Lima Perusak Hati dan Jalan Kembali kepada Allah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu; dan bagi mereka azab yang pedih karena mereka berdusta.” (QS. Al-Baqarah: 10)
Masalah hati adalah masalah paling penting dalam diri kita. Hati adalah pusat kendali jiwa, tempat keputusan lahir, niat tumbuh, dan arah hidup ditentukan. Karena itu, hati harus dijaga agar cahayanya tetap menerangi pikiran dan langkah, serta kuat mendorong kita untuk berbuat baik dan menahan hawa nafsu.
Ada lima hal yang bisa merusak hubungan hati dengan Allah dan melemahkan tekad: pergaulan yang berlebihan, angan-angan panjang, bergantung pada selain Allah, terlalu banyak makan, dan terlalu banyak tidur. Jika satu saja masuk dalam rutinitas sehari-hari, biasanya yang lain ikut menyusul. Kelimanya saling menguatkan, seperti rantai yang saling terkait.
Pergaulan yang buruk atau berlebihan adalah pintu awal rusaknya hati. Dari sinilah muncul kelalaian, gaya hidup yang tak bermanfaat, obrolan yang melemahkan, dan hilangnya fokus pada hal penting. Tanpa disadari, manusia menyerap energi lingkungannya, baik yang positif maupun yang merusak.
Saat pergaulan mulai melalaikan, biasanya muncullah angan-angan panjang, banyak berkhayal, malas bergerak, dan mudah mengejar hal-hal instan. Ketika angan mulai dibiarkan liar, muncullah ketergantungan pada manusia. Ditambah kebiasaan makan berlebihan karena sering menghadiri berbagai acara, akhirnya tubuh mudah lelah dan tidur pun jadi panjang.
Karena itu, pergaulan adalah pintu terbesar yang membuka jalan bagi keempat perusak hati lainnya.
Cara Menjaga Hati
Hal pertama yang harus dilakukan adalah membatasi pergaulan dan memilih lingkungan yang sehat secara ruhani. Sisihkan waktu untuk menyendiri, mendekat kepada Allah, memperbaiki ibadah, dan mengikuti majelis-majelis yang menguatkan iman. Hindari gaya hidup hedonis yang melemahkan dan percakapan yang tak bermanfaat.
Jika situasi mengharuskan kita berinteraksi, perbanyaklah zikir di pagi dan petang. Panjangnya angan biasanya dipicu dari lingkungan pertemanan.
Allah mengingatkan, “Bersabarlah bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari demi mencari keridaan-Nya, dan jangan palingkan pandanganmu dari mereka demi perhiasan dunia. Jangan ikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami…” (QS. Al-Kahfi: 28)
Putuskan angan-angan yang tidak realistis. Kurangi berharap kepada sesama makhluk dan kembalilah kepada sandaran terbaik: Allah. Justru inilah perusak hati yang paling berbahaya, bergantung kepada selain Allah. Walau empat perusak lain sudah ditangani, penyakit ini bisa tetap tinggal di hati.
Hati yang terlalu bergantung pada manusia akan rapuh, mudah kecewa, cemas, dan sulit khusyuk. Fokus ibadah pun kabur karena pusat hidupnya bukan lagi Allah, tetapi makhluk.
Obatilah dengan doa, “Hasbiyallah laa ilaaha illa huwa, ‘alaihī tawakkaltu wa huwa rabbul-‘arsyil ‘azhīm.”
(Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal. Dia pemilik Arsy yang agung.)
Bangun kesadaran bahwa hidup ini fana dan manusia tidak pernah bisa dijadikan tempat bergantung. Biasakan amal kecil tapi rutin. Jadikan target harian kita adalah meraih ampunan, rahmat, berkah, cinta, dan rida Allah.
Menjaga Pola Makan dan Tidur
Biasakan makan ketika benar-benar lapar dan berhenti sebelum kenyang. Teguhkan prinsip, sepertiga makanan, sepertiga air, dan sepertiga udara. Jika mampu, biasakan puasa sunnah dan berbagi rezeki.
Perut yang tidak penuh membantu hati hidup lebih ringan. Bahkan penelitian neuroscience menunjukkan bahwa makan berlebihan membuat otak lebih lemah dalam mengendalikan nafsu dan disiplin, sehingga hati mudah lelah, emosi meningkat, dan angan-angan menguat.
Jaga pula pola tidur. Tidurlah seperti Rasulullah, tidur awal malam, tidak tidur setelah Subuh atau setelah Ashar, dan bangun sebelum fajar. Dengan begitu, kita tidak kehilangan kebaikan yang Allah tebarkan di waktu-waktu istimewa itu.*
