Tiga Nasihat untuk Selamat Dunia-Akhirat

Oleh:
KH. Bachtiar Nasir
Ada nasihat yang luar biasa dari Imam Ghazali yang disampaikan kepada muridnya, melalui kitabnya Yaa Ayyuhal Walad. Nasihat ini sangat cocok untuk anak-anak kita terutama mereka yang sudah memasuki fase remaja dan dewasa, bahkan untuk diri kita sendiri. Tiga nasihat itu adalah:
Pertama, silahkan hidup sesukamu di dunia. Namun, ingatlah suatu hari engkau pasti mati. Silahkan hidup dengan cara apa pun. Akan tetapi, pasti tidak ada yang mampu bertahan dari apa yang disebut penuaan dan kematian. Semua akan kalah manakala berhadapan dengan takdir Allah terutama yang bernama ajal.
Bila sudah tahu bahwa hidup pasti akan menjemput ajal, maka persiapkanlah bekal untuk kehidupan setelah mati. Itulah orang yang cerdas. Ingatlah Nabi Muhammad saw bersabda, “Orang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (Riwayat At-Tirmidzi).
Orang yang benar dan pintar adalah mereka yang mampu menundukkan hawa nafsunya dan teguh mempersiapkan bekal bagi dirinya untuk menghadapi kehidupan setelah mati.
Kedua, cintailah apa yang engkau ingin cintai di dunia. Namun, ingatlah bahwa suatu hari nanti, engkau pasti akan berpisah dengannya. Demikian pula dengan rasa cinta yang pasti akan berakhir dengan perpisahan. Yang pasti, kitab boleh mencintai apa pun di dunia ini. Akan tetapi, kita juga pasti berpisah dengannya. Termasuk dengan hidup yang kita jalani. Kita boleh mencintai kehidupan saat ini dan membenci kematian. Namun, maut pasti akan memisahkan kita dengan kehidupan dan kita akan menghadapi kematian.
Pahamilah bahwa rasa sakit akibat perpisahan yang terjadi sangat ditentukan oleh sedalam apa rasa cinta kita kepadanya. Makin dalam rasa cinta kita maka akan semakin sakit yang kita rasakan ketika berpisah.
Sesekali, cobalah untuk merenungi bahwa suatu hari, tubuh kita pasti akan terbujur kaku. Dibungkus kain kafan dan ditinggalkan sendirian dalam lubang yang pengap. Tidak ada seorang pun yang suka dalam kondisi yang sedemikian. Terlebih, dalam kondisi yang tidak kita sukai ini, tidak ada seorang pun yang bersedia untuk menemani. Bahkan, orang-orang yang kita cintai, tak jarang adalah orang yang paling pertama melemparkan tanah untuk mengubur kita. Inilah hal yang pasti terjadi dan pasti memisahkan dengan apa-apa yang kita cintai.
Hasbiyallah, hasbiyallah, hasbiyallah. Inilah waktu ketika tiada tempat untuk menggantungkan harapan, berlindung dari rasa takur, dan merasa cukup; kecuali hanya kepada Allah Azza Wajalla. Tempat bersandar dan tempat melabuhkan segala keinginan.
Laa Ilaaha IlaLlah lahulmulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai-in qodir. Inilah saat dimana kita betul-betul tidak punya tempat memanjatkan doa dan meminta pertolongan kecuali hanya Allah saja. Oleh karena itu, gunakan kesempatan hidup yang Allah berikan untuk benar-benar melabuhkan apa yang yang kita cintai, semata hanya untuk berkumpul pada satu sebab: karena Allah.
Ketiga, lakukanlah berbagai hal yang ingin engkau capai di dunia ini. Namun, ingatlah bahwa Allah pasti akan membalas perbuatanmu. Sungguh banyak hal yang ingin kita lakukan dan ingin kita capai, tetapi ingatlah bahwa segala hal yang kita lakukan dan kita perjuangkan untuk tiba di satu titik keinginan itu, pasti akan dihisab dan dibalas oleh Allah Azza Wajalla.
Dengan demikian, tentu banyak hal yang harus kita perbaiki. Jangan sampai, di akhirat nanti kita termasuk orang-orang yang menyesal. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 49,
“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun’.”
Di saat antara hidup dan mati, pastilah kita akan terkenang apa-apa saja yang telah kita lakukan dalam kehidupan yang sementara ini. Bila amal saleh yang kita persiapkan telah diridhai Allah Azza wa Jalla tentu kita akan meninggalkan hidup tanpa kekhawatiran dan penyesalan. Namun, tentu akan mengerikan bila yang terjadi adalah yang sebaliknya.
Semoga Allah mengaruniakan kita umur panjang yang penuh manfaat dan berkah, sehingga kita berkesempatan memperbaiki diri dan diberi kesempatan bertobat sebelum ajal menjemput.
Allahumma inna nas-aluka salamatan fiddin wa afiyatan fil-jasadi wa ziyadatan fil-ilmi wa barakatan firrizqi wa taubatan qablal-maut wa rahmatan indal-maut wa maghfiratan ba’dal-maut. Allahumma hawwin alaina fi sakaratil-maut wannajata minannari wal-afwa indal-hisab.”
“Ya Allah sesungguhnya kami memohon kepadamu keselamatan ketika beragama, kesehatan badan, limpahan ilmu, keberkahan rezeki, tobat sebelum datangnya maut, rahmat pada saat datangnya maut, dan ampunan setelah datangnya maut. Ya Allah, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakratul maut, berikanlah kami keselamatan dari api neraka dan ampunan pada saat hisab.”
Tiga nasihat di atas sangat efektif bagi mereka yang merasa bahwa umurnya masih panjang dan belum berhak untuk mati. Padahal umur tidaklah ada yang tahu, kapan dijemput maut. Juga bagi mereka yang bila dinasihati; kemudian menjawab bahwa kehidupan ini merekalah yang menjalani, mereka yang memiliki, dan mereka bebas berbuat sekehendak hati. Padahal, seandainya mereka tahu bahwa semua itu adalah kesalahan besar. Kita hidup dibatasi kehendak Allah Ta’ala dan diri kita semata-mata adalah milik Allah Ta’ala. Dan, pastinya kita akan kembali pada-Nya dengan kematian.*