Artikel

Ayat Alquran yang Sering Dipelintir Kelompok Liberal

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

 

MESKI secara representatif kelembagaan kelompok Islam liberal di Indonesia tidak sekuat awal-awal reformasi, namun secara pemikiran masih tetap kuat. Banyak orang yang tersusupi bahkan mengkampanyekan virus liberalisme di Indonesia. Mereka seringkali menggunakan ayat-ayat Alquran untuk diputarbalikan melalui penafsiran yang salah. Itu mereka lakukan untuk menggolkan misi mereka, menyesatkan umat dari ajaran Islam.

Adapun ayat Alquran yang sering dipelintir kalangan liberal diantaranya adalah:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَ‌ىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ‌ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُ‌هُمْ عِندَ رَ‌بِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah [2]: 62).

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَ‌ىٰ مَنْ آمَنَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ‌ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Maidah [5]: 69).

Mereka berlandaskan kepada ayat-ayat ini bahwa yang selamat itu bukan hanya umat Islam tapi juga kaum Yahudi dan Nasrani dan Sabi`in yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Padahal ayat itu adalah untuk umat-umat terdahulu yang tidak sampai ajaran Islam kepada mereka. Sedangkan bagi mereka yang risalah Islam sampai kepadda mereka maka berlaku ayat:

وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَن يُؤْمِنُ بِاللَّـهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّـهِ لَا يَشْتَرُ‌ونَ بِآيَاتِ اللَّـهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۗ أُولَـٰئِكَ لَهُمْ أَجْرُ‌هُمْ عِندَ رَ‌بِّهِمْ ۗ إِنَّ اللَّـهَ سَرِ‌يعُ الْحِسَابِ

Dan sesungguhnya diantara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya. (QS. Ali ‘Imran [3]: 199).

Begitu juga menjadikan ayat 129 dari surat An-Nisa` untuk melarang poligami:

وَلَن تَسْتَطِيعُوا أَن تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَ‌صْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُ‌وهَا كَالْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِن تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّـهَ كَانَ غَفُورً‌ا رَّ‌حِيمًا

Artinya:  Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Nisa` [4]: 129).

Karena dalam ayat ini jelas bahwa Allah SWT, mengatakan bahwa sesorang laki-laki tidak akan bisa berlaku adil. Padahal Ayat ini sebenarnya menegaskan bahwa keadilan yang mutlak dan sempurna antara istri-istri adalah sesuatu yang tidak mungkin dilakukan mengikut tabiat dasar manusia. Karena keadilan yang sempurna itu menuntut persamaan di antara semua istri dalam semua hal termasuk kecenderungan dalam hati dan syahwat seksual dan hal itu di luar kuasa manusia, karena biasanya ia lebih mencintai salah satu daripada yang lainnya dan lebih cenderung kepada salah satunya daripada yang lain, dan hati manusia ada di tangan Allah yang bisa dibolak-balikannya sesuai kehendak-Nya.

Dan ayat yang mereka jadikan dalil ini sendiri yang membantah pendapat mereka, di mana kalau mereka mentadabburinya maka mereka akan menemukan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan poligami dengan syarat bisa adil. Kemudian Allah menjelaskan adil yang dimaksud dalam ayat tersebut dengan mengatakan: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai)”. Wallahu ‘alam bish shawab.*