Tarawih Ajang Silaturrahim Umat

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
ALLAH Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya memerintahkan kepada umat Islam untuk selalu menjaga hubungan silaturrahim antara mereka dan selalu saling berbuat baik kepada sesama. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّـهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Surat An-Nisa` [4]: 1).
وَاعْبُدُوا اللَّـهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّـهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (Surat An-Nisa` [4]: 36).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Abu Hurairah ra meriwayatkan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir maka hendaklah ia menyambung silaturrahimnya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau lebih baik diam.” (Riwayat Bukhari).
عن أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung silaturrahimnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ ، تَقُولُ : مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ ، وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ
Dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah SAW. bersabda: “Rahim itu tergantung di ‘Arsy, ia berkata, “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya.” (Riwayat Muslim).
عنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ ، أَنَّ أَبَاهُ أَخْبَرَهُ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ
Muhammaad bin Jubair bin Muth’im bahwa ayahnya mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga orang memutuskan tali silaturrahim.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Sebaliknya Allah SWT melarang umat Islam untuk berpecah-belah dan saling berselisih. Karena itu hanya akan menyebabkan mereka menjadi lemah sehingga musuh-musuh Islam tidak gentar lagi terhadap umat Islam.
وَأَطِيعُوا اللَّـهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّـهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Surat al-Anfal [8]: 46).
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ ﴿٢٢﴾ أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّـهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ ﴿٢٣﴾
Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. (Surat Muhammad [47]: 22-23).
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan waktu-waktu khusus agar umat Islam bisa berkumpul. Baik itu dalam sehari semalam dalam bentuk shalat jamaah lima waktu. Sekali dalam seminggu dalam bentuk shalat Jumat. Sekali dalam setahun dalam bentuk shalat ‘Id. Serta sekali dalam setahun umat Islam dari segala penjuru dunia dikumpulkan dalam bentuk wukuf di Arafah pada waktu pelaksanaan ibadah haji.
Shalat sunnah tarawih yang disunnahkan selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan juga merupakan salah satu sarana yang disediakan oleh Allah Ta’ala untuk umat Islam agar saling bersilaturrahim. Saling mengenal, saling berbuat baik, saling memperhatikan dan saling peduli. Karena dengan shalat secara berjamaah maka antara satu dengan yang lainnya akan saling mengenal. Dan dari saling mengenal itu akan tumbuh menjadi saling memperhatikan, saling peduli dan saling mencintai antara satu dengan yang lain sebagai saudara dalam naungan tauhid Laa ilaaha illallah.
Oleh karena itu, jangan sampai sarana dan kesempatan yang disediakan oleh Allah Ta’ala agar kita dapat bersatu dalam tali akidah ini malah sebaliknya menjadi ajang perselisihan dan perpecahan di antara umat Islam. Karena masalah perbedaan khilafiyyah yang seharusnya dapat diterima jika kita selalu mengembalikan itu kepada Alquran, sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan amalan generasi awal umat ini.*
