Parenting

Kuatnya Keluarga Dimulai dari Sajadah

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS Ath-Thur: 21).

Al-Qur’an punya pandangan yang sangat indah tentang keluarga. Dalam pandangan Allah, keluarga bukan sekadar orang-orang yang terikat darah atau tinggal serumah, tapi lebih dari itu, keluarga adalah institusi ilahiah. Di dalamnya ada ikatan iman, kasih sayang, dan tanggung jawab untuk saling menuntun menuju kebaikan.

Salah satu tanggung jawab terbesar dalam keluarga adalah menegakkan shalat. Tidak semua keluarga mampu menjaga hal ini dengan sungguh-sungguh. Bahkan anak-anak yang sudah sekolah di lembaga Islam pun, kadang masih harus diingatkan berkali-kali agar mau shalat tepat waktu.

Lucunya, kalau urusan makan, semua langsung kompak. Ajak makan bareng, semua semangat. Soal kuliner, waktu dan uang bisa disisihkan tanpa banyak pikir. Padahal, kalau dipikir-pikir, makanan itu ujung-ujungnya juga akan keluar dalam bentuk yang… ya, ingin cepat-cepat kita lupakan.

Sementara shalat, itulah yang benar-benar, menghubungkan kita dengan Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Shalat jadi cermin dari kehidupan kita: seberapa taat, disiplin, dan konsisten kita menjalankan perintah Allah. Shalat juga menjadi teladan nyata bagi anak-anak, bagaimana mereka belajar dari apa yang mereka lihat di rumah setiap hari.

“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka…” (QS Ath-Thur: 21).

Apa yang kita contohkan kepada anak akan jadi cahaya dalam hidup mereka. Anak yang melihat orang tuanya teguh shalat, insya Allah tumbuh jadi anak yang kuat, yakin, dan tidak mudah goyah.

Anak yang setiap hari melihat ayahnya berdiri tegak dalam shalat akan belajar tentang keteguhan. Ia tahu, imam yang memimpin shalat di rumah bukan hanya ayahnya, tapi juga gambaran kecil dari kepemimpinan besar di bawah naungan Allah. Ia belajar bahwa dalam hidup ini, seberat apa pun masalahnya, ada pelindung yang selalu bisa ia andalkan, ayah di rumah, dan Allah yang Maha Kuasa di atas segalanya.

 

Jangan Lelah Mengajak Shalat

“Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu…” (QS Thaha: 132).

Allah mengingatkan kita untuk terus menegakkan shalat dan mengajak keluarga melakukannya. Tapi kuncinya: bersabar.

Kadang anak malas, kadang orang tua lelah. Tapi jangan berhenti. Temani mereka shalat, ajari dengan lembut kalau masih salah, dan tetap istiqamah meski sedang sakit atau sibuk. Karena setiap shalat yang kita tegakkan dengan sabar adalah investasi besar, bukan cuma untuk akhirat, tapi juga untuk ketenangan hidup di dunia.

 

Jalan Rezeki yang Sebenarnya

Di akhir ayat tadi, Allah menegaskan, “Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.”

Artinya, shalat bukan penghalang datangnya rezeki. Justru sebaliknya, shalat adalah pintu pembuka rezeki.

Kita sering berpikir rezeki itu hasil kerja keras, bisnis, atau profesi kita. Padahal, semua itu hanya jalan, yang menentukan hasil akhirnya tetap Allah. Lihatlah kisah Siti Hajar. Ia berlari antara Shafa dan Marwah untuk mencari air bagi Ismail kecil, tapi air zamzam justru keluar di kaki sang bayi, bukan di tempat ia berlari. Allah ingin menunjukkan bahwa rezeki memang harus diupayakan, tapi tetap berada di tangan-Nya.

Kalau kita paham hal ini, kita jadi lebih tenang. Rezeki bukan sekadar uang atau harta, tapi juga ketenangan, kesehatan, waktu bersama keluarga, anak yang saleh, dan hati yang lapang.

 

Teladan Rasul untuk Keluarga

Rasulullah ﷺ juga mencontohkan hal yang sama kepada keluarganya. Beliau tidak selalu memberikan harta, meski mampu. Saat Fatimah r.a. meminta pembantu untuk membantu pekerjaan rumah, Rasulullah tidak memberinya, tetapi mengajarkan dzikir: membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 33 kali setelah shalat dan sebelum tidur.

Beliau ingin mengajarkan bahwa kemudahan dan kekuatan sejati datang dari Allah. Ketaatanlah yang membawa keberkahan, bukan semata kenyamanan dunia.

Keluarga yang kokoh bukan dibangun dengan harta, tapi dengan iman.

Dan iman itu tumbuh dari rumah yang terbiasa mendengar adzan, melihat ayah berdiri tegak dalam shalat, dan anak-anak yang perlahan belajar mencintai ibadah, bukan karena dipaksa, tapi karena mereka melihat teladannya setiap hari.