Tadzkirah

Perubahan Manusia, Kehendak Siapa?

Oleh:
KH Bachtiar Nasir

Allah Subhanahu wa Ta’la berfirman:

فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ

“Maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (QS. Abasa ayat 12).

Perubahan manusia dari kufur menjadi iman sejatinya adalah domain atau wilayah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tugasnya hanya memberi peringatan, tadzkirah. Bukan wilayah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengubah orang kufur menjadi beriman.

Tugas atau wilayah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tablig, menyampaikan. Yang belum tahu, menjadi tahu. Kemudian, tugas memberikan tadzkir atau mengingatkan apa yang pernah diketahui oleh sasaran dakwah. Sampai di situ tugas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Seseorang berubah dari kufur menjadi iman harus ada kemauan dari dirinya sendiri. Sesuai dengan kehendaknya. Dan sesuai dengan pilihannya. Diberi kebebasan oleh Allah untuk memilihnya

Mengubah orang kufur menjadi iman, harus ada dua hal. Pertama, keinginan dari dirinya sendiri untuk mendapatkan peringatan. Kedua, lalu menentukan pilihan. Pilihannya bebas. Jadi ketika punya kehendak itu, dia berhadapan lagi dengan pilihan bebas. Apakah itu ia memilih untuk mengambil pelajaran dari Alquran atau Rasulullah. Nah itu baru bisa berubah.

Tentunya perubahan manusia yang diberi kehendak oleh Allah, bergantung pula oleh kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak berdiri sendiri.

Tetapi tetap perubahan manusia yang diberi kehendak itu, bergantung juga kehendak Allah. Tidak berdiri sendiri. Hanya saja, sering kali kita loncat. Kita berpasrah tanpa melakukan tindakan. Maka muncul perkataan, “Sudah maunya Allah begini, bagaimana? Ini sudah takdir Allah.”

Harusnya alurnya tidak langsung loncat, Anda kan diberi kehendak oleh Allah, Anda kan diberi pilihan setelah Allah beri kehendak. Dua inilah yang sebetulnya menjadi faktor perubahan manusia.*

Exit mobile version