Tiga Energi Ayah Mengubah Arah Keluarga

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
KELUARGA yang kokoh tidak dibangun oleh suara yang paling keras, melainkan oleh hati yang paling dekat dengan Allah SWT. Seorang ayah memang memegang peran sebagai pemimpin keluarga, tetapi kepemimpinan itu tidak lahir dari kemarahan, gengsi, atau keinginan untuk selalu ditaati. Kepemimpinan sejati tumbuh dari keteladanan, kelembutan, dan kedekatan kepada Sang Pencipta.
Para ulama mewariskan nasihat berharga tentang tiga energi perubahan yang patut dimiliki setiap ayah. Tiga energi ini bukan sekadar teori, melainkan bekal untuk membangun rumah tangga yang bermartabat dan penuh keberkahan.
Energi pertama adalah memperbaiki hubungan dengan Allah SWT. Sebelum mengubah pasangan atau anak-anak, seorang ayah hendaknya lebih dahulu memperbaiki dirinya di hadapan Allah. Sebab, hati yang dekat dengan-Nya akan dipenuhi keikhlasan, kebijaksanaan, dan ketenangan dalam mengambil keputusan.
Allah SWT berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2-3).
Hubungan yang baik dengan Allah menghadirkan sakinah dalam rumah tangga. Ketika ketenangan itu hadir, nasihat seorang ayah tidak lagi terasa sebagai paksaan, melainkan menjadi teladan yang menggerakkan hati seluruh anggota keluarga.
Energi kedua adalah memperbaiki sisi dalam diri. Perubahan sejati tidak dimulai dari penampilan luar atau sikap yang dibuat-buat. Anak-anak sangat peka melihat ketulusan. Mereka mampu membedakan mana kasih sayang yang lahir dari hati dan mana yang hanya menjadi sandiwara sesaat.
Karena itu, seorang ayah perlu menumbuhkan dua kekuatan utama dalam dirinya, yaitu mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang). Ketika cinta dan kasih sayang memenuhi hati, tutur kata menjadi lembut, keputusan menjadi bijaksana, dan kehadiran seorang ayah menghadirkan rasa aman bagi keluarganya.
Jika kedekatan kepada Allah melahirkan sakinah, maka cinta dan kasih sayang menjadi cahaya yang menerangi hubungan di dalam rumah. Dari sanalah perubahan lahir secara alami, tanpa perlu dipaksakan.
Energi ketiga adalah memprioritaskan kepentingan akhirat. Rumah tangga yang hanya mengejar urusan dunia akan mudah diliputi kecemasan. Sebaliknya, keluarga yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utama akan lebih mudah mensyukuri nikmat dan mengendalikan keinginan.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.” (HR. Ibnu Majah).
Orientasi akhirat akan membentuk gaya hidup yang sederhana, penuh syukur, dan jauh dari sikap berlebihan. Kebutuhan dunia tetap diusahakan, tetapi tidak menjadi tujuan utama kehidupan.
Menjadi ayah bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi keluarga. Menjadi ayah adalah menjadi penunjuk arah, pembawa ketenangan, sekaligus teladan dalam mendekatkan keluarga kepada Allah SWT.
Semoga setiap ayah diberi kekuatan untuk membangun hubungan yang semakin dekat dengan Allah, memperbaiki hati dengan cinta dan kasih sayang, serta mengarahkan keluarganya menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Aamiin.*