Tadzkirah

Seberapa Jauh Kebutuhkan Kita Terhadap Al-Qur’an?

Oleh KH Bachtiar Nasir

Ada bermacam-macam jenis manusia akan kebutuhannya  terhadap Al-Qur’an.
Ada orang yang kebutuhannya terhadap Al-Qur’an seperti orang sakit, yang akan menganggap Al-Qur’an sebagai obat. Begitu dia sembuh, obat tidak diperlukan lagi.

Ada orang yang terhadap Al-Qur’an seperti kebutuhannya pada oksigen. Oksigen dibutuhkan oleh semua umat manusia, bukan hanya dibutuhkan oleh orang muslim saja. Tanpa oksigen manusia bisa mati.

Qur’an juga ibarat ruh, jadi kalau orang hidup tanpa Al-Qur’an ibarat mayat hidup, tidak ada ruhnya.

Sifat atau  ketergantungan manusia kepada Al-Qur’an dijelaskan dalam Surah Fathir (35) ayat 32:

ثُمَّ اَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَاۚ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖۚ وَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌۚ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِالْخَيْرٰتِ بِاِذْنِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُۗ ۝٣٢

Artinya:
Kemudian, Kitab Suci itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu, di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Itulah (dianugerahkannya kitab suci adalah) karunia yang besar.

Dari penjelasan Surah Fathir ayat 32, sikap manusia terhadap Al-Qur’an ada tiga jenis:

1. Dzolimul linafsih. Ini sifat yang paling rendah, yaitu yang menganiaya diri sendiri.

2. Wa min-hum muqtashid. Ada golongan orang yang kebutuhannya terhadap Al-Qur’an yang pertengahan, biasa-biasa saja terhadap Al-Qur’an.

3. Bil-khairati bi’idznillâh, golongan ketiga adalah orang-orang yang lebih dulu berbuat kebaikan dengan izin Allah, mereka bersegera menyambut seruan yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Jika orang tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan hidupnya atau dia  biasa-biasa saja terhadap Al-Qur’an, orang itu seperti  sedang memperbaiki mesin cuci tetapi menggunakan remote. Dia melakukan suatu perbaikan tetapi tidak sesuai petunjuk yang benar.

Di antara tiga poin menurut ayat 32 Surah Fathir, ada orang-orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan atas izin Allah. Mereka adalah orang-orang yang dalam hidupnya selalu minta izin lebih dulu kepada Allah daripada ke orang lain.

Menurut Tafsir Al-Alusi:
Aku wariskan Al-Qur’an ini kepada golongan umat. Allah telah memilih umat Muhammad sebaik-baik umat, di mana kelebihan umat Muhammad adalah umat pertengahan atau  ummatan wasathan, maknanya khair al-ummah (umat terbaik) (wasathon).

Umat Muhammad adalah umat yang meminta petunjuk jalan yang lurus,  اِهْدِنَا الصِّرَا طَ الْمُسْتَقِيْمَ
(ihdinash-shiroothol-mustaqiim).

Permintaan pertolongan yang paling bagus adalah, Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus.

Kenapa umat Muhammad sebagai umat pertengahan? Karena umat Muhammad adalah ummatan wasathan sebagai orang yang cerdas, umat yang utama dan menjadi saksi atas
Lailahaillallah wahdahula syarikalah lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumitu wahuwa ala kulli syai-in qadir.

Artinya, umat Muhammad bersaksi, bahwa: tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Nabi Muhammad adalah Nabi termulia, nabi yang utama shalallahu alayhi wasallam.

Umat Muhammad diberi kelebihan oleh Allah karena setia kepada Nabi. Keterpilihan kita sebagai umat terbaik karena kita punya kesetiaan kepada Rasulullah.

Kita tidak lagi menjadi umat terpilih di mata Allah jika sudah jauh dari ajaran Nabi, kalau tidak lagi menegakkan agama Islam, kalau tidak lagi menjadi penerus risalah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam.

Selama kita setia kepada Rasulullah, kita akan menjadi umat dan bangsa terpilih.

Exit mobile version