Histeria Konser EXO, Potret Zaman Kita

AKHIR pekan ini, kawasan Senayan kembali menjadi pusat perhatian. Ribuan anak muda memadati Indonesia Arena untuk menyaksikan konser EXO PLANET #6 – “EXhOrizon”. Tiket yang habis dalam hitungan menit serta kepadatan lalu lintas yang mengharuskan pemerintah mengeluarkan imbauan khusus menunjukkan satu hal: daya tarik budaya populer hari ini begitu luar biasa kuat, terutama di kalangan Generasi Z.
Fenomena tersebut tentu tidak bisa dipandang semata sebagai peristiwa hiburan biasa. Ia adalah cermin zaman yang memperlihatkan ke mana arah perhatian, energi, waktu, dan bahkan pengorbanan generasi muda saat ini diarahkan. Di balik gemerlap panggung, terdapat pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar jumlah penonton atau besarnya nilai transaksi ekonomi yang tercipta.
Islam pada dasarnya tidak memusuhi seni maupun hiburan. Dalam batas tertentu, hiburan dapat menjadi sarana menyegarkan jiwa yang lelah setelah menjalani rutinitas kehidupan. Namun, kebolehan itu tidak berdiri tanpa syarat. Setiap aktivitas tetap harus berada dalam koridor syariat dan tidak menggeser prioritas utama seorang Muslim.
Persoalan muncul ketika sebuah hiburan berubah menjadi pusat orientasi hidup. Ketika seseorang rela menghabiskan tenaga, waktu, dan biaya yang tidak sedikit demi menghadiri sebuah konser, sementara kewajiban-kewajiban yang lebih mendasar justru terabaikan. Pada titik inilah diperlukan refleksi yang jujur dan mendalam.
Tidak sedikit orang yang rela mengantre berjam-jam, bahkan sejak pagi hari, demi memperoleh posisi terbaik di hadapan idolanya. Mereka menahan lapar, lelah, dan panas demi sebuah momen yang hanya berlangsung beberapa detik. Semangat seperti ini sesungguhnya mengagumkan, tetapi menjadi ironi ketika semangat yang sama tidak terlihat dalam menjalankan kewajiban kepada Allah SWT.
Di tengah hiruk-pikuk konser, waktu shalat sering kali berubah menjadi urusan nomor sekian. Ashar, Maghrib, bahkan Isya dapat terlambat atau terlewat karena seluruh perhatian tercurah kepada pertunjukan yang sedang berlangsung. Padahal, tidak ada satu pun kesenangan dunia yang sebanding nilainya dengan satu kali shalat yang dikerjakan tepat waktu.
Fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana budaya konsumsi bekerja secara sangat efektif. Pengeluaran jutaan rupiah untuk tiket, transportasi, akomodasi, hingga berbagai merchandise dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Sementara dalam kesempatan lain, mengeluarkan sebagian kecil harta untuk sedekah sering kali terasa berat dan membutuhkan banyak pertimbangan.
Fatamorgana Kebahagiaan Modern
Tentu setiap orang berhak menentukan bagaimana menggunakan uang hasil jerih payahnya. Namun Islam mengajarkan bahwa harta bukan sekadar alat pemuas keinginan, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, ukuran kebijaksanaan tidak hanya terletak pada kemampuan memperoleh harta, tetapi juga pada kemampuan mengelolanya secara proporsional.
Hal lain yang patut menjadi perhatian adalah fenomena pengidolaan yang semakin berlebihan. Mengagumi karya seseorang merupakan hal yang wajar. Akan tetapi, ketika kekaguman itu berubah menjadi keterikatan emosional yang melampaui batas, persoalannya menjadi berbeda. Tidak sedikit penggemar yang menangis histeris, kehilangan kendali diri, bahkan menganggap idolanya sebagai sumber utama kebahagiaan hidup.
Dalam perspektif Islam, sikap berlebihan terhadap manusia dikenal dengan istilah ghuluw. Sejarah menunjukkan bahwa berbagai penyimpangan besar sering kali bermula dari pengagungan yang tidak proporsional terhadap sesama manusia. Padahal, sehebat apa pun seorang selebritas, ia tetaplah manusia biasa yang memiliki keterbatasan dan kelemahan.
Lebih jauh lagi, budaya pengidolaan sering melahirkan kecenderungan imitasi tanpa batas. Cara berpakaian, gaya bicara, pola pikir, hingga nilai-nilai hidup seseorang perlahan dibentuk oleh figur yang dikaguminya. Akibatnya, identitas diri menjadi kabur dan standar kehidupan tidak lagi ditentukan oleh ajaran agama, melainkan oleh tren yang sedang populer.
Di sinilah tantangan terbesar yang dihadapi generasi Muslim hari ini. Mereka hidup di tengah banjir informasi dan budaya global yang bergerak sangat cepat. Tanpa fondasi keimanan yang kuat, seseorang dapat dengan mudah terseret arus dan kehilangan kompas moral yang seharusnya menjadi penuntun kehidupan.
Karena itu, kritik terhadap fenomena budaya populer tidak seharusnya dipahami sebagai kebencian terhadap anak muda. Justru sebaliknya, kritik lahir dari kepedulian agar generasi yang memiliki potensi besar ini tidak menghabiskan masa mudanya hanya untuk mengejar kesenangan yang sifatnya sementara.
Kita tentu tidak ingin melarang orang untuk bergembira. Islam adalah agama yang realistis dan memahami kebutuhan manusia akan hiburan. Namun kebahagiaan yang sejati tidak boleh diperoleh dengan mengorbankan kewajiban kepada Allah, melanggar batas-batas syariat, atau menjadikan manusia sebagai pusat orientasi hidup.
Pada akhirnya, panggung konser akan dibongkar. Lampu-lampu akan dipadamkan. Para artis akan kembali ke negaranya, dan euforia perlahan menghilang. Yang tersisa adalah diri kita sendiri beserta catatan amal yang kita bawa. Maka pertanyaan yang layak direnungkan adalah: setelah semua kemeriahan itu berakhir, apakah hati kita semakin dekat kepada Allah, atau justru semakin haus mengejar fatamorgana berikutnya?*
UBN Newsroom