Cara Teguh Beragama

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
SETIAP orang yang benar-benar beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti ingin selalu berada di jalan lurus yang telah Allah tunjukkan kepadanya yaitu jalan Islam. Karena dia merasa bahwa iman itulah nikmat terbesar yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada manusia. Dan karena hati manusia dapat berubah kapan saja maka orang beriman selalu berusaha agar terus dapat teguh dan istikamah dalam agama Allah sehinnga ia dapat meninggal dalam keadaan tetap beriman. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إن إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah SWT. akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.” Setelah itu, Rasulullah SAW. berdoa; “Allahumma mushorrifal quluub shorrif quluubanaa ala thoatik” [Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!]” (Riwayat Muslim).
Terlebih lagi dengan kondisi masyarakat sekarang di mana kita sebagai muslim hidup yang penuh dengan berbagai fitnah dan godaan materi, kekuasaan, syahwat. Serta menjamurnya aliran-aliran sesat dan menyimpang yang semakin membuat umat resah dan bingung. Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam telah menggambarkan bahwa pada zaman seperti itu seorang muslim yang berpegang teguh pada agamanya ibarat seseorang yang memegang bara api.
عَنْ أَنَسٍ بنُ مَالِكِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « يَأْتِي عَلىَ النَّاسِ زَمَانٌ القَابِضُ عَلَى دِيْنِهِ كاَلْقَابِضِ عَلىَ الْجَمَرِ » رواه الترمذي
“Dari Anas Ibnu Malik Radhiyallahu ‘anhu berkata : Bersabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam : Akan datang pada manusia suatu zaman, orang yang memegang dinnya seperti orang yang memegang bara api.” (Riwayat Tirmidzi).
Tapi Islam telah menyediakan dan menjelaskan cara dan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh seorang mukmin agar dapat terus teguh dan istikamah dalam menjalankan agamanya di tengah kondisi tersebut. Alquran, Sunnah Nabi, sirah Rasulullah dan para salaf al-shalih penuh dengan keterangan tentang itu. Di antaranya langkah-langkah itu adalah:
Pertama, selalu berdoa dan memohon kepada Allah agar selalu diteguhkan di jalan Allah SWT dan itulah yang selalu kita lakukan setiap shalat dengan membaca Ihdina al-shirat al-mustaqim. Di antara doa yang diajarkan Rasulullah SAW adalah:
اَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِيْ الأَمْرِ، وَ الْعَزِيْمَةَ علَى الرُّشْدِ، وَ أَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَ حُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَ أَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيْمًا، وَ أَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا، وَ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَ أَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ، إِنَّكَ أَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ
“Ya Allah aku memohon kepada-Mu ketetapan dalam urusanku, dan keteguhan dalam kebenaran. Dan aku memohon kepada-Mu rasa syukur atas nikmat-Mu dan kebaikan dalam beribadah kepada-Mu. Aku mohon kepada-Mu hati yang bersih dan aku mohon kepada-Mu lisan yang jujur. Aku mohon kepada-Mu kebaikan yang Engkau ketahui dan aku berlindung dengan-Mu dari kejelekan yang Engkau ketahui, dan aku mohon ampun dari apa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya engkau Maha Mengetahui akan segala yang ghaib.” (Riwayat Thabrani).
Kedua, berusaha untuk selalu melaksanakan syari’at Allah dan beramal shaleh. Allah SWT berfirman:
وَأَنَّ هَـٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (Surat Al-An’am [6]: 153).
Ketiga, berpegang dan selalu kembali kepada Alquran dan Sunnah Nabi SAW karena keduanya merupakan jaminan agar kita tidak tergelincir ke jalan sesat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِهِ
“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (Riwayat Malik dan al-Hakim).
Keempat, mempelajari sirah para Nabi dan rasul serta kehidupan sahabat Nabi SAW agar bisa dijadikan teladan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَـٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Surat Hud [11]: 120).
Kelima, mempelajari dan mengetahui kebatilan dan ajaran-ajaran sesat agar kita dapat menjauhinya dan tidak mudah ditipu oleh tipu muslihat mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِي
“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” (Surat Al-An’am [6]: 55).
Keenam, bergaul dan berteman dengan orang-orang shaleh dan menjauhi orang-orang fasik dan selalu bermaksiat karena itu akan membantu kita untuk tetap istiqamah di jalan Allah Ta’ala.
الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Seseorang mengikuti agama kawannya. Karena itu, lihatlah olehmu siapakah yang menjadi kawanmu.” (Riwayat Abu Daud dan Tirmidzi)
Ketujuh, yakin dengan pertolongan Allah SWT dan bahwa pada akhirnya kemenangan adalah milik Islam.
Itulah di antara cara agar kita dapat istikamah di jalan Allah dan melaksanakan ajaran-Nya dan tidak mudah tergoda dengan segala fitnah yang mengelilingi kita di zaman ini. Wallahu a’lam bish shawab.*
