Berita

Menjadi Pemuda Pejuang Al-Aqsha

“Sekarang ini diperlukan generasi Shalahuddin Al-Ayyubi dan Umar bin Khattab untuk membela Baitul Maqdis,” demikian KH Bachtiar Nasir membuka kuliah umum di Kampus Tadabbur Al-Qur’an Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Ar-Rahman di Jonggol, 9 Januari 2024. Pagi itu di kampus STIQ Ar-Rahman diadakan Stadium Generale Tadabbur Al-Qur’an Surah Al-Isra. Tema yang diusung adalah “Menjadi Pemuda Pejuang Al-Aqsha”.

Seperti kita ketahui perang di Gaza yang sampai hari ini masih berkecamuk membuka mata generasi muda akan pentingnya pembelaan pada Baitul Maqdis. Tentu kesadaran ini akan tergugah jika generasi muda mempelajari dan mentadabburi ayat-ayat dalam Surah Al-Isra.

Lebih lanjut KH Bachtiar Nasir dalam memberikan kuliah umum kemarin menjelaskan bagaimana Allah telah memilih Baitul Maqdis sebagai pusat perjuangan sejak zaman para Nabi.

Allah yang memilih Baitul Maqdis di Bumi Syam menjadi tempat yang istimewa.

Nabi Ibrahim Alaihissalam diangkat menjadi pemimpin di Baitul Maqdis, bukan di tempat kelahirannya melainkan di Baitul Maqdis.

Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam menjadi imam para Nabi bukan di Masjidil Haram atau di Masjid Nabawi, melainkan di Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis. Allah-lah yang pilihkan beliau menjadi imam di Baitul Maqdis.

Perjuangan para Nabi begitu berat. Bagaimana Nabi Ibrahim ketika suatu momen agung, ujian-ujian dihadapi sebab ujian datang dari Allah. Ujian saat ke Hijaz, lalu kembali ke Syam juga bukanlah hal mudah.

Nabi Musa ketika dihanyutkan ke sungai, dan kakak perempuannya mengawalnya dari tepi sungai sampai akhirnya ke istana Fir’aun. Berapa lama sang kakak dan ibu Nabi Musa harus menyimpan rahasia besar bahwa bayi yang dibedakan Fir’aun adalah adik dan anak mereka? Berapa lama Nabi Musa baru menyadari bahwa sebenarnya dia adalah keturunan Bani Israil? Juga bagaimana Nabi Musa mengadakan kaumnya, Bani Israil yang selalu membangkang?
Semua itu penuh perjuangan.

Bahkan kelak Dajjal pun dikalahkan oleh Isa Al-Masih di Baitul Maqdis.

Hal yang bisa ditangkap oleh generasi muda adalah, dengan tadabbur Al-Qur’an Surah Al-Isra, akan menguatkan tauhid dan kekuatan tekad untuk membela Baitul Maqdis.

Baitul Maqdis pasti akan merdeka. Sekarang pun rakyat Palestina umumnya, dan Gaza khususnya juga menjadi warga yang merdeka. Ukuran atau standar merdeka adalah sikap sebuah bangsa. Merdeka yang sesungguhnya adalah La ilaha illallah wahdahu la syarikalah lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumitu wahuwa ala kulli syai-in qadir.

(Tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian).

Pembukaan Surah Al-Isra adalah tasbih.

سُبْحٰنَ الَّذِيْۤ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَ قْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَا ۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”

(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 1)

Inti perjuangan adalah tauhid. Awal surah Al-Isra adalah dengan ungkapan tasbih kepada Allah, mensucikan Allah. Ini berarti kita dianjurkan banyak bertasbih. Akan banyak hal yang tidak bisa kita jangkau akhirnya bisa terjadi atas izin Allah lewat bertasbih.

Membela Baitul Maqdis tentu tidak bisa dipisahkan dengan Surah Al-Isra, dan Al-Qur’an.