Warisan Terbaik untuk Anak Bukan Selalu Harta

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
SETIAP orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Sejak pagi hingga petang, berbagai usaha dilakukan agar kehidupan keluarga lebih baik. Ada yang bekerja lebih keras, menabung, membeli rumah, menyiapkan pendidikan, hingga mengumpulkan berbagai aset untuk masa depan anak.
Semua itu adalah bentuk kasih sayang. Namun, pernahkah kita bertanya, apa sebenarnya warisan terbaik yang akan kita tinggalkan untuk anak-anak?
Kita sering mengukur warisan dari banyaknya harta yang ditinggalkan. Rumah, tanah, tabungan, kendaraan, atau usaha keluarga dianggap sebagai bekal agar anak menjalani kehidupan dengan lebih mudah.
Padahal, harta yang banyak tidak selalu membuat kehidupan seseorang menjadi berkah. Sebaliknya, sesuatu yang sederhana bisa menjadi sangat bernilai ketika di dalamnya terdapat keberkahan dari Allah SWT.
Al-Qur’an mengingatkan kita melalui kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Ishak AS. Allah SWT berfirman:
“Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishak. Dan di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (QS. Ash-Shaffat: 113).
Ayat ini mengajarkan bahwa keberkahan adalah warisan yang jauh lebih berharga daripada sekadar kekayaan.
Sebab, harta dapat habis. Rumah dapat dijual. Aset dapat berpindah tangan. Tetapi nilai-nilai kebaikan yang tumbuh dalam diri anak dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Lalu, bagaimana orang tua dapat mewariskan keberkahan kepada anak?
Wariskan Proses, Bukan Hanya Hasil
Orang tua tentu ingin anak hidup nyaman. Namun, terlalu sering menyelamatkan anak dari kesulitan justru dapat membuat mereka tidak siap menghadapi kehidupan.
Tidak semua masalah harus segera diselesaikan oleh orang tua. Ada saatnya anak perlu belajar berusaha, gagal, bangkit, dan mencoba kembali.
Biarkan mereka merasakan bahwa sesuatu yang berharga membutuhkan perjuangan. Anak yang terbiasa berproses akan lebih mudah menghargai hasil. Ia belajar bahwa keberhasilan bukan sesuatu yang datang begitu saja. Di dalamnya ada doa, kerja keras, kesabaran, dan pertolongan Allah SWT.
Karena itu, jangan hanya meninggalkan rumah untuk anak. Tinggalkan pula mental tangguh agar mereka mampu membangun rumah kehidupannya sendiri.
Semua Berasal dari Allah
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika orang tua berhasil memberikan kehidupan yang baik kepada anak: jangan sampai keberhasilan itu membuat kita merasa paling berjasa.
Kalimat seperti, “Kalau bukan karena Papa dan Mama, kamu tidak akan hidup seperti ini,” mungkin terdengar sebagai ungkapan biasa. Namun, jika terus diulang, anak bisa tumbuh dengan perasaan bahwa semua yang dimilikinya semata-mata berasal dari jerih payah orang tua.
Padahal, bukankah kita semua hanya menjalankan ikhtiar? Kesehatan, pekerjaan, kesempatan, rezeki, bahkan kemampuan untuk bekerja keras, semuanya adalah karunia Allah SWT.
Karena itu, lebih baik kita mengatakan kepada anak, “Nak, kita bisa sampai di titik ini karena Allah memberi kita kesempatan dan kemampuan. Jangan lupa bersyukur kepada-Nya.”
Dengan begitu, anak belajar melihat kehidupan bukan hanya dari siapa yang memberi, tetapi juga dari siapa Pemilik segala pemberian.
Wariskan Keteladanan
Anak mungkin lupa dengan banyak nasihat yang pernah kita sampaikan. Namun, mereka akan lebih mudah mengingat apa yang setiap hari mereka lihat.
Mereka melihat bagaimana ayah dan ibunya menjalankan shalat. Mereka memperhatikan bagaimana orang tua berbicara kepada orang lain. Mereka melihat apakah orang tuanya jujur, mudah bersedekah, menepati janji, dan bertanggung jawab.
Karena itu, pendidikan terbaik sering kali tidak disampaikan melalui ceramah panjang. Ia hadir melalui contoh sederhana yang dilakukan berulang-ulang di rumah.
Jika ingin anak mencintai Al-Qur’an, biarkan mereka melihat orang tuanya membaca Al-Qur’an. Jika ingin anak gemar berbagi, biarkan mereka melihat orang tuanya bersedekah.
Jika ingin anak menjadi pribadi yang jujur, tunjukkan kejujuran itu dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan, tetapi terutama dari siapa kita di hadapan mereka.
Pada akhirnya, orang tua memang berkewajiban berikhtiar sebaik mungkin. Kita mendidik, memberikan nafkah, menjaga, mendoakan, dan menunjukkan jalan kebaikan.
Namun, hidayah tetap milik Allah SWT. Bahkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ishak AS, dua nabi yang mulia, memiliki keturunan yang tidak seluruhnya berada dalam kebaikan. Al-Qur’an menyebut ada di antara keturunan mereka yang berbuat baik, tetapi ada pula yang menzalimi dirinya sendiri.
Karena itu, jangan merasa cukup hanya karena telah memberikan harta kepada anak. Jangan pula merasa gagal hanya karena anak belum menjadi seperti yang kita harapkan.
Tugas kita adalah terus berikhtiar dan menjadi teladan. Sebab, mungkin warisan paling berharga yang kita tinggalkan bukanlah berapa luas rumah yang kita bangun, berapa banyak uang yang kita tabung, atau berapa banyak aset yang kita kumpulkan.
Warisan itu bisa berupa doa yang terus dipanjatkan, akhlak yang terus diteladani, ilmu yang terus diamalkan, dan kebaikan yang terus dilakukan anak-anak kita.
Harta mungkin diwariskan kepada anak. Tetapi keberkahan membuat kebaikan terus diwariskan dari anak kepada cucu, dari cucu kepada cicit, bahkan setelah kita tidak lagi berada di dunia.
Maka, sebelum sibuk menyiapkan apa yang akan kita tinggalkan untuk anak, mari bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita menyiapkan sesuatu yang akan membuat mereka tetap dekat dengan Allah setelah kita tiada? Wallahu a’lam bish-shawab.