Lepas Jilbab Demi Mendapatkan Pekerjaan

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ustaz, saya ingin mengisahkan tentang seorang anak perempuan yang dalam keluarganya hanya dia yang memakai jilbab. Suatu ketika, setelah gadis ini lulus SMK, dia mencari kerja tapi belum dapat. Kemudian ibunya mendapatkan pekerjaan untuk putrinya , tetapi untuk bekerja di tempat itu jilbabnya harus dilepas. Gadis ini tidak mau melepaskan jilbabnya, tetapi ibunya terus memaksa putrinya untuk membuka jilbabnya. Apa yang harus dilakukan gadis ini?
Hamba Allah.
Jawab:
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Sebagai muslim, kita meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan dan membentangkan razeki bagi setiap makhluk-Nya, bahkan untuk binatang dan tumbuh-tumbuhan.
وَكَأَيِّن مِّن دَابَّةٍ لَّا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّـهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surat al-‘Ankabut [29]: 60).
Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menyuruh kita untuk berusaha dan bekerja dengan niat ibadah kepada-Nya dan dengan cara yang halal dan tidak bertentangan dengan ketentuan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Surat Al-Jumu’ah [62]: 10).
Kita juga meyakini bahwa hidup ini penuh dengan ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk melihat keteguhan kita dalam beriman dan kesabaran kita dalam menjalani hidup ini sesuai dengan aturan dan tuntunan Allah. Allah Ta’ala telah menegaskan:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Surat Al-Ankabut [29]: 2).
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Surat Al-Mulk [67]: 2).
Dalam hal ini, Alhamdulillah gadis ini tetap teguh berpegang pada hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menutup auratnya. Memang kita harus selalu berusaha dan berjuang untuk tetap berada dalam tuntunan dan ajaran Islam yang mulia agar umur kita di dunia ini berkah. Kita memang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya agar patuh dan berbuat baik kepada orang tua kita. Tetapi hal itu hanya berlaku dalam ketaatan kepada Allah SWT.
Namun, jika orang tua kita menyuruh kita melakukan hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, maka wajib bagi kita untuk tidak mentaatinya dan menolaknya dengan cara yang baik serta menjelaskan kepada mereka bahwa ini adalah hukum Allah, yang tidak boleh kita langgar. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengajarkan bagaimana seharusnya sikap kita terhadap orang tua yang menyuruh kita melakukan hal yang diharamkan Allah SWT.
وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Surat Luqman [31]: 15).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah SWT., sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebaikan. (Riwayat Bukhari dan Muslim).
عَنْ ابْنِ عُمَرَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنَّهُ قَالَ : عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ ، إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ
Daripada Abdillah ibnu Umar r.a. dari Rasulullah SAW.: Mendengar dan mentaati adalah tanggung atas setiap muslim sama ada perkara yang ia suka atau tidak (benci) selagi ia tidak disuruh berbuat maksiat. Maka apabila disuruh mengerjakan perkara maksiat, maka perintah itu tidak boleh di dengar dan tidak boleh ditaati lagi.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Gadis ini harus tetap berpegang pada pendiriannya untuk tidak melanggar hukum Allah SWT. Sambil berusaha menjelaskan kepada orang tuanya dan meyakinkan mereka bahwa bekerja di tempat yang membuatnya tidak bisa menjalankan hukum agamanya itu tidak akan membawa rezeki yang berkah kepadanya. Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan akan memberikan rezeki bagi hamba-Nya yang bertaqwa dari jalan yang tidak disangka-sangkanya serta menegaskan bahwa setelah kesulitan itu pasti ada kemudahan.
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ ﴿٥﴾ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ ﴿٦﴾ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ ﴿٧
Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga). Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. (Surat Al-Lail [92]: 5-7).
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿٥﴾ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Surat Al-Syarh [94]: 5-6).
وَمَن يَتَّقِ اللَّـهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (Surat Ath-Thalaq [65]: 2-3).
Dalam memilih pekerjaan, kita harus memilih dan mencari perkerjaan serta tempat kerja yang memungkinkan kita untuk melaksanakan ibadah dan syiar-syiar agama Allah yang diwajibkan ke atas kita semua. Meskipun terkadang penghasilannya lebih sedikit dibandingkan pekerjaan atau tempat kerja yang lain. Karena nilai materi yang kita dapatkan tapi dengan meninggalkan kewajiban kita sebagai muslim itu tidak dapat dibandingkan dengan nilai ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Wallahu a’lam bish shawab.*
KH Bachtiar Nasir