Tadabbur

Orientasikan Hidup untuk Akhirat

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ
وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ
بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا
وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri, dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. Namun, kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la ayat 14-17).

Beruntunglah mereka yang telah memprioritaskan akhiratnya. Karena, dunia hanyalah setetes air di luasnya samudera akhirat dan segera menghilang ditelan ombak kehidupan yang menerjang. Yang setetes itulah yang diperebutkan oleh banyak orang. Keluarga ditinggalkan dalam waktu panjang. Silaturahmi menghilang. Bahkan rela saling membunuh antar anggota keluarga hanya karena bertikai masalah dunia. Itulah dunia, yang kenikmatannya hanya sedikit saja, tetapi membuat mereka yang tak memiliki iman di hatinya, rela berbuat apa pun untuknya.

Sayangnya, manusia kadang hanya mampu melihat yang dekat, sehingga titik akhir kehidupannya seringkali tak terlihat. Berdoalah kepada Allah, meminta agar hati kita senantiasa lekat dengan akhirat. Itulah kesenangan yang besar dan kekal sesungguhnya. Semoga amal-amal kita selalu dimulai dengan yang akhir. Karena, bila seseorang selalu memandang dari akhiratnya, maka apa yang dikerjakannya akan fokus pada akhiratnya. Semoga Allah memampukan kita untuk senantiasa melihat dunia ini dengan hal yang demikian.

 

Keanehan Manusia
Perkara akhirat ini haruslah senantiasa diingatkan kepada kaum Muslimin karena memang setiap orang yang beriman harus senantiasa diingatkan akan akhirat. Sehingga tidak terpedaya oleh segala urusan dunia yang menyibukkan ini.

فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكْرَىٰ
سَيَذَّكَّرُ مَن يَخْشَىٰ

“Oleh sebab itu, berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat, orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.” (QS Al-A’la ayat 9-10).

Dari demikian banyak perkara di dunia ini yang ganjil di dunia ini, ada beberapa perkara yang telah banyak kita ketahui, tentang sesuatu yang kita senangi, tetapi kita tidak berusaha mencintai. Yaitu manakala engkau dipanggil oleh-Nya, tetapi engkau enggan memenuhi panggilan-Nya.

Keanehan lainnya adalah engkau banyak tahu tentang Dia kasih sayang-Nya, tetapi tidak bisa mencintai-Nya. Panggilan-Nya selalu terdengar tetapi kita berlambat-lambat menghampirinya. Kamu juga sudah tahu beruntungnya bermuamalah dengan-Nya, tetapi engkau lebih suka bermuamalah dengan yang lain. Engkau juga sudah tahu bahayanya kemurkaan-Nya manakala berpaling dari-Nya, tetapi engkau malah berlalu dari-Nya. Engkau juga merasakan betapa perihnya perasaanmu manakala bermaksiat kepada-Nya, tetapi engkau malah tidak meminta ampun dan memohon ketenangan kepada-Nya setelah bermaksiat.

Kamu juga tahu betapa keringnya hati ketika kamu tenggelam dalam pembicaraan tentang selain Dia, tanpa berbicara kepada-Nya. Anehnya kamu tidak rindu dan tidak berusaha mendapatkan kelapangan dada dengan berbuat taat dan bermunajat berdzikir kepada-Nya. Dan, kamu juga telah merasakan betapa berat siksaan hati ketika bergantung kepada selain Dia. Tapi, naehnya kamu tidak berlari untuk bersegera berada di depan-Nya agar hati senantiasa menghadap kepada-Nya.

Yang paling aneh dari semua keanehan di atas adalah kamu sadar betul bahwa kamu berasal dari Dia dan kamu sadar betul bahwa kamu sangat bergantung kepada-Nya, tetapi kamu menjauh dari-Nya. Dan, kepada yang membuat kamu jauh dari-Nya, kamu malah menyukainya.

Mendekat pada yang Telah Jauh
Inilah ironi tentang kita. Inilah fenomena dari kebanyakan kita. Bahwa, katanya kita mencintai Allah, tetapi manakala panggilan-Nya terdengar kita malah berlambat-lambat untuk datang kepada-Nya. Kita mengaku tahu bahwa jauh dari Allah itu sangat berbahaya bagi kehidupan kita sendiri, tetapi justru kita enggan berdekatan dengan-Nya; kecuali sedang butuh pertolongan-Nya. Kita juga berkata bahwa sering berdialog dengan Allah adalah kunci ketenangan dan jalan keluar dari segala masalah yang kita hadapi, tetapi nyatanya kita lebih sering mengobrol dan gaul dengan sesama mahluk. Kita ini tahu bahwa kita butuh Allah dan kita butuh cinta-Nya, tetapi kita lebih sering memperlakukan-Nya sebagai sesuatu yang asing dalam kehidupan kita.

Dari kitab Al-Fawaiid, marilah kita menghadapkan diri kepada Allah Azza wa Jalla. Disaat seseorang sudah mendapatkan taufiq dari Allah bahwa begitu sebentarnya hidup di dunia dan betapa sedikitnya yang diperoleh dari dunia. Maka ia pun mematikan hawa nafsunya dan bergerak untuk mendapatkan yang abadi. Dengan penuh semangat untuk mengambil kembali apa yang sudah dirampas oleh hawa nafsu dan bujukan setan.

Dia pun mendekat pada apa yang selama ini dijauhkan oleh hawa nafsu dan setan yaitu akhirat. Hatinya pun menyadari adanya sesuatu yang besar, maha dahsyat. Sesuatu yang disebutkan dalam surat Al-Anbiyaa ayat 103:

لَا يَحْزُنُهُمُ ٱلْفَزَعُ ٱلْأَكْبَرُ وَتَتَلَقَّىٰهُمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ هَٰذَا يَوْمُكُمُ ٱلَّذِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata), ‘Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu’.”

Inilah yang Allah Azza wa Jalla ingatkan kepada kita. Bahwa kelak Allah akan menghadirkan hari kebangkitan, hari penghitungan, dan hari penentuan yang adil. Allah Ta’ala sendirilah yang akan mengadili kita di hari itu. Tidak ada kesalahan dan tidak ada yang terluput di hari itu. Itulah hari kiamat. Hari akhir yang menjadi muara dari segala amal perbuatan kita di dunia.

Tiada satu manusia pun yang mengetahui kapan hari itu akan Allah Ta’ala hadirkan di hadapan kita. Namun, manusia yang paling cerdas adalah dia yang menggunakan hari-hari kehidupannya didunia sebagai waktu yang bermanfaat untuk mencari sebanyak-banyaknya bekal untuk menghadapi hari akhirat ini. Karena itu, hapuslah jarak dengan-Nya, bahagiakan hati dengan bercengkerama dengan-Nya melalui berdzikir dan berdoa kepada-Nya. Dan yang paling penting, sadarilah selalu bahwa kita berasal darinya dan kelak akan kembali kepada-Nya. Wallahu ‘alam bish shawab.*