Arti Penciptaan Bumi

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولًا فَٱمْشُوا۟ فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا۟ مِن رِّزْقِهِۦ ۖ وَإِلَيْهِ ٱلنُّشُورُ
“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk ayat 15).
Surat ini mengandung beberapa poin penting:
Pertama, perintah pada kita sebagai hamba untuk mensyukuri nikmat Allah yang menjadikan bumi sebagai planet tempat tinggal kita dan bukan planet lain atau asteroid. Dan, Allah sudah mudahkan bumi untuk kamu berjalan dan beraktivitas di atasnya. Sebagaimana Allah Ta’ala mengingatkan kita di dalam surat An-Naba ayat 6.
أَلَمْ نَجْعَلِ ٱلْأَرْضَ مِهَٰدًا
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?”
Kedua, minal mahdi ilal lahdi. Sebagai buaian, sebagai tempat kamu dari bayi hingga dewasa dan mati nanti. Supaya buaian ini tidak berguncang, maka dipasangkanlah pasak berupa gunung-gunung agar kamu merasa tenang. Allah Azza wa Jalla melanjutkan pada ayat 7
وَٱلْجِبَالَ أَوْتَادًا
“Dan, gunung-gunung sebagai pasak?”
Ketiga, sebagai tempat beribadah dan beraktivitas, Allah menurunkan berbagai fasilitas yang akan membuat manusia hidup dengan tentram dan sejahtera di bumi. Sebagaimana firman-Nya dalam Sura Al-Baqarah ayat 22.
ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ فِرَٰشًا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءً وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا۟ لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”
Juga dalam Surat An-Nazi’at ayat 30.
وَٱلْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَىٰهَآ
“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.”
Keempat, sebagai tempat untuk menyusuri jejak keagungan dan kekuasaan Allah Ta’ala.
وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ بِسَاطًا
“Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu.” (QS. Nuh ayat 19)
Kelima, bumi diciptakan untuk mewarnai dan memperkaya mindset kita. Sebagaimana dalam surat Ghafir ayat 64, “Allah-lah yang menjadikan bumi untukmu sebagai tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentukmu lalu memperindah rupamu serta memberimu rezeki dari yang baik-baik. Demikianlah Allah, Tuhanmu, Maha Suci Allah, Tuhan seluruh alam.”
Bahwa Allah Azza wa Jalla telah memberikan tempat tinggal yang terbaik untuk kita. Langit sebagai naungan yang di dalamnya terdapat berbagai nikmat, di antaranya awan, matahari, hujan, petir, bulan, bintang-bintang, dan lain sebagainya. Kemudian Dia memberikan rezeki yang baik-baik dan rupa yang terbaik dari seluruh hamba-Nya yang lain.
Oleh karena itu, mindset kita haruslah positif, bersyukur dan bangga terhadap apa yang Allah karuniakan, serta pantang menyerah menghadapi berbagai ujian karena kitalah hamba-Nya yang diciptakan sebagai yang terbaik.
Keenam, Surat Al-Mursalat ayat 25-26 menerangkan bahwa bumi dijadikan tempat berkumpul bagi manusia yang mati dan yang hidup. Di akhirat, semua orang hidup. Hanya di bumi ini berkumpul manusia dalam keadaan mati dan hidup.
أَلَمْ نَجْعَلِ ٱلْأَرْضَ كِفَاتًا
أَحْيَآءً وَأَمْوَٰتًا
“Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul, orang-orang hidup dan orang-orang mati?” (QS Al-Mursalat ayat 25-26).
Dijadikannya kita hidup sementara ada orang-orang yang sudah mati bersama kita adalah pelajaran yang Allah Ta’ala berikan agar kita dapat hidup dengan mempersiapkan amal terbaik sebelum menjemput kematian. Agar kita melihat bagaimana kematian itu terjadi, bagaimana kita memperlakukan mereka yang sudah wafat, dan bagaimana kita harus berbekal untuk menghadapi maut.
Ayat-ayat tentang bumi ini harus kita syukuri dan hari ini kita bisa mendapatkan hikmah ayat-ayat ini adalah nikmat yang sangat besar.
Bumi Ini Persinggahan
Bayangkanlah Allah tidak menempatkan kita di bumi. Namun, di sebuah asteroid. Maka pasti kita tidak akan hidup dengan tenang karena cemas dengan tabrakan atau pecahnya asteroid yang kita tempati karena gesekan di luar angkasa. Semoga kita senantiasa terhindar dari musibah. Ingatlah bahwa musibah terbesar dalam hidup adalah rusaknya agama yang kita pegang teguh. Seperti tidak takutnya kita kepada Allah. “Ya Allah, janganlah engkau jadikan musibah dalam hidupku dalam masalah agama.” Musibah dunia sesungguhnya tidaklah kekal. Semua akan berganti-ganti begitu saja. Namun, musibah agama akan membuat hidup kita tidak bahagia di dunia dan tidak selamat di akhirat.
Setelah Allah gambarkan betapa mudahnya bumi dijadikan tempat tinggal untuk kita, Allah perintahkan kita untuk berjalan menjejahi bumi untuk memahami bahwa segala kehidupan di dunia ini akan berakhir dan sementara. Semua yang ada di bumi pastilah memiliki ujung ketiadaan. Sebagaimana seseorang yang menunggangi kuda untuk melakukan perjalanan, maka sadarilah bahwa bumi atau kehidupan ini hanyalah persinggahan.
Dunia ini hanyalah terminal persinggahan, maka jangan habiskan umur kita hanya untuk mengurus urusan dunia. Jadilah orang-orang yang cerdas manakala hidup di dunia. Ambillah apa yang kita butuhkan saja. Jangan kejar apa yang kita inginkan, kita akan gila. Semakin banyak kita hirup dunia ini, maka akan semakin haus kita. Itulah tabiat dunia.
Orang-orang yang menggunakan dunianya untuk akhiratnya. Yang menggunakan apa yang dimilikinya untuk urusan yang terkait dengan akhiratnya; di dunianya akan selalu cukup dan bahagia dengan nikmat yang tidak terkira di akhiratnya. Karena dunia mengandung dzat yang membuat “tenggorokanmu” selalu kering, jiwamu gersang, dan “perutmu” tak pernah kenyang.
Makanlah apa yang Allah sudah siapkan di muka bumi ini. Imam An-Nawawi dalam kitabnya mengatakan hendaknya ummat Islam/ negara-negara Muslim dapat memproduksi kebutuhannya sendiri terutama kebutuhan pangan. Agar tidak bergantung pada orang lain dan tidak bergantung pada negara lain. Karena, Allah memerintahkan untuk makan dari apa yang sudah dikaruniakan oleh-Nya. Bukan mencari apa yang diinginkan dan diangankan oleh nafsunya. Imam Nawawi menganjurkan kepada umat Islam untuk bekerja keras dan mengingatkan bahwa seharusnya umat Islam makan dari apa yang dihasilkan oleh kedua tangannya.
Bumi ini diciptakan mudah untuk manusia. Dihamparkan dan dijadikan langit sebagai naungannya, ditumbuhkan-Nya berbagai tanaman dan diciptakan berbagai binatang ternak yang melayani dan mencukupkan nutrisi. Disempurnakannya penciptaan kita dan diberikan-Nya rezeki yang baik-baik. Tak lain agar kita selalu ingat kepada-Nya, sebagai Pencipta, Raja, dan Sembahan. Sebagai tempat pulang sekaligus mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan. Dialah Allah, pusat dari tujuan dan makna dari penciptaan langit dan bumi.*