Tadzkirah

Sempit Memaknai Rezeki

Ilustrasi

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

BARANGKALI selama ini kita terlalu sempit memahami rezeki. Kita mengira rezeki adalah uang yang bertambah, jabatan yang naik, rumah yang lebih besar, atau usaha yang semakin berkembang. Padahal, boleh jadi rezeki datang dalam bentuk yang sama sekali tidak kita duga.

Pertemuan dengan seseorang. Kesempatan menolong orang lain. Perjalanan yang semula terasa melelahkan.

Bahkan sebuah peristiwa yang awalnya kita anggap sebagai kesulitan. Ada seorang pengusaha muda yang memiliki cara pandang sederhana, tetapi dalam: setiap peristiwa adalah rezeki.

Ketika pesawat yang ditumpanginya mengalami turbulensi hebat, ia tidak hanya sibuk menyelamatkan dirinya dari rasa takut. Ia justru menenangkan penumpang di sebelahnya.

Percakapan kecil di tengah kepanikan itu kemudian mempertemukannya dengan seorang pemilik modal. Dari pertemuan tersebut, terbuka jalan bagi lahirnya usaha baru.

Begitulah hidup. Kadang Allah menyembunyikan rezeki di balik sebuah kejadian yang tidak kita sukai. Karena itu, jangan terlalu cepat mengatakan, “Ini musibah.” Bisa jadi di dalamnya ada pelajaran. Jangan buru-buru berkata, “Ini kebetulan.” Bisa jadi ada pertemuan yang sengaja Allah hadirkan.

Dan jangan mengira rezeki selalu berbentuk materi. Memiliki kesempatan bertemu orang baik adalah rezeki. Mendapat kesempatan menolong adalah rezeki. Diberi hati yang lembut adalah rezeki. Masih diberi kesempatan belajar dan memperbaiki diri adalah rezeki.

Bahkan ketika Allah memberi kita kesempatan untuk berkhidmat kepada agama-Nya, itulah rezeki yang mungkin jauh lebih berharga daripada apa pun yang bisa kita hitung. Di sinilah kita perlu belajar melihat kehidupan dengan kacamata rahmat.

Allah berfirman tentang Rasulullah ﷺ:

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Rasulullah ﷺ datang membawa jalan yang mengajarkan manusia bagaimana menjalani kehidupan dengan benar. Karena itu, sunnah beliau bukan sekadar kumpulan aturan yang membebani. Di dalamnya ada rahmat.

Mungkin kita saja yang terkadang melihatnya sebagai beban. Padahal, boleh jadi perintah yang terasa berat bagi kita hari ini adalah bentuk kasih sayang Allah yang baru mampu kita pahami setelah menjalaninya. Maka jangan hanya mengejar kesuksesan. Carilah keberkahan di balik kesuksesan.

Sebab harta tanpa rahmat bisa menjadi petaka. Ilmu tanpa rahmat bisa menjadi kesombongan. Jabatan tanpa rahmat bisa menjadi kezaliman. Bahkan pengetahuan agama tanpa kelembutan hati dapat membuat seseorang merasa paling benar hingga menyakiti orang-orang terdekatnya.

Ilmu seharusnya membuat hati semakin lembut, bukan semakin keras. Harta seharusnya membuat tangan semakin ringan memberi, bukan semakin berat berbagi.

Dan kesuksesan seharusnya membuat seseorang semakin dekat kepada Allah, bukan semakin jauh dari-Nya. Mungkin itulah cara sederhana untuk memaknai perjalanan hidup.

Jangan hanya bertanya, “Apa yang saya dapat dari peristiwa ini?” Sesekali bertanyalah, “Kebaikan apa yang sedang Allah titipkan melalui peristiwa ini?”

Sebab bisa jadi, rahmat Allah tidak selalu datang dalam bentuk yang kita harapkan.

Kadang ia datang melalui seseorang yang kita temui. Kadang melalui pintu yang tiba-tiba terbuka. Kadang melalui pintu yang justru tertutup. Dan kadang melalui ujian yang membuat kita kembali bersujud.

Maka, ke mana pun hidup membawa kita, jangan lupa membawa rahmat. Seperti lebah yang hinggap di mana saja tanpa merusak, tetapi meninggalkan sesuatu yang bermanfaat.

Semoga kehadiran kita di mana pun berada tidak menjadi beban bagi orang lain, melainkan menjadi jalan datangnya kebaikan.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang seberapa banyak rezeki yang kita kumpulkan, tetapi tentang seberapa banyak rahmat yang kita bawa pulang.*