Hikmah Membaca Ta’awudz

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّـهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (Surat An-Nahl [16]: 98).
Dalam ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan kepada yang ingin membaca Alquran agar ia meminta perlindungan kepada Allah dari godaan dan gangguan setan yang terkutuk. Dengan membaca ta’awudz, seorang hamba yang ingin membaca Alquran berlindung kepada Dzat Yang Maha Agung dari gangguan setan sehingga tidak lalai dan mampu mengambil ibrah dan pelajaran dari bacaannya.
Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum membaca ta’awudz sebelum membaca Alquran ini adalah sunnah bukan wajib. Bahkan Imam Thabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hal itu merupakan ijma’ para ulama karena mereka sepakat bahwa orang yang tidak membaca ta’awudz sebelum membaca Alquran atau sesudahnya tidak meninggalkan sesuatu fardhu yang wajib dilakukan.
Adapun diantara hikmah dan tujuan Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk berta’awudz sebelum membaca Alquran adalah:
- Bahwa untuk memulai berjalan menuju Allah SWT, haruslah menegaskan kedudukan kita sebagai hamba yang tunduk patuh kepada Allah dan menegaskan permusuhan kita kepada setan, musuh Allah SWT. dan musuh umat manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Surat Fathir [35]: 6).
Jadi membaca ta’awudz bukanlah hanya sekadar ungkapan kosong tanpa makna, tetapi ia adalah pengambilan sikap dan penentuan posisi.
- Ta’awudz ini juga menunjukkan kesadaran seorang hamba bahwa ia tidak akan mampu menempuh jalan menuju Allah SWT. kecuali dengan hidayah dan inayah Allah SWT. Kesadaran ini akan menjauhkan seorang hamba dari sifat ujub setelah beramal dan beribadah.
- Setan dengan segala tipu dayanya bisa saja menghalangi seorang hamba yang membaca al-Qur`an dari mendapatkan pahala, hikmah serta pelajaran dari bacaannya. Setan dapat merusak niat seorang hamba, membuatnya lalai atau mengalihkan pikirannya sehingga ia tidak mendapatkan cahaya hidayah dari bacaannya, bahkan malah mungkin menyesatkan dan membuatnya bingung. Sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
عن عَلِيٌّ ، قال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : ” سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ ، سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ ، فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dari Ali bin Abi Thalib ra ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Akan keluar pada akhir zaman, suatu kaum, umurnya masih muda, rusak akalnya, mereka bertutur kata dengan manis. Mereka membaca Alquran, namun tidak melebihi kerongkongannya. Mereka terlepas dari agama bagai terlepasnya anak panah dari busurnya. Apabila kalian menemuinya, bunuhlah mereka, karena terdapat ganjaran dari Allah SWT pada hari kiamat nanti bagi mereka yang membunuh kaum tersebut.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Dengan membaca ta’awudz dan menanamkan maknanya di dalam hati membuat seorang mukmin aman dari tipu daya setan karena ia berlindung kepada Yang Maha Agung. Semoga kita dapat menancapkan makna dari ta’awudz ini di dalam hati kita ketika membacanya sebelum tilawah Alquran sehingga Allah SWT membukakan mata hati kita untuk mendapatkan cahaya hidayah dan hikmah dari Alquran. Wallahu a’lam bish shawab.*
