Alam Semesta, Keluarga, dan Tanggung Jawab Kesalehan

Oleh:
KH. Bachtiar Nasir
ALAM semesta adalah lembaran kitab suci yang terhampar. Bagi mata hati yang jernih, tidak ada satu pun ciptaan Allah SWT yang luput dari pesan-pesan Ilahiah. Hujan yang membasahi tanah kering hingga menumbuhkan biji-bijian dan kurma yang bermayang-mayang merupakan tamsil yang dekat tentang hari kebangkitan. Allah SWT menghidupkan bumi yang mati. Demikian pula Dia berkuasa membangkitkan manusia dari kuburnya untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya.
Ketika menengadah ke langit, lapis-lapis cakrawala yang sempurna tanpa cacat mengajarkan tentang keagungan Sang Pencipta. Burung-burung yang mengepakkan sayap di udara, air tawar yang menyegarkan dahaga, hingga api yang dapat dinyalakan dari pepohonan hijau, semuanya menjadi tanda betapa manusia bergantung sepenuhnya kepada rahmat Allah SWT.
Karunia alam semesta itu sekaligus mengandung amanah. Nikmat yang kita terima harus berjalan seiring dengan tanggung jawab kepada Allah dan sesama manusia. Tanggung jawab itu terutama dimulai dari benteng pertahanan terkecil bernama keluarga.
Alquran mengingatkan dengan tegas, “Quu anfusakum wa ahlikum naara” — jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Pesan dalam Surah At-Tahrim ayat 6 ini menunjukkan bahwa menjaga keluarga bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi. Lebih jauh, orang tua bertanggung jawab menjaga iman, akhlak, dan keselamatan jiwa anak-anaknya.
Tugas tersebut semakin berat di tengah derasnya ujian zaman. Tidak sedikit anak tumbuh dengan kerinduan terhadap sosok yang dapat menjadi tempat berteduh dan figur keteladanan. Dalam kondisi tertentu, ketidakhadiran atau lemahnya peran ayah dapat meninggalkan ruang kosong dalam perjalanan jiwa seorang anak.
Di sinilah kita dapat belajar dari Ibrahim AS, Abul Anbiya, bapak para nabi. Pendidikan generasi saleh tidak pernah dilepaskan dari doa. Ibrahim AS memohon, “Rabbi hab li minash-shalihin” — Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku anak yang termasuk orang-orang saleh.
Doa menjadi senjata penting orang tua dalam mendidik anak. Sebab, hati anak bukan semata-mata wilayah yang dapat ditaklukkan dengan nasihat dan aturan. Hidayah berada dalam genggaman Allah SWT. Karena itu, ikhtiar mendidik harus selalu disertai permohonan agar Allah membimbing hati dan langkah anak-anak kita.
Bagi anak-anak yang kehilangan figur ayah, lingkungan yang baik dan hadirnya para pendidik yang penuh keteladanan menjadi sangat penting. Mereka membutuhkan sosok yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan kasih sayang, kedisiplinan, akhlak, dan doa.
Seorang pendidik sejati bukan sekadar penyalur ilmu. Ia adalah bagian dari ikhtiar menghadirkan hidayah. Karena itu, setiap ilmu yang diberikan hendaknya dibingkai dengan keteladanan dan doa. Kekosongan jiwa seorang anak dapat dijaga dengan mendekatkannya kepada lingkungan yang saleh dan figur-figur yang mencerminkan akhlak generasi didikan Rasulullah SAW.
Kesalehan pribadi dan keluarga pada akhirnya tidak boleh berhenti di dalam rumah. Ia harus memancar menjadi kesalehan sosial dan menghadirkan manfaat bagi bangsa.
Indonesia yang memasuki usia kemerdekaan ke-81 patut disyukuri bukan hanya dengan seremoni dan gegap gempita. Rasa syukur harus diwujudkan dalam kepedulian yang nyata. Semangat berbagi, membantu sesama, dan mendistribusikan kebutuhan masyarakat, termasuk makanan dan sembako, merupakan bagian dari upaya memperkuat persaudaraan.
Bangsa yang masyarakatnya saling peduli akan memiliki fondasi sosial yang kuat. Ketika kebutuhan dasar masyarakat diperhatikan dan hati mereka dipertautkan oleh rasa syukur serta persaudaraan, bangsa ini akan menjadi bangunan kokoh yang tidak mudah dipecah-belah oleh berbagai narasi yang menyesatkan.
Maka, membaca tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta seharusnya membawa kita pada kesadaran akan amanah. Menjaga diri, mendidik keluarga, mendoakan generasi, dan peduli kepada masyarakat adalah rangkaian kesalehan yang tidak dapat dipisahkan.
Sebab, manusia yang benar-benar memahami nikmat Allah tidak hanya pandai mengucapkan syukur, tetapi juga mampu mengubah syukur menjadi amal yang menghadirkan kebaikan bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Wallahu a’lam bish-shawab.