Tadabbur

Usai Tunaikan Shalat, Berbisnislah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS Al-Jumuah ayat 10).

Bertakwalah dengan memakan yang halal dan bertakwalah dengan bekerja keras. Di zaman orang-orang ingin segalanya serba mudah dan instan ini, dibutuhkan takwa yang kuat agar kita tidak terjerumus dalam perbuatan korupsi. Untuk keinginan untuk mendapatkan harta orang lain yang bukan hak kita. Dan, untuk segala dorongan untuk mendapatkan segala keinginan tanpa mesti bekerja keras. Bertakwalah, Insyaallah kita akan terjaga dari itu semua.

Urgensi Bisnis
Allah Azza wa Jalla memerintahkan dalam surat Al-Baqarah ayat 198 untuk berdagang atau berbisnis.

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا۟ فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ ۚ فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَٰتٍ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلْمَشْعَرِ ٱلْحَرَامِ ۖ وَٱذْكُرُوهُ كَمَا هَدَىٰكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِۦ لَمِنَ ٱلضَّآلِّينَ

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.”

Arti fadlalammirrabikum disini artinya keutamaan dari Robb-mu yang artinya sama dengan mencari keuntungan dalam berbisnis yang dilakukan ketika selesai berhaji. Bila berdagang bisa sekalian dilakukan di musim haji, ini menegaskan pentingnya prinsip wiraussaha dan betapa buruknya orang yang tidak mau berniaga.

Pentingnya berbisnis setelah beribadah ini kembali ditegaskan dalam Qs. Al-Jumuah ayat 10. “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

Dengan demikian, jelas bahwa setelah menunaikan kewajiban shalat Jumat, jangan tidur. Lanjutkanlah dengan bertebaranlah di muka bumi untuk berdagang dan mendapatkan rezeki dari-Nya. Berbisnislah setelah shalat Jumat. Kita akan bertemu dengan networking bisnis. Karena, yang datang adalah para lelaki yang otomatis adalah pemcari dan pemilik penghasilan utama. Entah itu produsen, reseller, atau konsumen. Ayat ini menyuruh kita untuk memanfaatkan momen ini untuk berbisnis setelah shalat Jumat.

Berharganya waktu ini sampai-sampai Umar bin Khaththab ra berkata, “Tidak ada tempat yang aku sukai selain tempat yang disitu dicabut nyawaku ketika aku sedang dalam kondisi berjihad. Bila tidak sedang berjihad maka ditempat itulah aku sedang berdagang.”

‘Arob bin Malik ra dalam rangka mengamalkan apa yang diperintahkan dalam surat Al-Jumuah ayat 10 ini, setelah sholat Jumat selesai dilakukan maka dia akan sejenak berhenti di pintu masjid dan berdoa, “Ya Allah, aku telah menyambut panggilan-Mu untuk shalat Jumat dan aku sudah melaksanakan shalat fardhu Jumat dan aku pun akan bertebaran di muka bumi ini sebagaimana yang Engaku perintahkan. Oleh karena itu Ya Allah, berikanlah aku rezeki keuntungan dari-Mu karena Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.”

Di sinilah makna bahwa antara berbisnis dan beribadah/ berjihad adalah sesuatu yang disandingkan oleh Allah dalam Al-Quran dan dilakukan oleh para sahabat Nabi. Jika mereka tengah berada dalam kondisi tidak berperang, maka seusai menunaikan shalat, maka para sahabat akan mencari rezeki Allah dengan berdagang.

Sebagaimana perkataan Umar bin Khaththab ra di atas bahwa “tempat yang kusukai adalah tempat dimana nyawaku dicabut dalam keadaan berjihad fi sabilillah atau dalam keadaan berdagang fii sabilillah”. Ibnu Katsir berkata bahwa tafsir surat Al-Jumuah ayat 10 bahwa, “Orang-orang yang melakukan perjalanan di atas muka bumi dalam rangka jihad fii sabilillah, adalah orang-orang yang juga senantiasa bertebaran di atas muka bumi untuk melakukan perdagangan.” Imam As-Suyuthi juga mengatakan bahwa ayat ini adalah perintah dasar untuk berdagang.

Oleh karena itu, meskipun profesi kita sekarang adalah karyawan, maka manfaatkanlah waktu untuk berdagang. Di zaman kecanggihan teknologi seperti sekarang ini, waktu yang tersedia untuk berdagang sangatlah luas. Tersedia medsos platform bisnis yang sangat efektif untuk berdagang atau berbisnis. Apa pun bisnis yang kita lakukan. Menjadi reseller, affiliator, ataukah menjadi distributor; semuanya memungkinkan di jaman teknologi yang semakin canggih ini.

Contoh Rasulullah dan Sahabat
Imam Ahmad dalam musnadnya meriwayatkan bahwa Rasulullah saw ditanya oleh sahabat, “Ya Rasulullah, penghasilan seperti apa yang paling baik? Rasulullah bersabda, “Pekerjaan seseorang yang dilakukan dengan tangannya dan perdagangan yang mabrur.”

Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seseorang memakan makanan yang paling baik kecuali dari hasil tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah, Daud as adalah orang yang selalu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)

Dari Zubair bin Awwam, Rasulullah juga bersabda, “Salah seorang dari kalian mengambil talinya kemudian datang dengan seikat kayu bakar yang dipanggul di pundaknya, lalu kemudian dia jual maka dengan yang demikian itu Allah jaga kehormatan wajahnya dibandingkan dengan manusia yang meminta kepada manusia, diberi dan ditolak, sama hinanya.” (HR. Bukhari)

Para Nabi dan Rasul Allah juga merupakan orang-orang yang memiliki usaha mandiri untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Rasulullah Muhammad saw merupakan pebisnis ulung yang membuat Khadijah dan para stafnya kagum akan cara berbisnis Rasulullah saw yang istimewa. Sementara Nabi Zakaria adalah seorang pembuat kayu yang handal. Nabi Musa as adalah peternak yang sukses manakala ia mengurus ternak mertuanya. Begitu juga nabi dan rasul Allah lainnya.

Seorang ulama yang bernama Ibnul Mubarok adalah seorang saudagar yang sangat kaya. Perdagangannya besar dan memiliki banyak komoditas bisnis. Suatu hari, salah seorang muridnya yaitu Fudhail, bertanya kepadanya, “Wahai Ibnul Mubarok, engkau mengajarkan kami untuk zuhud dan tidak terlalu banyak makan. Sementara engkau sendiri membawa begitu banyak barang perniagaan ke Tanah Haramain ini?” Ibnul Mubarok kemudian menjawab pertanyaan muridnya tersebut. “Wahai muridku, sesungguhnya aku berdagang untuk menjaga wajahku. Untuk mempertahankan kehormatanku dan dengan berdagang pula aku bisa memohon pertolongan kepada Allah untuk selalu taat kepada-Nya karena dengan berdagang, aku bisa independen.”

Demikianlah pentingnya seorang muslim berbisnis. Dengan berbisnis, kita tidak akan menjadi orang yang harus tunduk pada aturan sesama manusia. Kita bisa benar-benar mengatur hidup dan waktu kita untuk Allah Ta’ala dan menjadi orang-orang yang terjaga kehormatannya. Insyaallah.*