Tadzkirah

Tujuh Kabar Gembira Penghilang Keputusasaan 

Oleh KH Bachtiar Nasir

Salah satu penghilang kebahagiaan adalah putus asa, terutama putus asa dari rahmat Allah. Padahal rahmat Allah begitu luas, mencakup langit dan bumi.

Kita lihat Surah Az-Zumar ayat 53:

 يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ۝٥٣

Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Rahmat Allah itu sangat luas tanpa batas. Karenanya kita jangan sampai dipengaruhi setan untuk putus asa. Sebab Allah Maha Penyayang dan Maha Pengampun.

Ayat 53 ini merupakan ayat penghiburan buat kita, sebagai pembunuh keputusasaan atas dosa-dosa yang kita telah lakukan.

Tetapi ayat ini tidak akan bisa masuk ke dalam jiwa-jiwa yang berputus asa.

Tujuh Kabar Gembira dari Allah 

Ada tujuh kabar gembira pembunuh putus asa dari ayat 35 ini:

Pertama, Allah Subhana Wa Ta’ala melekatkan hamba-hamba-Nya kepada diri-Nya dengan sebutan يَٰعِبَادِىَ (ya ‘ibadii). Allah mengkhususkan kedudukan hamba yang paling dicintai. Bukan kedudukan sebagai orang kaya, bukan karena jabatan dan pangkat yang tinggi. Boleh jadi hal itu malah merupakan ujian. Kedudukan paling dicintai Allah adalah saat menghamba kepada-Nya. Inilah bentuk pemuliaan dan merupakan kabar gembira pertama. Di sinilah jiwa ditentramkan oleh Allah dan dalam pemeliharaan Allah.

Kedua, pelekatan itu tetap berlaku meskipun hamba-hamba-Nya telah berlebihan dalam kemaksiatan. Kepada si hamba yang berbuat kemaksiatan yang berlebih-lebihan, dan waktunya habis dalam maksiat, namun Allah tetap memanggilnya dengan sebutan يَٰعِبَادِىَ , ya ‘ibadii, wahai hamba-hamba-Ku.

Ketiga, disebutkan dalam ayat ini La taqnatu mir raḥmatillah لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ. Artinya, ada larangan mutlak dari Allah agar jangan berputus asa. Kasih sayang Allah sangat luas.

Keempat, ditegaskan kebenaran yang menentukan: sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa. Tanpa menyisakan ruang bagi keraguan, betapa pun berat dan banyaknya dosa. Semua berada dalam cangkupan Allah untuk mengampuni.

Kelima, Allah Maha mengampuni semuanya. Ini berupa penegasan lagi, bahwa Allah Maha Mengampuni dosa-dosa

Keenam, إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ (innahu huwal-ghafurur-rahim). Kalimat ini menjelaskan kabar gembira keenam, bahwa Allah bisa mengampuni semuanya sebab dia Ya Ghafur. Makna ampunan adalah ghofaroh, menutupi dan menyembunyikan dosa serta memaafkannya.

Betapa pun besar dan berulangnya dosa si hamba, Allah tetap Al-Ghafur bagi si hamba. Sifat itu melekat pada Allah. Itulah kenapa semua hamba bisa diampuni dosa-dosanya seberapa besar dan banyaknya.

Ketujuh, kabar gembira bahwa Allah Ar- rahim الرَّحِيْمُ, Maha Penyayang. Allah mengetahui ada nafsu pada manusia yang mendorongnya pada kemaksiatan dan nafsu tersebut menekan hambanya berbuat dosa. Allah juga tahu adanya tekanan dari setan-setan dan iblis yang selalu mengerahkan usahanya untuk merusak orang-orang beriman. Tetapi Allah akan datang yang akaqn menolong hamba-Nya.

Bagaimana takbir-takbir menggema dalam jiwa kita?

Ada sebuah riwayat, ada seseorang berkata kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam. “Wahai Nabi, aku sudah melakukan semua dosa dan berulang-ulang.”

Apakah Nabi mengusiknya? Apakah beliau mengusirnya? Apakah Nabi menutup kesempatan bagi orang yang sudah putus asa ini?

Tidak!

Nabi bertanya kepada-nya, “Apakah kau telah bersaksi kepada Allah sebagai seorang muslim?”

Apa jawaban orang itu? Jawabannya adalah, “Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah”

Lalu Nabi berkata, “Allah akan merubah semua keburukanmu menjadi kebaikan. Allah akan menukar semua kesalahanmu dengan kebaikan. Allah mendaur ulang dosa-dosanya menjadi pahala.”

Apa yang dikatakan orang itu kepada Nabi? “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” Dia terus bertakbir sampai hilang dari pandangan Nabi karena hatinya telah bebas.

Panggilan Sayang dari Allah

Ya, Ibadi, Panggilan ini bukan sembarang panggilan. Ini adalah panggilan dari langit. Allah memanggil kita dengan sebutan cinta, betapa pun besar dan banyaknya dosa-dosa si hamba.

Allah menyebut hanya dengan satu kalimat “Kalian melakukan hal melampaui batas terhadap diri kalian sendiri.” Tidak dikatakan-Nya, “Kalian telah melampaui batas terhadap Allah”

Dosa-dosa hamba hanya bisa menghancurkan diri sendiri. Dosa-dosa hamba tidak mengurangi kemuliaan-Nya.

Allah tidak berkata, “Hancurlah kamu.” Tetapi Dia berkata, “Janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah.”

Lalu ada apa dengan kita, yang masih melakukan kemaksiatan? Jangan ada lagi pertanyaan, apakah dosaku akan diampuni?

Jangan tanyakan, apakah aku bisa pulang sementara pintu selalu terbuka.

Satu langkah kita mendekat kepada Allah lebih dihargai daripada seribu langkah menjauh.