Akhlak Orang Beragama

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” Qs. Al-Mauun ayat 1-7
Kata kunci dari ayat-ayat di atas adalah kepekaan dan kepedulian sosial. Kepedulian sosial ini menjadi bagian dari ibadah kita.
Salah satu dari indikasi dari orang-orang yang memiliki iman terhadap hari akhir, selamat dengan shalatnya, ikhlas, dan beramal terbaik. Jadi jelas, kepedulian di dalam Islam tidaklah sebatas humanity, tidaklah sebatas charity, atau solidarity belaka. Namun, akhlak sosial ini berkait erat dengan hari pembalasan. Inilah pula yang diformulasikan sebagai akhlaknya orang beragama.
Yatim dan Dhuafa
Objeknya adalah kelompok masyarakat yang paling rentan. Yang terbagi menjadi dua kategori besar, yakni yatim dan miskin. Perbedaannya adalah yatim memiliki kerentanan disisi psikis dan tak jarang juga fisik berupa materi. Sementara miskin, rentan di sisi fisik yaitu ketidakmampuan untuk makan dan hidup secara layak.
Kembali pada dua kategori besar di atas, yakni yatim dan miskin. Ukuran kepedulian seseorang dalam Al-Quran tidak menggunakan angka, tetapi menggunakan barometer Al-Mauun yang berarti barang yang berharga. Berharga bagi kita dan berharga bagi orang-orang terdekat di sisi kita. Mengapa orang-orang terdekat?
Karena, kitalah yang mengetahui apa yang paling berharga untuk mereka saat ini. Rasulullah saw juga bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah
Untuk orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, teori bahkan jargon agama bukanlah hal yang penting. Bagi mereka, sefasih apa pun seseorang bicara tentang agama, tetapi orang tersebut tetap tidak peduli dengan keadaan si miskin di hadapannya, maka semuanya adalah omong kosong belaka. Oleh karena itu, memang barometernya adalah tindakan nyata yang dapat kita lakukan untuk mereka. Yaitu, memberi makan dan mengajak orang lain memberi makan kepada mereka.
Berbeda dengan anak-anak yatim. Untuk mereka yang lebih tepat mungkin adalah kata kepekaan sosial. Oleh karena itu, bahasa ayatnya adalah “menghardik” yang imbasnya lebih besar pada kondisi mental.
Mereka tidak hanya butuh uluran tangan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka karena belum bisa bekerja menghasilkan uang, tetapi juga kebutuhan psikis mereka sebagai anak. Berupa rasa aman, kasih sayang, dan pendidikan.
Perintah untuk memuliakan anak yatim, sejatinya adalah perintah untuk meringankan beban psikis mereka. Bukan malah mengeksploitasi status mereka untuk membantu mendapatkan apa yang kita inginkan. Seperti yang seringkali kita lihat. Fenomena dimana anak-anak yatim diundang dan disuruh mendoakan kita; setelah kita memberi mereka manakanan dan uang alakadarnya.
Dampak Shalat
Fenomena kepekaan dan kepedulian sosial inilah yang kemudian dihadapkan langsung pada sejauh mana efek shalat kita pada tindakan produktif untuk mereka. Shalat yang sifatnya personal dan transenden, harus dibuktikan efek positifnya dengan akhlak orang tersebut pada area sosial. Di luar pelaksanaan shalat.
Ini sudah tidak lagi di ranah diskusi apalagi hanya sekadar literasi. Namun, sudah pada ranah praktik nyata yang dapat dilakukan untuk dapat membuat kehidupan saudara kita sesama muslim yang yatim dan dhuafa menjadi lebih baik. Sehingga kita tidak hanya nyaman dengan ibadah ritual, tetapi juga berlomba-lomba dalam ibadah sosial.
Allah Azza wa Jalla mencela kita sebagai orang yang lalai dalam shalat, ini sebenarnya menggedor hati kita untuk mengevaluasi, sejauh mana dampak identitas dan ibadah kita sebagai muslim. Karena dalam surat Al-Ma’uun, ukuran benar atau tidaknya dan lalai atau tidaknya shalat kita, salah satunya terdapat pada manfaat shalat kita pada dua kelompok rentan sosial. Yatim dan miskin.
Para ulama kemudian menyimpulkan bahwa hendaknya kita harus selalu ikhlas beribadah. Sehingga kita bisa terbebas dari segala macam kebebalan jiwa dan kekerasan hati dalam menjalani perintah-perintah Allah Azza wa Jalla, baik yang bersifat ritual maupun yang bersifat sosial. Sehingga kita bisa menjalankan perintah Allah dengan khusyu’ dan ikhlas. Sehingga kita dapat mengerjakan amal-amal shaleh yang bergengsi serta memiliki manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh orang-orang di sekitar kita, terutama kaum muslimin.
Buktikanlah manfaat shalatmu dengan menunaikan zakat dan sedekah. Karena sungguh, pelit dalam berzakat sama dengan mencelakakan diri sendiri. Dan, pelit bersedekah berarti keluar dari naungan perlindungan Allah Ta’ala.
Kepekaan dan kepedulian sosial ini menjadi sangat penting untuk segera kita mulai saat ini. Dimulai dari orang-orang terdekat di sekitar kita, terutama keluarga. Di tahun-tahun mendatang, resesi ekonomi akan semakin terasa dampaknya. Hanya perlindungan Allah Ta’ala dan pertolongan-Nya saja yang akan membuat kita mampu bertahan dalam iman untuk menjalani kehidupan.
Hingga kemudian, tetap menjadi muslim yang taat pada perintah-Nya, dalam keadaan lapang maupun sempit.
Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Islam bagaimanakah yang baik?” Beliau menjawab, “Kamu memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal.” (HR. Bukhari dan Muslim).*