Tadzkirah

Rahmat Allah yang Tak Pernah Berhenti

Ilustrasi

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

SETIAP pagi, ketika fajar kembali menyingsing dan kita masih diberi kesempatan menghirup udara, sesungguhnya ada satu pesan yang sedang disampaikan Allah SWT: rahmat-Nya masih menyertai kita.

Kita mungkin sering menganggap napas sebagai sesuatu yang biasa. Begitu pula kesehatan, keluarga, pekerjaan, makanan yang tersaji, dan rezeki yang datang setiap hari. Padahal, di balik semua itu terdapat kasih sayang Allah yang tak pernah berhenti mengalir.

Sayangnya, manusia sering lebih mudah menghitung apa yang belum dimiliki daripada menyadari begitu banyak nikmat yang telah diterima.

Allah SWT memperkenalkan diri kepada hamba-Nya melalui banyak nama yang indah. Allah berfirman, “Dan Allah memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu…” (QS al-A’raf: 180).

Di antara nama-nama Allah yang paling sering kita ucapkan adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Keduanya bahkan hadir dalam kalimat yang hampir setiap hari kita baca: Bismillahirrahmanirrahim.

Menarik untuk direnungkan. Setelah menyebut nama Allah, kita langsung diingatkan pada dua sifat-Nya yang berkaitan dengan kasih sayang. Seolah-olah kita sedang diajarkan bahwa hubungan seorang hamba dengan Tuhannya tidak semata-mata dibangun di atas rasa takut, tetapi juga di atas cinta, harapan, dan keyakinan terhadap rahmat-Nya.

Ar-Rahman dan Ar-Rahim berasal dari akar kata yang sama, yakni rahmah, yang berarti kasih sayang dan kelembutan. Dari akar kata yang sama pula lahir kata rahim, tempat seorang bayi tumbuh sebelum dilahirkan ke dunia.

Ada pelajaran yang begitu dalam di sana. Seorang bayi di dalam rahim tidak mampu meminta makanan. Ia tidak mampu bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Bahkan ia belum mampu mengucapkan terima kasih. Namun, kebutuhannya dicukupi.

Begitulah rahmat Allah. Ia sering datang bahkan sebelum kita mampu meminta.

Lalu, apa perbedaan Ar-Rahman dan Ar-Rahim?

Para ulama menjelaskan dengan berbagai pendekatan. Salah satu perumpamaan yang mudah dipahami, Ar-Rahman menggambarkan luasnya rahmat Allah yang meliputi seluruh makhluk, sedangkan Ar-Rahim menggambarkan kasih sayang Allah yang terus diberikan kepada hamba-hamba-Nya, terutama orang-orang beriman.

Rahmat Allah begitu luas. Orang yang taat maupun yang masih bergelimang dosa tetap mendapatkan udara yang sama. Orang yang pandai bersyukur maupun yang sering lupa kepada-Nya tetap menikmati rezeki dan kesempatan hidup.

Namun, bagi orang beriman, rahmat itu tidak berhenti pada kehidupan dunia. Ada rahmat yang Allah janjikan hingga kehidupan akhirat.

Karena itu, mengenal Allah sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim semestinya membuat hati seorang mukmin lebih tenang. Bukan berarti hidup akan selalu bebas dari masalah. Ujian tetap ada. Kesedihan tetap datang. Kehilangan, kegagalan, sakit, dan kekecewaan tetap menjadi bagian dari perjalanan manusia.

Akan tetapi, seorang mukmin memiliki keyakinan bahwa di balik semua itu ada Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Rasulullah SAW pernah menggambarkan betapa luasnya kasih sayang Allah kepada manusia. Kasih sayang Allah kepada hamba-Nya jauh lebih besar daripada kasih sayang seorang ibu kepada anaknya

Maka, ketika hari ini kita sedang menghadapi kesulitan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah meninggalkan kita.

Bisa jadi, justru di tengah kesulitan itulah Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih dekat kepada-Nya. Bisa jadi, sesuatu yang kita anggap kehilangan sebenarnya adalah cara Allah menyelamatkan kita dari sesuatu yang tidak kita ketahui.

Kita tidak selalu mampu memahami jalan yang Allah pilihkan. Namun, kita selalu bisa mempercayai siapa yang menentukan jalan itu.

Itulah mengapa seorang mukmin tidak seharusnya mudah berputus asa. Selama matahari masih terbit, selama napas masih berembus, selama hati masih mampu berdoa, pintu rahmat Allah tetap terbuka.

Setiap kali mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, mari jangan sekadar menggerakkan lisan. Hadirkan pula kesadaran dalam hati: kita sedang memulai sesuatu bersama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Dengan kesadaran itu, kita belajar menjalani hidup dengan lebih tenang. Bersyukur ketika mendapatkan nikmat, bersabar ketika menghadapi ujian, dan tetap berharap ketika jalan terasa begitu berat.

Sebab, boleh jadi manusia telah kehilangan banyak hal dalam hidupnya. Tetapi selama ia masih memiliki Allah, sesungguhnya ia belum kehilangan segalanya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Exit mobile version