Jihad Akbar adalah Melawan Hawa Nafsu, Benarkah?

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ustaz, saya sering kali mendengar para khatib atau penceramah menyebutkan hadits yang mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan kepada para sahabat ketika kembali dari suatu peperangan bahwa kita baru saja kembali dari jihad kecil menuju kepada jihad yang lebih besar yaitu jihad melawan hawa nafsu. Apakah hadits ini shahih, Ustaz? Soalnya kayaknya hadits ini bertentangan dengan ayat Alquran dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain yang menjelaskan keutamaan berjihad di jalan Allah SWT.
Hamba Allah
Jawab:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Lafaz hadits yang sering kita dengar berbunyi:
رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الأَكْبَرِ، قَالُوا وَمَا الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ؟ ، قَالَ جِهَادُ الْقَلْبِ
“Kita telah kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar, para sahabat bertanya: Apakah jihad yang besar itu? Nabi menjawab: jihad hati.”
Hadits ini disebutkan oleh al-Mula Ali al-Qari dalam kitabnya al-Asrar al-marfu’ah fi al-akhbar al-maudhu’ah (rahasia-rahasia yang terangkat dalam hadits-hadtis palsu), juga dalam kitab tadzkirat al-maudhu’at (peringatan akan hadits-hadits palsu) karangan Muhammad bin Thahir al-Fitani.
Dalam riwayat yang lain disebutkan:
عن جابر قال قدم على رسول الله صلى الله عليه وسلم قوم غزاة فقال عليه السلام قدمتم خير مقدم من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر قيل وما الجهاد الأكبر؟ قال مجاهدة العبد هواه.
Dari Jabir, ia berkata bahwa telah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam orang-orang yang baru berperang, maka Rasulullah SAW berkata: “Kalian datang dengan sebaik-baik kedatangan, kalian datang dari jihad kecil menuju jihad besar, mereka bertanya: Äpakah jihad besar itu? Beliau menjawab: “jihadnya seorang hamba melawan hawa nafsunya”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam kitabnya al-Zuhd dan menjelaskan bahwa sanadnya dhaif. Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa hadits ini tidak ada dasarnya, tidak ada seorang ahli perkataan dan perbuatan Nabi pun yang meriwayatkannya, dan jihad melawan orang yang memerangi Islam adalah diantara amalan yang paling mulia bahkan ia adalah termasuk amalan yang paling mulia yang dilakukan manusia.
Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Tasdid al-qaus fi takhrij musnad al-firdaus mengatakan bahwa hadits ini terkenal dan banyak beredar, dan ia sebenarnya adalah perkataan Ibrahim bin Abi Áblah. Syaikh al-Bani menjelaskan bahwa ini hadits munkar. Imam Suyuthi mengatakan bahwa tidak menemukan bahwa ini hadits marfu’.
Maka dari segi sanad, hadits ini tidak shahih dan tidak pula hasan, dan hadits ini tidak diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits yang menjadi sandaran umat Islam, di mana hadits ini tidak ada dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Tidak ada dalam kitab hadits yang enam, tidak dalam Muwattha` Imam Malik. Bahkan tidak ada dalam Musnad Imam Ahmad meskipun ia mencakup banyak sekali hadits.
Adapun dari aspek maknanya, Syaikh Yusuf al-Qaradawi menjelaskan bahwa kalau yang dimaksudkan adalah merendahkan urusan jihad di jalan Allah dan menganggap enteng kedudukannya dalam Islam sebagaimana yang dimaksudkan oleh mereka-mereka yang menyebarkannya maka makna ini tidak bisa diterima dan harus ditolak. Karena Alquran dan Sunnah Nabi penuh dengan nas-nas yang menegaskan keutamaan dan tingginya kedudukan jihad dalam Islam yang tidak menyisakan ruang untuk keraguan.
Adapun, jika yang dimaksud adalah perhatian terhadap jihad melawan hawa nafsu, melatih diri dan berjuang melawan segala godaan dan kemauan hawa nafsu maka makna ini dapat diterima karena memang kita disuruh untuk bisa menundukkan hawa nafsu sehingga ia tunduk kepada perintah dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Wallahu ‘alam bish shawab.*
KH Bachtiar Nasir
