Jika belum mampu menambah amal, jangan menambah dosa

Oleh KH Bachtiar Nasir
Setan tidak merasa lelah dan selalu berusaha agar kita terjatuh. Kalau perlu sampai kita putus asa. Dia masuk ke dalam diri kita dengan berbagai cara dan membahayakan.
Terutama di Bulan Rajab, akan banyak jebakan-jebakan dari setan yang akan melunturkan rencana kebaikan-kebaikan kita untuk Bulan Rajab.
Kita harus bisa mengenalinya dan harus bisa keluar dari kondisi seperti itu.
Misalnya kita juga perlu memerhatikan pengaruh-pengaruh eksternal seperti pergaulan dengan teman, grup-grup WA, dan tontonan di gadget yang membuat kita terhanyut pada hal-hal yang tidak bermanfaat.
Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya setan yang terkutuk itu. Semoga semangat kita tidak lemah.
Hati-hati juga dengan pikiran kita sendiri. Selalulah meminta perlindungan kepada Allah.
حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْم
“Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan pemilik ‘Arasy (singgasana) yang agung.” (Surah At-taubah ayat 129).
Kita tidak tahu, kapan setan masuk ke dalam pikiran kita. Tetapi kita bisa menghindari dengan zikir. Bisa saja tiba-tiba kita lemah, malas ibadah, dan hal lainnya yang melemahkan semangat ibadah kita. Bacalah selalu dalam keadaan demikian,
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya.
Dengan mengucapkan audzubikalimatillahi tammati min syarri maa khalaq, kita menegaskan keimanan bahwa hanya Allah yang mampu melindungi kita dari segala bentuk bahaya.
Jika kita belum mampu menambah amal kebaikan, maka janganlah menambah dosa.
Larangan itu terkait dengan penggalan ayat 36 surah At-Taubah.
فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ
Janganlah kamu menzalimi diri kamu sendiri.
Karenanya kalau kita belum mampu menambah amal maka jangan menambah dosa.
Kalau belum bisa melakukan ibadah dan kebaikan di bulan Rajab ini, maka jangan melakukan kemaksiatan atau kezaliman.
Penggalan ayat ini فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ, penuh dengan pesan pendidikan dan kasih sayang Allah, agar kita tidak terjerumus dalam kezaliman terhadap diri sendiri.
Bulan-bulan haram adalah waktu yang dilipat gandakan kebaikannya, begitu juga bila melakukan kemaksiatan berlipat ganda juga dosanya.
Dari menahan kemaksiatan, lalu akan menjadi kebiasaan untuk tidak melakukannya, selanjutnya akan menjadi istiqomah.
Barangsiapa yang bisa menahan diri di waktu-waktu bulan haram, maka dia akan bisa menahan diri di waktu-waktu lainnya. Terutama menghadapi bulan Ramadhan.
Jika belum mampu menambah pahala, janganlah menambah dosa. Jika belum mampu beramal saleh, maka jangan berbuat dosa. Dari sinilah jalan takwa dimulai.
Allah tidak membebani hamba-Nya dengan target-target yang terlalu jauh. Tetapi kita disuruh menjaga diri sesuai dengan ayat 36 Surah At-Taubah.
Jika sekarang kita belum bisa konsisten bangun malam, belum konsisten shalat-shalat sunah seperti rawatib, dan amal saleh, maka janganlah menambah dosa.
Kita cek list lagi larangan-larangan yang masih kita lakukan: kesedihan, lemah dan malas, kikir dan pengecut, dan sebagainya. Berdoalah,
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
Artinya, Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kesedihan, lemah dan malas, kikir dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.
Bulan-bulan haram ibarat ladang yang subur dan pertumbuhannya pesat, tetapi racunnya pun ada.
Tidak berbuat maksiat di waktu mulia bukanlah stagnan (berhenti), justeru itu investasi Ruhani. Dari menahan menjadi kebiasaan, lalu meningkat menjadi istiqomah. Karena itulah iman tidak selalu tampak dari banyaknya amal. Tetapi iman itu kemampuan menahan langkah ketika kaki dan hati akan tergelincir. Langkah kaki akan mengikuti hati.
