirnya doa saya ketika itu hanya satu, doa minta kemudahan urusan agar segala urusan menjadi jelas baik dan buruknya.
Yaa Hayyu Yaa Qayyum, bi-rahmatika as-taghiits, wa ash-lih lii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ain. “Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku, dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).”
Allah yang Pertama
Ada pepatah Arab yang artinya, “Apabila kamu sudah bertekad maka sembunyikanlah”. Mengapa? Karena tidak semua orang menyukai apa yang kita inginkan. Tidak semua orang mendukung. Namun, yang paling penting disini, jangan lebih dahulu mengutarakan ide, target, atau proyeksi kepada manusia, tetapi utarakanlah terlebih dahulu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Agar Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan perlindungan-Nya kepada kita.
Pernah ada orang yang sedang dalam keadaan sangat terpuruk, berbicara tentang hidupnya. Diluar dugaan, dia berkata, “Mungkin ini adalah akibat dari doa-doa saya yang telah lalu.”
Selanjutnya apa yang dia lakukan, tak lain adalah istighfar. Ini luar biasa. Apa yang terjadi pada diri kita hari ini, bisa jadi adalah karena permintaan kita sendiri di masa yang telah lalu. Permintaan yang kita ajukan kepada Allah Ta’ala tanpa mengkonfirmasikannya terlebih dahulu kepada Allah, apakah ini permintaan yang benar dan permintaan yang baik untuk hari depan kita.
Semoga ini menjadi reminder buat kita, bahwa jangan sampai dzikir kita dan doa yang kita baca – karena tidak bersih hati kita dan tidak bersih niat kita, ditambah minimnya pengetahuan kita terhadap perkara itu– menjadi sebab kita mendulang kesedihan di kemudian hari. Ingatlah bahwa yang paling mengerti dan memahami yang akan kita hadapi sepanjang perjalanan hidup di dunia ini, hanyalah Allah Azza wa Jalla.
Jangan ragu untuk segera meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Juga jangan bimbang untuk meninggalkan apa yang membuat hati meragu, bila itu terkait dengan syariat-Nya. Yakinlah, barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.
“Ya Allah, aku memohon kebaikan kepada-Mu semua kebaikan yang baik untukku, di duniaku sampai akhiratku. Ya Allah, aku juga memohon perlindungan kepada-Mu dari semua yang buruk untukku, di duniaku dan di akhiratku.”*