Takwa, Penawar Kecemasan di Tengah Badai Kehidupan

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 216).
Kecemasan menjadi salah satu tantangan besar manusia modern. Di Indonesia, jumlah penyandang gangguan kecemasan diperkirakan mencapai puluhan juta orang. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan bahkan menemukan ratusan ribu anak menunjukkan gejala kecemasan. Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian di antaranya telah memperlihatkan keinginan mengakhiri hidup.
Fenomena ini mengingatkan bahwa kemajuan teknologi ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan ketenangan jiwa. Informasi datang tanpa jeda, berseliweran dari berbagai arah melalui gawai di genggaman. Otak menerima potongan demi potongan berita, gambar, dan video tanpa kesempatan mencerna secara utuh. Akibatnya, lahirlah prasangka, rasa takut, dan kecemasan yang terus menumpuk.
Manusia akhirnya merasa seolah semua masalah harus selesai saat itu juga. Ketika jalan keluar tak segera ditemukan, sebagian memilih menyerah. Padahal kehidupan tidak pernah berjalan dalam satu lompatan. Allah menciptakan segala sesuatu melalui proses, sebagaimana malam berganti siang, musim silih berganti, dan manusia bertumbuh sedikit demi sedikit.
Lalu, energi apakah yang mampu membuat seseorang tetap bertahan ketika ujian datang bertubi-tubi?
Jawabannya adalah takwa.
Takwa bukan sekadar menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Takwa adalah keyakinan bahwa di balik setiap takdir ada kasih sayang-Nya. Orang yang bertakwa percaya bahwa Allah adalah Ar-Rahman yang melimpahkan rahmat kepada seluruh makhluk, dan Ar-Rahim yang memberikan pertolongan khusus kepada hamba-hamba yang beriman.
Karena itulah, saat tekanan hidup datang, Al-Qur’an tidak mengajarkan kepanikan, melainkan ketakwaan.
Allah berfirman, “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS At-Talaq: 2-3).
Ayat ini bukan sekadar janji, melainkan cara pandang. Jalan keluar sering kali tidak terlihat karena manusia terlalu sibuk memikirkan pintu yang tertutup, sementara Allah sedang menyiapkan pintu lain yang belum tampak.
Sesungguhnya apa yang kita cari di dunia telah berada dalam genggaman Allah. Rezeki, kesehatan, ketenangan, pasangan hidup, pekerjaan, bahkan kebahagiaan, semuanya berada dalam perbendaharaan-Nya. Maka yang paling penting bukan sekadar mengetahui cara mendapatkannya, melainkan bagaimana menjadi hamba yang layak menerima karunia itu.
Kuncinya adalah ridha.
Ridha terhadap ketetapan Allah bukan berarti berhenti berikhtiar. Ridha berarti menerima bahwa apa yang Allah berikan hari ini adalah yang terbaik menurut ilmu-Nya. Dari hati yang ridha lahirlah syukur. Dari syukur tumbuh ketenangan. Dan Allah menjanjikan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu.” (QS Ibrahim: 7).
Banyak kecemasan lahir karena manusia hidup di dua waktu yang bukan miliknya. Ia menyesali masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan. Padahal yang benar-benar berada dalam genggaman hanyalah hari ini.
Hari kemarin telah menjadi pelajaran. Hari esok masih menjadi rahasia Allah. Yang dapat dilakukan hanyalah beramal sebaik-baiknya pada hari ini, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah melalui doa dan tawakal.
Allah mengingatkan, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS Al-Hasyr: 18).
Orang yang memahami rahasia kehidupan bukanlah mereka yang tidak pernah diuji. Mereka pun pernah dihantam badai, dilanda kesedihan, dan merasa lemah. Bedanya, mereka tidak berhenti berjalan. Mereka yakin setiap ujian adalah proses yang sedang membentuk diri menjadi lebih kuat dan lebih dekat kepada Allah.
Karena itu, ketika kecemasan datang, jangan biarkan ia memutus hubungan kita dengan Sang Pencipta. Justru saat itulah takwa harus diperkuat, syukur diperbanyak, dan doa dipanjatkan dengan penuh keyakinan.
Berjalanlah di jalan yang Allah pilihkan. Tersenyumlah dalam syukur. Bersabarlah dalam ujian. Sebab pertolongan Allah selalu lebih dekat daripada yang kita sangka, dan tidak ada satu pun takdir yang menimpa seorang hamba kecuali atas izin serta kasih sayang-Nya.*
