Artikel

Saat Rupiah Melemah, Dapur Rakyat yang Menanggung

Ilustrasi (AI)

KETIKA nilai tukar rupiah terus tertekan hingga menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar AS, banyak orang menganggapnya sekadar urusan pasar keuangan. Padahal sesungguhnya, gejolak kurs bukan hanya persoalan para pelaku pasar atau investor. Dampaknya perlahan merembes ke meja makan, apotek, hingga dompet jutaan keluarga Indonesia.

Pelemahan rupiah membuka pintu bagi fenomena imported inflation, yakni kenaikan harga barang yang dipicu oleh mahalnya biaya impor. Dan Indonesia, dengan ketergantungannya yang masih tinggi terhadap berbagai bahan baku strategis, menjadi sangat rentan terhadap tekanan tersebut.

Sektor pangan menjadi korban pertama. Harga kedelai impor yang terus merangkak naik memukul industri tahu dan tempe yang selama ini menjadi sumber protein murah masyarakat. Para perajin berada dalam posisi sulit: menaikkan harga atau memperkecil ukuran produk. Keduanya sama-sama membebani konsumen.

Persoalan tidak berhenti di situ. Gandum, yang seluruh kebutuhan nasionalnya masih bergantung pada impor, menjadi bahan baku utama berbagai produk pangan seperti mi instan, roti, dan tepung terigu. Ketika rupiah melemah, biaya produksi ikut meningkat dan pada akhirnya dibebankan kepada masyarakat.

Lebih jauh lagi, harga pakan ternak yang sebagian besar masih mengandalkan bahan impor turut mengalami tekanan. Dampaknya mungkin tidak langsung terasa hari ini, tetapi perlahan akan tercermin pada harga daging ayam dan telur yang lebih mahal di pasar.

Di sektor kesehatan, ketergantungan industri farmasi nasional terhadap bahan baku impor menjadi persoalan serius. Ketika biaya impor melonjak, harga obat-obatan dan suplemen pun berpotensi mengikuti. Begitu pula dengan berbagai barang konsumsi sehari-hari, mulai dari produk kebersihan hingga perangkat elektronik yang sebagian besar komponennya masih berasal dari luar negeri.

Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan semata-mata pelemahan rupiah. Yang lebih mendasar adalah tingginya ketergantungan ekonomi nasional terhadap pasokan impor. Selama kebutuhan pangan, obat-obatan, energi, dan bahan baku industri masih bergantung pada pasar global, setiap gejolak nilai tukar akan selalu menjadi ancaman bagi stabilitas ekonomi domestik.

Memang benar, faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga Amerika Serikat, ketegangan geopolitik, dan perlambatan ekonomi global ikut memengaruhi pergerakan rupiah. Namun tidak adil jika seluruh persoalan hanya disandarkan pada faktor luar. Ketergantungan terhadap bahan baku impor yang berlangsung selama bertahun-tahun juga merupakan cerminan dari pekerjaan rumah domestik yang belum terselesaikan.

Kondisi ini semakin rumit karena Indonesia juga masih bergantung pada impor energi. Ketika rupiah melemah, biaya impor bahan bakar meningkat. Jika harga energi naik, biaya distribusi dan logistik akan ikut terdorong. Akibatnya, barang-barang yang diproduksi di dalam negeri pun tetap mengalami kenaikan harga karena ongkos transportasi yang semakin mahal.

 

Ketahanan Ekonomi Diuji

Di sisi lain, Bank Indonesia menghadapi pilihan yang tidak mudah. Kenaikan suku bunga dapat membantu menjaga stabilitas rupiah, tetapi juga berisiko menekan pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat. Cicilan rumah, kendaraan, hingga berbagai bentuk kredit konsumtif menjadi lebih berat bagi kelompok kelas menengah.

Karena itu, solusi tidak cukup berhenti pada imbauan agar masyarakat lebih hemat dalam berbelanja. Yang dibutuhkan adalah langkah nyata untuk memperkuat ketahanan ekonomi dari hulu. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan bahan baku industri rakyat, mempercepat pengembangan substitusi impor, memperkuat sektor pangan dan farmasi nasional, serta menjaga biaya logistik tetap terkendali.

Rupiah yang melemah bukan sekadar persoalan angka di layar perdagangan. Ia adalah peringatan bahwa fondasi kemandirian ekonomi nasional masih membutuhkan banyak pembenahan. Jika tidak diantisipasi secara serius, tekanan kurs hari ini dapat berubah menjadi krisis daya beli yang paling berat dirasakan oleh masyarakat kecil.

Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya nilai tukar mata uang, melainkan kemampuan rakyat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak. Dan ketika dapur rakyat mulai terancam, di situlah sesungguhnya ukuran ketahanan ekonomi sebuah bangsa diuji.*

UBN Newsroom