Artikel

Krisis Sudan dan Cermin Hawa Nafsu Manusia

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,  “Bersabarlah bersama orang-orang yang senantiasa berdoa dan mengingat Tuhan di pagi dan sore hari demi ridha-Nya. Jangan palingkan pandanganmu dari mereka hanya karena mengejar gemerlap dunia. Jangan pula ikuti orang yang hatinya lalai dari mengingat Kami dan menuruti hawa nafsunya, karena hidupnya pasti melampaui batas.” (QS. Al-Kahfi: 28).

Sudan, negeri di Afrika Timur itu, hingga hari ini masih dilanda perang saudara yang seolah tak menemukan ujung. Sejak meletus pada April 2023, konflik yang melibatkan dua kekuatan militer besar di negeri itu telah berubah menjadi bencana kemanusiaan yang luar biasa.

Data terakhir mencatat 150 ribu orang meninggal dunia, jauh melampaui jumlah korban yang gugur di Gaza yang mencapai 67 ribu jiwa. Dalam waktu lebih dari dua tahun, sekitar 12 juta warga Sudan terpaksa meninggalkan rumah dan kampung halamannya. Mereka hidup berpindah-pindah tanpa kepastian, tanpa makanan cukup, tanpa rasa aman.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut perang di Sudan sebagai salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia. Sekitar 24 juta warga Sudan kini mengalami kelaparan akut. Angka itu bukan sekadar statistik, di baliknya ada anak-anak yang kehilangan orang tuanya, para ibu yang kehilangan harapan, dan keluarga yang terpecah karena peluru dan bom yang tak pernah berhenti meledak.

Kekacauan ini bermula ketika rezim Omar Al-Bashir jatuh pada tahun 2019. Saat itu, kelompok milisi Rapid Support Forces (RSF) yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo, lebih dikenal dengan nama Hemedti, ikut berperan dalam menumbangkan rezim lama. Namun setelah itu, RSF menolak bergabung dengan militer nasional yang dipimpin oleh Jenderal Abdel Fattah Al-Burhan.

Kedua jenderal ini awalnya adalah sekutu yang sama-sama menggulingkan kekuasaan sipil pascarezim Bashir. Namun, setelah kekuasaan berada di tangan mereka, persahabatan berubah menjadi persaingan. Ambisi politik dan ketakutan kehilangan kendali membuat hati mereka tertutup dari nurani.

Hemedti, yang memiliki pengaruh besar di sektor ekonomi dan militer, tidak rela kehilangan kekuasaannya. Ia memilih mengangkat senjata melawan Al-Burhan. Perang pun pecah, meluluhlantakkan harapan rakyat Sudan yang sudah terlalu lama hidup dalam penderitaan.

Kini, negeri itu porak-poranda. Di kota Al-Fasher, misalnya, lebih dari 2.000 orang tewas, sementara 177 ribu warga terjebak tanpa jaminan keamanan dan tanpa makanan. Gambar-gambar dari citra satelit menunjukkan gundukan tanah luas, diduga kuburan massal, dan genangan darah di mana-mana.

Yang lebih menyedihkan, konflik ini tidak lagi murni urusan dalam negeri. Ada dugaan campur tangan dari negara-negara luar. Hemedti disebut-sebut mendapat dukungan dari Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, dan Israel, meski pihak-pihak itu membantahnya. Sementara Al-Burhan mendapat sokongan dari Iran dan Turki.

Perang yang berlangsung lebih dari dua tahun ini menambah daftar panjang kelam sejarah Sudan. Dan seperti biasa, yang paling menderita adalah rakyat kecil, mereka yang tak pernah tahu mengapa perang ini dimulai, tapi harus menanggung akibatnya.

 

Belajar Bersyukur

Melihat tragedi yang menimpa Sudan, kita patut merenung dan bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla. Di negeri ini, Indonesia, kita masih hidup dalam kedamaian. Kita bisa beribadah dengan tenang, bekerja dengan aman, dan berkeluarga tanpa rasa takut.

Kedamaian ini tentu tidak datang begitu saja. Ia adalah buah dari perjuangan panjang para tokoh bangsa yang mengorbankan segalanya demi kemerdekaan dan ketenteraman umat. Mereka adalah M. Natsir, Buya Hamka, Panglima Besar Soedirman, Syafruddin Prawiranegara, Kasman Singodimedjo, dan banyak lagi pejuang besar lainnya.

Para tokoh ini berjuang dengan tulus, tanpa pamrih. Mereka berjuang bukan untuk kekuasaan atau kekayaan, melainkan demi kebebasan umat untuk beribadah dan menegakkan nilai-nilai kebenaran. Bahkan, dalam hidupnya mereka jauh dari kemewahan. Banyak di antara mereka yang hidup sederhana, bahkan di bawah standar “layak” menurut ukuran masyarakat biasa.

Namun justru dari kesederhanaan itulah lahir keikhlasan dan keteguhan. Mereka tidak takut kehilangan jabatan, tidak takut miskin, dan tidak khawatir akan dilupakan. Karena bagi mereka, yang terpenting adalah ridha Allah Azza wa Jalla dan kemaslahatan umat.

Coba bandingkan dengan banyak tokoh di masa kini, betapa mudahnya orang tergoda oleh kekuasaan, jabatan, dan harta. Betapa banyak yang rela mengorbankan prinsip, bahkan rakyatnya sendiri, demi mempertahankan posisi. Padahal, pemimpin sejati adalah mereka yang sudah menundukkan hawa nafsunya, bukan yang ditundukkan oleh nafsu.

 

Menundukkan Nafsu, Menjaga Jiwa

Inilah pelajaran besar yang tersirat dalam surat Al-Kahfi ayat 28. Allah Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk bersabar, tetap bersama orang-orang yang selalu mengingat-Nya, dan tidak berpaling dari mereka hanya karena tampilan dunia yang memukau.

Godaan dunia memang tidak pernah habis. Siapa pun yang sudah merasakan manisnya kekuasaan, biasanya sulit kembali pada kesederhanaan. Yang sudah terbiasa dihormati akan berat menerima kehidupan biasa. Yang sudah mencicipi nikmat harta akan susah berlapang dada ketika kehilangan.

Begitulah sifat nafsu. Ia licik dan halus. Ia memikat hati dengan janji-janji manis, membuat mata kita silau oleh gemerlap dunia, dan perlahan menjerat jiwa hingga lupa arah. Jika dibiarkan, ia akan menjadi penguasa yang menuntun kita pada kebinasaan.

Karena itu, orang-orang beriman diajarkan untuk bersabar. Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi tetap teguh di jalan yang benar meski dunia menawarkan seribu jalan pintas. Sabar berarti menahan diri ketika nafsu mulai menguasai, dan tetap rendah hati meski punya kesempatan untuk berkuasa.

Berhentilah menuruti nafsu yang tidak ada ujungnya. Ia tidak akan pernah puas. Hari ini ingin sedikit, besok ingin lebih, lusa ingin segalanya. Padahal ujungnya hanyalah kesedihan. Nafsu hanya akan menertawakan kita ketika akhirnya kita menangis karena ulahnya sendiri.

 

Tetaplah Bersama Orang-Orang yang Tulus

Dalam kehidupan, kita sering tergoda untuk berpaling dari orang-orang yang sederhana, hanya karena penampilan mereka tidak meyakinkan, kata-katanya polos, atau pandangan hidupnya dianggap ketinggalan zaman. Padahal, bisa jadi merekalah orang-orang yang dekat dengan Allah Azza wa Jalla, yang hatinya tenang, dan yang mampu menjaga kesucian jiwa.

Allah Azza wa Jalla mengingatkan, “Jangan palingkan pandanganmu dari mereka hanya karena menginginkan perhiasan dunia.” Pesan ini sangat relevan di masa sekarang, di mana segala hal diukur dari materi, jabatan, dan popularitas.

Jangan mudah percaya pada janji orang-orang atau negara yang datang dengan tawaran mulia. Bisa jadi, di balik janji itu tersembunyi kepentingan yang justru menjerumuskan. Berhati-hatilah terhadap bujuk rayu kekuasaan, karena tidak sedikit bangsa yang hancur bukan oleh musuh dari luar, tetapi oleh kerakusan dari dalam.

Tetaplah bersama orang-orang yang tulus mengingat Allah Azza wa Jalla setiap pagi dan sore. Mereka mungkin sederhana, ucapannya polos, hidupnya bersahaja, tetapi dari merekalah kita belajar arti ketenangan dan kesucian jiwa.

Bersabarlah, karena kesabaran bukan sekadar menahan diri dari marah atau kecewa, tapi juga kemampuan untuk tetap berada di jalan yang benar ketika dunia menawarkan seribu godaan. Di sanalah kemenangan sejati berada, ketika kita mampu mengalahkan diri sendiri.*

Exit mobile version