Saat Amal Jadi Debu karena Ghibah dan Kezaliman

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
DI ERA kita sekarang, takwa bukan lagi diukur dari sujud yang panjang atau puasa yang rajin. Takwa kini diuji di medan yang jauh lebih luas, di media sosial, ruang chat, dan forum daring.
Dulu, ghibah (menggunjing) hanya terdengar di satu majelis kecil dan dosanya berhenti di situ. Kini, satu ketikan jari bisa membawa aib seseorang ke seluruh dunia. Ghibah digital menjelma menjadi dosa jariyah, yang terus mengalir tanpa batas ruang dan waktu.
Lebih parah lagi, ujian takwa kini juga menyentuh soal keadilan dan hak sesama. Di tengah sulitnya ekonomi, banyak yang terzalimi, difitnah hingga kehilangan pekerjaan, dikalahkan oleh nepotisme, atau dirampas haknya oleh kekuasaan. Inilah bentuk kezaliman yang akan menjadi kegelapan di hari kiamat.
Allah Ta’ala memperingatkan dalam surah Al-Furqān ayat 23.
وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.” (QS Al-Furqān [25]: 23)
Ayat ini menggambarkan hari yang mengerikan: ketika amal saleh yang tampak seperti gunung, tiba-tiba menjadi sia-sia, habā’an manṡūrā, debu halus yang beterbangan.
Adham Syarqāwi menulis dalam Rasāil min al-Qur’ān, ayat ini adalah potret kehancuran amal karena dosa yang menghapus pahala. Di akhirat nanti, ada orang yang terkejut ketika melihat catatan amalnya kosong dari pahala salat dan puasanya. Ia bertanya-tanya, “Apakah ini bukan catatan amalku?” Lalu dijawab, “Benar, tapi semua amalmu telah lenyap karena engkau dulu menggunjing manusia.”
Bahaya Dosa Lisan dan Kezaliman
Ghibah, fitnah, dan merampas hak orang lain adalah penghapus amal paling cepat. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, hendaklah ia meminta dihalalkan, sebelum datang hari di mana tidak ada lagi dinar dan dirham. Saat itu, kebaikannya akan diambil untuk menebus kezalimannya. Jika kebaikannya habis, dosa orang lain akan ditimpakan kepadanya.” (HR Bukhari)
Artinya, amal baik kita adalah mata uang akhirat. Ia bisa habis membayar orang yang pernah kita sakiti, hina, atau curangi. Orang yang rajin beribadah pun bisa bangkrut di akhirat karena meremehkan hak sesama.
Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Para sahabat menjawab, “Yang tidak punya harta dan barang.”
Beliau bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat dengan membawa salat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang setelah mencaci, menuduh, dan memakan harta orang lain. Maka pahala amalnya dibagikan kepada mereka, hingga habis, dan dosa mereka ditimpakan kepadanya.”
(HR Ahmad)
Inilah orang yang benar-benar bangkrut, amalnya habis, dosanya bertambah.
Tiga Langkah Taubat dari Ghibah
Pertama, berhenti dan menyesal. Jangan ulangi lagi kebiasaan membicarakan orang lain.
Kedua, mohon ampun kepada Allah. Karena setiap kata yang keluar akan dimintai pertanggungjawaban.
Ketiga, minta maaf kepada yang dighibahi. Namun bila hal itu justru memicu masalah baru, gantilah dengan mendoakannya, memujinya di tempat kita pernah menggunjingnya, dan memperbanyak amal kebaikan untuknya.
Ibnu Abbas pernah berkata, “Jika engkau ingin menyebut aib saudaramu, maka ingatlah aibmu sendiri.” (Mausū‘ah Ibn Abī ad-Dunyā, IV/357)
Lisan adalah ujian terbesar di zaman digital. Ucapan yang ringan bisa menjadi beban berat di akhirat. Karena itu, Umar bin Khattab memberi nasihat. “Jangan sibukkan diri kalian dengan membicarakan manusia, karena itu bencana. Sibukkanlah diri dengan mengingat Allah, karena itu rahmat.” (Ibnu Abid Dunya)
Menjaga lisan berarti menjaga amal. Dan menjaga amal berarti menjaga keselamatan akhirat.
Ibn Umar pernah menulis nasihat yang begitu dalam. “Jika engkau mampu bertemu Allah dengan punggung ringan dari darah manusia, perut kosong dari harta mereka, lisan tertahan dari kehormatan mereka, dan selalu bersama jamaah kaum muslimin, maka lakukanlah.” (Tārīkh Dimasyq, 31/169)
Nasihat ini menegaskan: takwa sejati bukan hanya di masjid, tetapi di hati dan interaksi sosial. Takwa berarti adil terhadap sesama, menjaga lisan, dan berhati-hati terhadap hak manusia.
Agar Amal Tidak Jadi Debu
Habā’an manṡūrā adalah simbol kehancuran amal karena rusaknya hati dan perilaku. Iblis tidak takut pada salat atau puasa kita, ia takut jika kita adil dan ikhlas. Sebab, kezaliman dan ghibahlah yang paling cepat membakar amal, seperti api membakar kayu.
Hasan Bashri berkata: “Jauhilah ghibah! Demi Allah, ghibah lebih cepat menghanguskan pahala daripada api membakar kayu.” (Mausū‘ah Ibn Abī ad-Dunyā, IV/421)
Maka, berhentilah berghibah, perbanyaklah zikir, dan jagalah hak sesama. Jangan sampai amalmu menjadi debu karena lisanmu sendiri.
Takwa di era digital bukan lagi sekadar menjaga salat dan puasa, tetapi menjaga etika dan empati di ruang publik. Jangan sampai kita rajin beribadah kepada Allah, namun abai terhadap manusia.
Sebab, ibadah yang kehilangan keadilan akan berubah menjadi debu yang beterbangan.*