Parenting

Membangun Keluarga dengan Standar Kesalehan

Ilustrasi

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

SETIAP orang tua tentu mendambakan anak yang menjadi penyejuk mata sekaligus penerus kebaikan keluarga. Namun, membangun keluarga yang kokoh dalam iman bukan perkara mudah. Ada ujian demi ujian yang harus dilalui. Tidak semuanya dapat dipilih, tetapi setiap keluarga dapat mempersiapkan hati dan jiwa untuk menghadapinya.

Alquran memberikan gambaran yang sangat indah melalui kisah Nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Dalam Surah Ash-Shaffat ayat 100-105, kita dapat menemukan pelajaran tentang bagaimana sebuah keluarga menghadapi ujian besar dengan doa, pendidikan karakter, komunikasi, dan ketundukan kepada Allah SWT.

Pelajaran pertama dimulai dari sebuah doa.

Setelah sekian lama menanti keturunan, Nabi Ibrahim AS berdoa, “Rabbi hab li minash-shalihin” — “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang saleh.”

Menariknya, Nabi Ibrahim tidak sekadar meminta keturunan. Ia meminta anak yang saleh.

Di sinilah orang tua perlu kembali bertanya: sebenarnya anak seperti apa yang kita harapkan?

Sering kali doa orang tua dipenuhi harapan agar anak sehat, cerdas, berprestasi, memiliki pekerjaan baik, dan kehidupan yang mapan. Semua itu tentu tidak salah. Namun, jangan sampai ukuran keberhasilan anak berhenti pada pencapaian duniawi.

Nabi Ibrahim AS justru menempatkan kesalehan sebagai standar utama.

Sebab, kecerdasan tanpa akhlak dapat kehilangan arah. Kesuksesan tanpa iman dapat menjadi beban. Kekayaan tanpa ketakwaan pun belum tentu menghadirkan ketenangan.

Karena itu, doa untuk anak semestinya tidak hanya berbicara tentang masa depan dunia, tetapi juga tentang keselamatan akhirat.

Allah kemudian mengabulkan doa Nabi Ibrahim dengan memberikan kabar gembira tentang seorang anak yang halim, yakni memiliki sifat santun, sabar, lapang dada, dan mampu menahan diri.

Ini menjadi pelajaran kedua dalam pendidikan keluarga: karakter harus mendapat tempat utama.

Di tengah budaya yang sering mengukur keberhasilan anak dari nilai rapor, prestasi akademik, perlombaan, dan berbagai pencapaian, Alquran justru menghadirkan sosok Ismail AS dengan karakter halim.

Anak yang hebat bukan hanya anak yang mampu memenangkan persaingan, tetapi juga mampu mengendalikan dirinya ketika menghadapi persoalan. Ia tidak mudah marah, mampu memaafkan, menghormati orang lain, dan tetap tenang ketika menghadapi ujian.

Pendidikan semacam ini tentu tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari kebiasaan, keteladanan, doa, dan suasana keluarga yang terus mengajarkan kebaikan.

Ujian berikutnya datang ketika Ismail AS telah tumbuh besar. Pada saat sang ayah mulai merasakan kedekatan dan manfaat dari kehadiran anaknya, datanglah perintah Allah melalui mimpi untuk menyembelih Ismail.

Inilah ujian yang sangat berat.

Namun, cara Nabi Ibrahim AS menyampaikan persoalan tersebut kepada putranya juga mengandung pelajaran penting tentang komunikasi dalam keluarga.

“Fanzhur madza tara” — “Maka pikirkanlah apa pendapatmu.”

Nabi Ibrahim tidak sekadar memerintah. Ia mengajak putranya berbicara.

Padahal, persoalan yang dibicarakan bukan perkara sederhana. Namun, dialog tetap dibuka. Ismail pun memberikan jawaban yang menunjukkan kematangan iman: ia siap menjalankan perintah Allah dan bersabar atasnya.

Dari sini kita belajar bahwa membangun keluarga bukan hanya soal memberikan perintah, tetapi juga menyediakan ruang untuk berbicara.

Anak yang terbiasa diajak berdialog akan belajar menyampaikan pendapat, memahami persoalan, dan mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang. Terlebih ketika dialog itu dibangun di atas iman dan keteladanan.

Puncak kisah tersebut terjadi ketika Ibrahim dan Ismail sama-sama berserah diri kepada Allah. Alquran menggambarkannya dengan kalimat, “Falamma aslama wa tallahu lil-jabin” — “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya.”

Keduanya berserah diri.

Ketaatan dalam keluarga ternyata bukan hanya perkara orang tua. Ia harus menjadi nilai yang tumbuh bersama, hingga anak pun memahami bahwa kehidupan memiliki tujuan yang lebih tinggi daripada sekadar memenuhi keinginan pribadi.

Menariknya, pertolongan Allah datang ketika keduanya telah menunjukkan kesungguhan dalam menjalankan perintah-Nya. Allah kemudian memanggil Nabi Ibrahim dan menegaskan bahwa ia telah membenarkan mimpi tersebut.

Peristiwa itu menjadi pelajaran bahwa ketaatan sering kali menuntut keberanian untuk melangkah sebelum manusia mengetahui seluruh hasil akhirnya.

Dalam kehidupan keluarga, tentu tidak semua persoalan dapat disamakan dengan ujian Nabi Ibrahim dan Ismail AS. Namun, nilai yang dapat dipetik tetap relevan: keluarga membutuhkan visi, doa, pendidikan karakter, komunikasi yang sehat, dan ketundukan kepada Allah.

Karena itu, orang tua perlu membangun kebiasaan sederhana.

Sebutlah nama anak dalam doa. Jangan hanya mendoakan keberhasilan sekolah, pekerjaan, kesehatan, dan kehidupan duniawinya. Mohonlah kepada Allah agar ia menjadi anak yang saleh, berakhlak, dan bermanfaat bagi sesama.

Bangun pula visi keluarga yang tidak hanya berbicara tentang apa yang ingin dimiliki, tetapi juga tentang manusia seperti apa yang ingin dibentuk.

Sebab, keluarga bukan sekadar tempat anak tumbuh besar. Keluarga adalah tempat pertama tempat nilai ditanamkan, karakter dibentuk, dan iman diperkenalkan.

Kisah Nabi Ibrahim AS mengajarkan bahwa warisan terbaik orang tua bukan semata harta, jabatan, atau nama besar. Warisan terbaik adalah anak yang mengenal Tuhannya, memiliki akhlak mulia, mampu menghadapi ujian, dan meneruskan kebaikan setelah orang tuanya tiada.

Maka, sebelum meminta anak menjadi hebat di mata manusia, barangkali kita perlu lebih dahulu memohon kepada Allah agar ia menjadi baik di hadapan-Nya.

Sebab, ketika kesalehan menjadi tujuan, prestasi duniawi akan menemukan tempatnya. Namun, ketika dunia menjadi satu-satunya tujuan, keluarga mudah kehilangan arah ketika kehidupan berubah. Wallahu a’lam bish-shawab.*