Tadzkirah

Urgensi Muhasabah Diri

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” (QS. Al-Ghasiyyah ayat 25-26).

Salah satu tahapan penting dalam perjalanan menuju perjumpaan dengan Allah Azza wa Jalla adalah menghisab diri atau bermuhasabah. Muhasabah sangatlah penting karena dengan menghisab atau menghitung apa yang sudah dilakukan dan dimiliki, maka kita akan mensyukuri apa yang sudah kita miliki dan bertanggung jawab pada apa yang menjadi kewajiban kita.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 18, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Muhasabah menjadi penting karena kita tahu bahwa perjalanan yang kita tempuh saat ini adalah perjalanan yang tidak mungkin kembali. Layaknya usia yang semakin hari semakin bertambah dan tidak pernah kembali menjadi bayi, maka perjalanan ini pun tidak mungkin ditarik ulang. Dengan bermuhasabah, kita akan mengetahui betapa jauh perbandingan apa yang telah kita upayakan dengan apa yang diberikan dan diberkahi Allah Ta’ala. Kita juga akan tahu diri tentang hakikat-hakikat kita sebagai hamba yang penuh dengan kelemahan dan keterbatasan dan hakikat Allah Azza wa Jalla sebagai Rabb yang dipenuhi keagungan, kesempurnaan, dan keutamaan. Juga, bahwa segala nikmat itu hanya berasal dari-Nya dan segala siksa yang ditimpakan-Nya adalah bentuk keadilan dan kebijaksanaan-Nya.

Bila kita lalai bahkan bodoh akan hakikat kita sebagai hamba – terutama di sisi rububbiyah ini, bahwa Dia adalah Pencipta, Pengatur, dan Pemberi kehidupan kita, maka kita akan menjadi orang jahat terhadap diri kita sendiri. Lebih jauh, manakala kita menelisik apa penyebab kebodohan dan kejahatan yang kita lakukan terhadap diri sendiri maupun semesta, maka tak lain itu berasal dari kebodohan kita tentang Dia sebagai Pencipta, Pengatur, Pendidik , Pemelihara, dan Pemberi sekaligus Pemilik Kehidupan.

Coba kita pikirkan baik-baik, semua maksiat dan pelanggaran yang kita kerjakan berasal dari sumber-sumber negatif di dalam diri kita – yang bersumber dari kejahilan terhadap Allah Rabbul ‘Alamiin. Contohnya, di dalam diri kita ada dorongan positif dan dorongan negatif. Itulah yang mempengaruhi diri kita sendiri. Manakala kita berpikir positif, maka hal-hal yang positif itulah yang akan kita dapatkan.

Ingatlah untuk berhati-hati dalam berperasangka dan berkata-kata karena alam akan merespon. Ini adalah hal yang paling dasar. Disini, kita belum berbicara dalam ruang lingkup kehendak dan takdir Allah Azza wa Jalla.

Apabila kita merespon dan bereaksi positif, maka apa yang kita dapatkan dari alam semesta juga respon yang positif. Walaupun kita tidak bisa menentukan apa aksi yang datang pada diri kita. Ini adalah sebuah upaya untuk membuat diri kita terjaga dalam atmosfer positif.

Upaya ini sangat efektif menangkal hembusan negatif setan dan orang-orang dengan aksi negatif di sekitar kita. Aksi nyata dalam bentuk dzikir dan senyum adalah salah satu upaya efektif yang dapat kita lakukan agar semenjak dari awal hari, batin kita senantiasa terselimuti ketenangan dan rasa optimis.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d ayat 28).

Oleh karena itu – kembali pada tahap menghisab diri, hanya dengan cara inilah “mata” kita akan terbuka bahwa sedemikian besarnya karunia dan pemberian yang Allah Ta’ala limpahkan pada kita. Bahwa selama ini sebegitu bodohnya kita dalam memahami rububbiyah Allah dan sejahat itulah kita memperlakukan diri kita sendiri. Bergelung dalam perasangka buruk kepada Allah, berfokus pada masalah dengan terus mengeluh hingga lupa bersyukur, dan betapa semua penjara yang kita buat untuk diri kita itu sukses mengerdilkan diri kita sendiri. Melupakan tugas dan amanah Allah kepada kita. Padahal Allah Azza wa Jalla menciptakan kita sebagai mahluk-Nya yang paling mulia. Sebagai khalifah-Nya di muka bumi ini.

Kunci Sukses
Sejatinya, orang paling hebat adalah orang yang memulai harinya dengan mengucap Alhamdulillahiroobil’alamiin. Inilah letak rahasia Al-Fatihah. Allah Ta’ala mengajarkan kepada kita untuk menyerap energi positif sekaligus merespon positif alam semesta ini dengan puja dan puji hanya kepada Allah: Pencipta, Pengatur, Pemilik, Pemelihara, Pemberi, juga Pendidik alam ini. Penggenggam segala hal yang baik dan diharapkan oleh penghuni semesta ini. Maka, segala hal yang dilihat, dilaku, didengar, dan dirasa oleh diri dan alam semesta ini juga akan sesuai dengan ritme yang diajarkan oleh Pencipta alam semesta ini. Ini komunikasi yang tidak hanya ditujukan oleh isi semesta, tetapi juga kepada Pemilik alam semesta ini yang memiliki puja dan puji tersebut. Dialah Allah, Dzat Pencipta dan Pemilik alam semesta ini, termasuk di dalamnya adalah manusia.

“Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Saba’ ayat 34).

Akhirnya, marilah kita berlindung dari kebodohan diri sendiri. Sebagaimana Rasulullah saw memohon kepada Allah untuk melindungi diri dari hakikat hamba yang dipenuhi kelemahan dan kebodohan. “Ya Allah, janganlah Kau serahkan diriku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata.” (HR Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban dan dinilai hasan oleh Albani).

Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diberi bashiroh untuk dapat menerima dan menjalankan segala perintah-Nya dengan bertanggung jawab. Karena, sesungguhnya, disanalah letak kesyukuran dan ketundukkan sebagai hamba. Sekaligus bekal, sebelum kelak Allah-lah yang menghisab di hari penghitungan.*

Exit mobile version