Selagi Jantung Masih Berdetak

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
DI TENGAH kesibukan hidup yang seolah tidak pernah selesai, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: sedang sibuk apa kita hari ini?
Pertanyaan sederhana itu barangkali terdengar biasa. Namun, jika direnungkan lebih dalam, ia dapat menjadi pintu untuk melihat kembali ke mana sebenarnya hidup sedang kita arahkan.
Setiap hari kita sibuk bekerja, mengejar karier, mengurus keluarga, memenuhi kebutuhan, mengumpulkan harta, dan merencanakan masa depan. Semua itu penting. Tetapi ada satu kesibukan yang tidak boleh terlewat: memperbaiki catatan amal. Sebab kehidupan dunia, betapapun panjang rasanya, pada akhirnya akan sampai pada satu titik: kematian.
Kematian tidak menunggu seseorang selesai dengan seluruh urusannya. Ia tidak menunggu rumah selesai dibangun, tabungan terkumpul, anak-anak tumbuh dewasa, atau cita-cita tercapai. Ia datang sesuai ketetapan Allah. Bahkan, kematian bisa datang ketika tubuh masih terasa sehat dan kehidupan sedang baik-baik saja.
Karena itu, menunda amal saleh dengan alasan masih ada waktu adalah salah satu bentuk kelalaian yang sering tidak kita sadari. Kita berkata, nanti kalau sudah tua saya akan lebih rajin beribadah.
Nanti kalau pekerjaan sudah selesai, saya akan lebih banyak membaca Alquran. Nanti kalau rezeki sudah cukup, saya akan lebih banyak bersedekah. Nanti kalau kehidupan sudah tenang, saya akan memperbaiki diri. Masalahnya, kita tidak pernah benar-benar tahu apakah masih memiliki kesempatan untuk sampai pada kata nanti.
Ketika usia bertambah, kekuatan tubuh perlahan berkurang. Mata yang dahulu terang mulai membutuhkan bantuan untuk membaca. Kaki yang dahulu kuat berjalan jauh mulai mudah lelah. Ingatan pun tidak selalu setajam ketika muda.
Kesempatan untuk berbuat baik yang hari ini terasa begitu mudah, kelak bisa menjadi sesuatu yang sulit dilakukan. Maka, selagi tubuh masih sehat, itulah kesempatan.
Selagi mata masih mampu membaca ayat-ayat Alquran, itulah kesempatan. Selagi kaki masih kuat melangkah menuju tempat kebaikan, itulah kesempatan. Selagi tangan masih mampu membantu orang lain, itulah kesempatan.
Dan selagi napas masih berembus, pintu untuk memperbaiki diri masih terbuka. Namun, ada persoalan lain yang sering membuat manusia enggan kembali kepada Allah.
Bukan karena tidak tahu jalan pulang, tetapi karena merasa dirinya sudah terlalu jauh. Dosa yang menumpuk membuat seseorang malu menghadap Allah. Kesalahan masa lalu terus membayangi. Ada dosa yang disimpan rapat-rapat karena terlalu memalukan untuk diceritakan kepada manusia.
Dalam keadaan tertentu, ketika ujian datang bertubi-tubi, perasaan itu semakin kuat. Masalah keluarga yang tidak kunjung selesai. Penyakit yang berkepanjangan. Rezeki yang terasa sempit. Doa yang belum juga menemukan jawaban sebagaimana yang diharapkan.
Lalu hati mulai bertanya:
“Apakah Allah masih menyayangiku?” Pertanyaan semacam itu bisa muncul dalam hati siapa saja.
Namun, jangan biarkan kegelisahan tersebut berubah menjadi keputusasaan. Jangan mengukur kasih sayang Allah hanya dari keadaan hidup yang sedang kita jalani.
Kesulitan bukan selalu pertanda bahwa Allah meninggalkan kita. Keterlambatan terkabulnya doa bukan berarti Allah tidak mendengar. Dan banyaknya dosa bukan berarti pintu ampunan telah tertutup.
Justru dalam keadaan seperti itulah seorang hamba seharusnya semakin dekat kepada Allah.
Sebab Allah telah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia dengan dua nama yang begitu akrab di bibir kita setiap hari: Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Setiap kali mengawali pekerjaan, membaca Alquran, melaksanakan shalat, atau melakukan berbagai aktivitas, kita mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim.
Sayangnya, terkadang bibir kita begitu mudah mengucapkannya, tetapi hati kita lupa menghayati keluasan rahmat yang terkandung di dalamnya.
Allah berfirman dalam Surah al-A’raf ayat 156: “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”
Perhatikanlah kalimat tersebut. Allah tidak mengatakan rahmat-Nya hanya untuk mereka yang sudah sempurna. Tidak pula hanya untuk mereka yang tidak pernah melakukan kesalahan.
Rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Kehidupan kita termasuk di dalamnya.
Keluarga kita termasuk di dalamnya. Air mata yang jatuh karena kesedihan termasuk di dalamnya. Bahkan seorang hamba yang datang kepada-Nya dengan membawa dosa dan penyesalan pun tidak berada di luar jangkauan rahmat-Nya.
Karena itu, jangan pernah merasa terlalu kotor untuk kembali kepada Allah. Jangan merasa dosa kita terlalu besar untuk diampuni. Jangan pula menganggap masa lalu telah menentukan seluruh masa depan kita. Selama hayat masih dikandung badan, kesempatan untuk bertobat masih ada.
Barangkali selama ini kita terlalu lama memandangi halaman kehidupan yang penuh kesalahan. Kita terus mengingat apa yang sudah dilakukan, sampai lupa bahwa Allah masih memberi kita kesempatan untuk menulis halaman berikutnya.
Padahal, masa lalu memang tidak dapat diubah. Tetapi hari ini masih bisa diperbaiki. Kesalahan yang kemarin terjadi tidak harus menjadi alasan untuk mengulangi kesalahan yang sama hari ini.
Kita bisa memulainya dengan sesuatu yang sederhana. Memperbaiki shalat. Membaca Alquran meski hanya beberapa ayat. Meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti. Mengembalikan hak orang lain. Meninggalkan kebiasaan buruk. Bersedekah sesuai kemampuan.
Menolong seseorang tanpa berharap dipuji. Atau sekadar menangis dalam kesunyian malam dan berkata kepada Allah:
“Ya Allah, aku ingin kembali.”
Tidak perlu menunggu menjadi manusia sempurna untuk kembali kepada Allah.
Sebab manusia memang tempatnya salah dan lupa. Yang membedakan adalah kemauan untuk bertobat dan memperbaiki diri. Maka jangan berhenti hanya karena pernah jatuh. Bangkitlah. Jangan menjauh hanya karena merasa malu. Kembalilah.
Jangan menyerah hanya karena merasa dosa terlalu banyak. Mohonlah ampun. Sebab rahmat Allah jauh lebih luas daripada kesempitan yang sedang kita rasakan.
Pada akhirnya, semua kesibukan dunia akan selesai. Pekerjaan yang hari ini terasa sangat penting akan ditinggalkan. Jabatan akan berakhir. Harta akan berpindah tangan. Rumah yang kita bangun akan ditempati orang lain. Bahkan tubuh yang selama ini kita jaga akan kembali menjadi tanah.
Yang menemani kita bukanlah banyaknya harta yang berhasil dikumpulkan, melainkan amal yang kita kerjakan. Karena itu, mari bertanya kepada diri sendiri sekali lagi:
Sedang sibuk apa kita hari ini? Jika kita masih diberi kesehatan, mari gunakan untuk berbuat baik. Jika masih diberi waktu, mari gunakan untuk bertobat. Jika masih diberi rezeki, mari berbagi. Jika masih diberi kesempatan, mari memperbaiki catatan amal.
Tidak ada yang tahu berapa halaman lagi yang tersisa dalam buku kehidupan kita. Yang kita tahu, hari ini Allah masih memberi kesempatan. Jantung masih berdetak. Napas masih berembus. Mata masih terbuka.
Dan selama itu semua masih ada, belum terlambat untuk kembali. Mari memperbaiki niat, memperbanyak amal saleh, dan mengisi sisa perjalanan hidup dengan kebaikan.
Sebab kelak, ketika semua kesibukan dunia telah berhenti, yang kita harapkan bukanlah seberapa banyak yang pernah kita miliki, melainkan seberapa banyak kebaikan yang telah kita bawa menghadap Allah SWT.*
