Tadabbur

Jangan Mudah Menghakimi

Ilustrasi

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

 

DALAM kehidupan sehari-hari, kita sering berhadapan dengan perbedaan karakter, sikap, dan pilihan manusia. Di tengah interaksi itu, prasangka terkadang datang begitu mudah. Melihat satu keburukan seseorang, kita tergoda untuk segera memberikan penilaian.

Bahkan, kesalahan satu orang bisa merembet kepada keluarga, orang tua, nasab, suku, hingga kelompok tempat ia berada. Seolah-olah kesalahan seseorang menjadi cermin bagi semua orang yang memiliki hubungan dengannya.

Padahal, Alquran memberikan pelajaran penting tentang bagaimana seharusnya kita memandang manusia. Dalam tadabbur Surah As-Saffat ayat 113,  mengingatkan kita bahwa di antara keturunan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ishak AS terdapat orang-orang yang berbuat baik, tetapi ada pula yang menzalimi dirinya sendiri.

Allah SWT berfirman, “Dan Kami limpahkan keberkatan atasnya (Ibrahim) dan atas Ishak. Dan di antara keturunannya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.”

Ayat ini mengajarkan bahwa hubungan nasab tidak serta-merta menjadikan seseorang baik atau buruk. Dalam satu keluarga, bisa ada orang saleh dan ada pula yang melakukan kezaliman. Karena itu, ayat tersebut semestinya menjadi pengingat agar kita tidak menjadikan nasab sebagai alasan untuk menghakimi seseorang.

Setiap manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Alquran menegaskan prinsip keadilan itu dalam Surah Al-An’am ayat 164: “Dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”

Karena itu, janganlah kesalahan seorang ayah otomatis dibebankan kepada anaknya. Jangan pula keburukan seorang anak dijadikan alasan untuk merendahkan orang tuanya. Seseorang tidak menjadi buruk hanya karena berasal dari keluarga tertentu, sebagaimana seseorang tidak otomatis menjadi baik hanya karena memiliki leluhur yang saleh.

Di sinilah pentingnya menghindari kebiasaan memukul rata atau menggeneralisasi. Satu orang melakukan kesalahan, bukan berarti seluruh keluarganya buruk. Satu anggota kelompok melakukan kekeliruan, bukan berarti semua anggota kelompok tersebut memiliki kesalahan yang sama.

Begitu pula dengan suku, komunitas, organisasi, bahkan lingkungan pergaulan. Kita sering lupa bahwa manusia adalah pribadi yang memiliki pilihan dan tanggung jawab masing-masing.

Kebiasaan menggeneralisasi juga dapat membuat kita terjebak dalam penilaian yang tidak adil. Kita merasa sudah memahami seseorang hanya karena mengetahui latar belakang keluarganya atau kelompoknya. Padahal, belum tentu apa yang kita sangka sesuai dengan kenyataan.

Terlebih di era media sosial. Informasi bergerak begitu cepat. Potongan video, tangkapan layar, percakapan grup WhatsApp, dan unggahan media sosial sering kali diterima sebagai kebenaran sebelum diperiksa secara utuh.

Karena itu, seorang Muslim perlu belajar menahan diri. Jangan sampai jari kita lebih cepat daripada pikiran. Jangan sampai lisan kita mendahului fakta. Apalagi sampai merasa mampu membaca isi hati seseorang hanya berdasarkan dugaan.

Alquran mengajarkan pentingnya sesuatu yang mubin, yakni jelas dan terang. Apa yang kita nilai sebaiknya bersandar pada sesuatu yang benar-benar diketahui, bukan sekadar kabar, prasangka, atau potongan informasi.

Sebab, boleh jadi apa yang terlihat buruk di mata kita belum menggambarkan keseluruhan cerita.

Pada akhirnya, ayat-ayat Allah seharusnya menjadi cermin bagi diri sendiri. Ia bukan meteran untuk mengukur kesalahan orang lain, apalagi martil untuk memukul mereka yang tidak sesuai dengan penilaian kita.

Semakin banyak kita belajar tentang agama, semestinya semakin lembut pula cara kita memandang manusia.

Kita belajar melihat dengan rahmah. Belajar berpikiran terbuka. Belajar memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memperbaiki diri. Sebab, manusia bukan makhluk yang berhenti pada masa lalunya. Selama hayat masih dikandung badan, selalu ada kesempatan untuk bertaubat, berubah, dan menjadi lebih baik.

Bisa jadi orang yang hari ini kita anggap buruk, esok justru lebih dekat kepada Allah daripada kita. Maka, sebelum menghakimi orang lain, barangkali ada pertanyaan yang lebih penting untuk kita ajukan kepada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar adil Wallahu a’lam bish-shawab.*

Exit mobile version