Parenting

Mewariskan Kesalehan hingga Anak Cucu

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

 

SETIAP mukmin tentu mendambakan keturunan yang saleh. Kerinduan itu tercermin dalam doa Nabi Ibrahim AS. Ketika beliau memohon kepada Allah SWT, “Rabbi hab li minash-shalihin”—“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang termasuk orang-orang saleh”—Allah SWT menjawabnya dengan karunia yang bahkan melampaui harapannya.

Ibrahim AS dianugerahi Ismail AS yang dikenal lembut dan penyabar. Setelah itu, Allah SWT memberikan kabar gembira tentang kelahiran Ishaq AS, seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh (QS as-Saffat: 112).

Kisah ini mengajarkan kepada kita tentang pentingnya standar mutu dalam pengabdian. Ketika seorang hamba meminta sesuatu kepada Allah dengan orientasi kualitas, maka ikhtiar untuk meraihnya pun semestinya dilakukan dengan itqan—kesungguhan dan profesionalitas—serta ihsan, yakni melakukan yang terbaik karena mengharap ridha Allah SWT.

Melibatkan Allah dalam setiap ikhtiar kehidupan membuat kita tidak mudah goyah oleh penilaian manusia. Sebab, ukuran keberhasilan seorang mukmin bukan semata-mata apa yang terlihat di mata manusia, melainkan bagaimana amal itu bernilai di hadapan Allah SWT.

Namun, Alquran sekaligus memberikan pengingat agar manusia tidak terjebak dalam kebanggaan nasab. Dalam QS as-Saffat ayat 113 disebutkan bahwa Allah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan Ishaq. Akan tetapi, dari keturunan mereka kelak ada yang berbuat baik dan ada pula yang menzalimi dirinya sendiri.

Pesannya sangat jelas: kesalehan tidak otomatis diwariskan melalui darah dan nasab.

Menjadi anak dari orang tua saleh adalah sebuah karunia, tetapi bukan jaminan keselamatan. Menyandang nama besar keluarga tidak cukup jika tidak disertai iman, ketakwaan, dan amal saleh. Kesalehan harus diperjuangkan oleh setiap individu.

Karena itu, pendidikan keluarga dalam Islam membutuhkan visi yang jauh lebih panjang daripada sekadar membesarkan anak agar menjadi pribadi yang baik. Dalam QS Hud ayat 71, Allah SWT tidak hanya memberikan kabar gembira kepada Ibrahim AS tentang kelahiran Ishaq, tetapi juga tentang Ya’qub yang akan menjadi keturunannya.

Di sinilah kita menemukan visi keluarga lintas generasi.

Ketika mendidik anak, target kita seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan: “Apakah anak saya sudah menjadi anak yang saleh?” Lebih jauh, kita perlu bertanya: “Apakah pendidikan yang saya berikan hari ini akan membuatnya kelak mampu menjadi orang tua yang saleh dan mendidik generasi setelahnya?”

Dengan demikian, pendidikan keluarga sejatinya merupakan proses training of trainers. Kita tidak hanya mempersiapkan seorang anak untuk menghadapi zamannya, tetapi juga membekalinya agar mampu menjadi pendidik bagi generasi sesudahnya.

Ayah dan ibu hari ini sedang membentuk calon ayah dan ibu bagi cucu-cucunya kelak. Rumah yang kita bangun hari ini boleh jadi akan menjadi fondasi bagi keluarga yang bahkan belum kita kenal.

Maka, jangan hanya mewariskan harta. Jangan hanya mewariskan nama baik. Jangan pula sekadar mewariskan pendidikan duniawi. Wariskanlah iman, akhlak, ilmu, keteladanan, dan kecintaan kepada Allah SWT.

Sebab, visi keluarga seorang mukmin tidak berhenti pada dirinya, bahkan tidak berhenti pada anak-anaknya. Ia membentang jauh hingga generasi berikutnya.

Semoga Allah SWT membimbing kita menjadi orang tua yang mampu melahirkan generasi saleh, lalu menjadikan generasi itu sebagai pendidik bagi generasi sesudahnya. Semoga keberkahan tidak hanya tinggal dalam satu keluarga, tetapi terus mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Exit mobile version