Artikel

Usaha Mengubah Takdir

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

 

SETIAP orang pasti akan dibalas sesuai dengan usahanya, sesuai dengan ikhtiarnya. Ingat pula bahwa semua usaha, semua ikhtiar tidak ada satu pun yang sia-sia. Apalagi jika kita anggap gagal. Buanglah jauh-jauh konsep gagal.

Jika kita pernah merasa gagal 100 kali, dan itu fakta kita rasakan, maka kebalikan faktanya bahwa itu semua sejatinya bukan kegagalan. Tetapi sebuah pengalaman berharga. Boleh jadi 100 kali kegagalan yang kita rasakan hanyalah anak-anak tangga ke 100 untuk mencapai cita-cita yang sudah kita rencanakan.

Konsep usaha atau konsep ikhtiar tidak semua satu banding satu. Dalam Alquran ada sebuah konsep satu banding 700. Itu yang disebut dengan infak atau sedekah. Ada konsep usaha dalam agama kita.

Usaha berbanding tak terhingga. Adalah sebuah langkah yang harus kita capai bersama. Maka, jika semua konsep-konsep niat usaha itu sudah selesai di dalam pikiran kita, tinggal kita masuk konsep takdir.

Konsep takdir di dalam agama kita bukanlah konsep yang mati atau tidak berubah. Ada doa yang bisa mengubah takdir. Takdir kita yang sesungguhnya kenapa dirahasiakan Allah Ta’ala? Dicatat di lauhul mahfudz. Dan tidak dibuka buat kita semua.

Tentu itu memberikan peluang untuk kita senantiasa berusaha. Berusaha juga untuk mengubah takdir kita. Seperti Umar bin Khattab berkata: di tengah pendemi, berada di sebuah lingkungan pendemi, lalu terisolir dan harus mengisolasi diri, para sahabat dilarang keluar agar mereka tidak menyebarkan virus. Pandangan Umar ini dalah konsep yang harus kita lewati pada awalnya, dan tidak keluar dari wilayah isolasi dan tidak menyebarkan keburukan agar takdir buruk tidak menyebar.

Inilah sebuah usaha. Sementara, mereka yang berada di luar wilayah isolasi diminta jangan masuk dalam rangka mengubah takdir. Saat itulah Umar bin Khattab ketika didebat oleh sahabat: kenapa engkau berusaha lari dari takdir? Maka Umar menjawab: aku berpindah dari satu takdir ke takdir yang lebih baik.*

Exit mobile version