Parenting

Generasi Saleh Lahir dari Rumah yang Bertakwa

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

 

SETIAP orang tua tentu mendambakan keturunan yang saleh dan salihah. Anak-anak yang menjadi penyejuk pandangan dan hati, qurrata a’yun, serta tumbuh sebagai generasi yang kuat dalam iman dan amal. Namun, harapan tersebut tidak cukup diwujudkan dengan doa dan angan-angan. Ada ikhtiar yang harus ditempuh dan sunnatullah yang perlu dipahami.

Alquran memberikan gambaran tentang bagaimana Allah SWT menganugerahkan keturunan mulia kepada Nabi Ibrahim AS. Dalam Surah Ash-Shaffat ayat 112, Allah SWT berfirman, “Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.”

Kabar gembira itu datang setelah Nabi Ibrahim AS melewati ujian keimanan yang sangat berat. Ketika beliau menunjukkan ketundukan mutlak kepada perintah Allah SWT untuk mengorbankan putra tercintanya, Allah SWT memberikan jalan keluar sekaligus menganugerahkan keturunan yang mulia.

Ishaq AS bahkan telah diberi kabar sebagai seorang nabi yang termasuk golongan orang-orang saleh. Dari keturunannya kemudian lahir Yaqub AS. Rangkaian generasi mulia itu menunjukkan bahwa kesalehan keluarga bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari ketundukan dan ketakwaan yang dibangun sejak generasi sebelumnya.

Di sinilah pentingnya kepemimpinan takwa dalam keluarga.

Allah SWT mengabadikan doa Ibadurrahman dalam Surah Al-Furqan ayat 74:

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

Menariknya, doa tersebut tidak hanya meminta pasangan dan keturunan yang menyejukkan hati. Setelah itu terdapat permohonan agar diri mereka dijadikan pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.

Pesan ini mengajarkan bahwa qurrata a’yun tidak dapat dilepaskan dari kualitas kepemimpinan orang tua. Anak yang saleh tidak cukup diharapkan; ia perlu dibentuk dalam lingkungan keluarga yang menjadikan ketakwaan sebagai nilai utama.

Rumah tangga karena itu bukan sekadar tempat tinggal, melainkan madrasah pertama bagi anak-anak. Ayah dan ibu adalah pemimpin sekaligus teladan. Mereka tidak cukup meminta anak rajin shalat jika dirinya sendiri lalai. Tidak cukup menuntut anak berkata lembut jika komunikasi di rumah dipenuhi kemarahan. Tidak cukup menginginkan anak mencintai Alquran jika orang tua jarang berinteraksi dengannya.

Keteladanan jauh lebih kuat daripada sekadar perintah.

Sebaliknya, keluarga akan menghadapi persoalan ketika kepemimpinan dibangun di atas ego. Orang tua menuntut kepatuhan tanpa menghadirkan ketundukan kepada Allah SWT. Musyawarah ditinggalkan, sementara kemarahan dijadikan cara mendidik. Rumah akhirnya berubah menjadi tempat kekuasaan, bukan tempat tumbuhnya ketakwaan.

Alquran telah memberikan prinsip yang tegas. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 124, Allah SWT berfirman bahwa janji kepemimpinan-Nya tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim. Artinya, kepemimpinan yang kehilangan nilai ketakwaan tidak akan melahirkan keberkahan yang diharapkan.

Karena itu, orang tua harus terlebih dahulu memperbaiki dirinya sebelum terlalu sibuk menuntut anak-anaknya. Kesalehan yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya harus terlebih dahulu hidup dalam perilaku orang tua.

Kepemimpinan takwa juga merupakan investasi untuk masa depan. Allah SWT mengingatkan dalam Surah An-Nisa ayat 9 agar orang-orang beriman merasa khawatir apabila meninggalkan generasi yang lemah.

Kelemahan itu tentu tidak hanya berkaitan dengan ekonomi. Anak yang memiliki materi berlimpah belum tentu menjadi generasi yang kuat. Kekuatan sejati juga tercermin dalam akidah yang lurus, ilmu yang bermanfaat, akhlak yang baik, serta ibadah yang kokoh.

Sebab, dunia yang akan dihadapi anak-anak kelak penuh dengan ujian. Jika fondasi akidahnya rapuh, ia akan mudah terombang-ambing. Jika ilmunya lemah, ia mudah kehilangan arah. Jika ibadahnya tidak terjaga, ia akan kesulitan menemukan sandaran ketika menghadapi persoalan kehidupan.Maka, para orang tua hendaknya memimpin keluarga dengan keteladanan, bukan semata-mata dengan amarah. Ajarkan ketakwaan melalui perilaku sehari-hari. Bangun rumah yang di dalamnya shalat dihormati, Alquran dicintai, ilmu dihargai, musyawarah dibiasakan, dan kasih sayang menjadi bahasa utam

Bagi anak-anak, menjadi keturunan yang saleh juga merupakan bentuk bakti kepada orang tua. Ketika datang menemui mereka, hadirkan kebahagiaan dan solusi, bukan hanya membawa persoalan. Jadilah anak yang membuat orang tua bersyukur, bukan terus-menerus khawatir.

Pada akhirnya, keluarga saleh tidak lahir dari kebetulan. Ia lahir dari doa yang terus dipanjatkan, keteladanan yang terus diberikan, dan kepemimpinan yang senantiasa tunduk kepada Allah SWT.

Semoga Allah SWT mengaruniakan kepada kita keluarga yang bertakwa, pasangan dan keturunan yang menjadi qurrata a’yun, serta generasi yang kuat dalam iman, ilmu, akhlak, dan amal. Wallahu a’lam bishawab.*

Exit mobile version