Menjaga Marwah Guru dan Ulama, Saatnya Kita Belajar Lagi tentang Adab

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
BEBERAPA waktu terakhir, dunia pendidikan Indonesia kembali disorot publik. Bukan karena prestasi, tapi karena dua peristiwa yang menimbulkan kehebohan nasional.
Pertama, tayangan di sebuah televisi nasional yang dianggap menyinggung dan merendahkan Pondok Pesantren Lirboyo—salah satu pesantren besar di Indonesia. Tayangan itu menuai kritik luas, karena dinilai tidak menghormati ulama dan lembaga pendidikan Islam.
Kedua, kasus di Lebak, Banten, di mana seorang kepala sekolah menampar siswanya yang ketahuan merokok di sekolah. Kasus ini langsung viral, dilaporkan ke polisi, memicu aksi mogok siswa, dan berujung pada pencopotan sementara sang kepala sekolah, yang akhirnya dikembalikan lagi ke posisinya setelah situasi mereda.
Dua peristiwa ini menjadi cermin betapa rapuhnya keseimbangan antara menegakkan disiplin dan menjaga marwah pendidikan. Guru dan pendidik memang punya tanggung jawab membentuk karakter siswa, tapi kekerasan, sekecil apa pun, tidak bisa dibenarkan. Di sisi lain, masyarakat juga perlu memahami bahwa mendidik kadang butuh ketegasan, bukan hanya kelembutan.
Guru dan Ulama, Pewaris Para Nabi
Dalam pandangan Islam, guru bukan sekadar profesi. Mereka adalah pewaris para nabi (waratsatul anbiya’). Tugas mereka bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan akhlak dan membimbing umat menuju jalan yang diridai Allah.
Allah berfirman dalam QS. Al-Mujadalah [58]: 11, “Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Artinya, orang yang berilmu menempati posisi mulia. Maka memuliakan guru dan ulama bukan karena pribadi mereka, tetapi karena ilmu yang mereka bawa, cahaya yang menerangi kehidupan kita.
Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Tidak termasuk umatku orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak mengasihi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak orang alim.” (HR. Ahmad)
Jika penghormatan kepada ulama hilang, maka hilanglah bimbingan ilmu dan berkah keteladanan.
Adab, Kunci Keberkahan Ilmu
Para ulama terdahulu begitu menjunjung tinggi adab terhadap guru. Imam Asy-Syafi‘i, misalnya, begitu menghormati gurunya Imam Malik hingga ketika membalik lembaran kitab, beliau melakukannya dengan sangat pelan agar tidak mengganggu.
Beliau juga pernah berpesan, “Bersabarlah atas kerasnya sikap seorang guru, karena ilmu itu justru menetap dalam ketegasannya. Barangsiapa tidak merasakan pahitnya belajar sesaat, ia akan meneguk kehinaan kebodohan sepanjang hidupnya.”
KH. Hasyim Asy‘ari pun memberi nasihat yang terkenal, “Barang siapa yang tidak menghormati gurunya, tidak akan pernah sukses selamanya.”
Betapa besar peran adab dalam perjalanan ilmu. Ilmu tanpa adab adalah kesombongan, adab tanpa ilmu adalah kebodohan.
Tanggung Jawab Bersama
Dari dua kasus viral tadi, kita belajar bahwa menjaga marwah pendidikan bukan hanya tugas guru, tapi juga tanggung jawab semua pihak, guru, murid, orang tua, dan media.
Pertama, bagi para pendidik, jadilah teladan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya aku diutus sebagai seorang guru.” (HR. Ibnu Majah)
Guru harus mendidik dengan hati, bukan emosi. Ketegasan boleh, tapi harus dibalut dengan kasih sayang dan kebijaksanaan.
Kedua, bagi murid dan orang tua, hormatilah guru. Jangan sedikit-sedikit lapor ke polisi. Konflik pendidikan seharusnya diselesaikan lewat musyawarah, bukan media sosial. Bila hubungan guru-murid rusak karena ego dan emosi, keberkahan ilmu pun hilang.
Ketiga, bagi media dan masyarakat, berhati-hatilah dalam menyebarkan berita. Islam mewajibkan tabayyun, klarifikasi sebelum menilai. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuanmu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6)
Narasi yang salah bisa merusak marwah pesantren dan ulama. Padahal, pesantren adalah benteng moral bangsa.
Ada nasihat tajam dari Hasan bin Żakwān rahimahullah, “Jangan engkau menyebut aib para ulama, karena Allah bisa mematikan hatimu.”
Begitulah bahayanya mencela orang alim. Bukan mereka yang rugi, tapi hati kita sendiri yang mengeras dan kehilangan cahaya hidayah.
Menjaga kehormatan guru dan ulama bukan sekadar etika sosial, tapi juga ibadah. Karena dari merekalah Allah menyalurkan ilmu dan keberkahan.
Mari kita rawat kembali rasa hormat dan kasih kepada para pendidik. Mari kita hidupkan kembali budaya tabayyun dan adab sebelum bicara. Dan mari kita doakan agar Allah menjaga para ulama, kyai, guru, serta semua lembaga pendidikan Islam di negeri ini agar mereka terus menjadi pelita bagi bangsa. Marwah guru dan ulama adalah cermin kemuliaan umat. Jika kita menjaganya, Allah akan menjaga kita.*
