Ustadz Bachtiar Nasir Menjawab Tentang Nisfu Sya’ban

SurabayaNetwork.id – Bulan Ramadhan akan datang dalam hitungan hari dan masyarakat Indonesia sudah mempersiapkan banyak hal untuk menyambutnya.
Karena seperti kita ketahui, Bulan Ramadhan menjadi bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Muslim di dunia termasuk Indonesia.
Hal ini disebabkan adalah karena di Bulan Ramadhan inilah segala rahmat dan keberkahan dari-Nya datang.
Amalan mendapat ganjaran pahala berlipat ganda. Berbagai cara mengekspresikan kegembiraan akan datangnya bulan suci Ramadhan.
Ada tradisi sebagian masyarakat yang melakukan tradisi Nisfu Sya’ban.
Ustadz Bachtiar Nasir menjawab tentang Nisfu Sya’ban menjelang bulan Ramadhan yang ditulis dalam bukunya yang berjudul “Anda Bertanya Kami Menjawab” Seorang jamaah yang bernama Wardi dari Jambi bertanya tentang apa yang dimaksud dengan Nisfu Sya’ban? Apa yang sepatutnya dilakukan pada malam Nisfu Sya’ban tersebut? Dan apakah ada hadistnya?
Disinilah Ustadz Bachtiar Nasir menjawab bahwa Nisfu Sya’ban artinya pertengahan Bulan Sya’ban yang telah menjadi tradisi sekelompok masyarakat Muslim Indonesia dan melakukan ibadah-ibadah tertentu secara bersama-sama di dalam masjid pada malam Nisfu Sya’ban.
Memang ada riwayat yang shahih yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw banyak melakukan puasa di Bulan Sya’ban.
Hal ini seperti tertuang dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Aisyah berkata:
Tidaklah aku melihat Rasulullah Saw menyempurnakan puasa satu bulan kecuali bulan Ramadhan. Dan aku menyaksikan bulan yang paling banyak beliau Shallallahu alaihi wa sallam berpuasa (selain Ramadhan) adalah bulan Sya’ban. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam berpuasa selama bulan Sya’ban kecuali hanya sedikit (hari beliau tidak berpuasa, pen).”
Namun tidak ada satu dalilpun yang shahih menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam melakukan puasa khusus Nisfu Sya’ban atau melakukan shalat khusus dengan jumlah rakaat tertentu pada malam Nisfu Sya’ban.
Jika ada, yang melakukan ritual khusus pada malam Nisfu Sya’ban maka itu dari beberapa kalangan tabi’in dari Syam, mereka yaitu Khalid bin Ma’dan dan Makhul dengan dalil yang digunakan hanyalah hadits yang lemah dan untuk kepentingan fadha’ilul a’mal.
Sebagaimana hadist berikut dilemahkan oleh Imam Bukhari, Aisyah berkata, “Suatu malam aku kehilangan Nabi Shalallahu alaihi wassalam, , aku pun mencarinya dan ternyata beliau ada di Baqi’. Menengadahkan kepalanya di langit, beliau lalu bersabda, “Wahai Aisyah , apakah engkau takut, Allah dan RasulNya akan mengurangi (haknya) atasmu? Ia menjawab. Aku telah mengatakan tidak, hanya saja aku khawatir engkau mendatangi salah seorang dari istrimu.”Beliaupun bersabda, “Sesungguhnya pada pertengahan malam Sya’ban Allah turun ke langit dunia lalu mengampuni orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bulu kambing (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)
Dalam hadits ini ada Hajjaj bin Arthah yang berstatus “mudallas” menurut Imam Bukhari.
Tentu saja hal ini bukan untuk mengurangi semangat beribadah pada siang dan malam di Bulan Sya’ban sebagaimana bulan-bulan lainnya. Perbanyaklah ibadah-ibadah sunnah sebagaimana dicontohkan Rasulullah dalam riwayat Bukhari diatas,
Namun hindari ritual-ritual khusus yang dikerjakan bersama-sama dengan cara cara tertentu karena disinilah titik khilafiyah atau perbedaan pendapatnya.
Wallahu a’lam bish shawab*
