Puasa Arafah Menghapus Dosa Besar?

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
HARI Arafah adalah di antara hari yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada hari itu terdapat banyak keutamaan-keutamaan yang harus selalu kita manfaatkan dengan memperbanyak amal ibadah. Di antara keutamaannya adalah berpuasa pada hari Arafah. Puasa Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun bagi yang melaksanakannya. Banyak hadits yang menjelaskan keutamaan puasa Arafah, diantaranya yaitu:
عن أبي قتادة الأنصاري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سئل عن صوم يوم عرفة فقال يكفر السنة الماضية والباقية قال وسئل عن صوم يوم عاشوراء فقال يكفر السنة الماضية
Abu Qatadah al-Anshari meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari Arafah, maka beliau menjawab, “Menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Dan beliau ditanya tentang puasa hari Asyura, maka beliau menjawab, “Menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (Riwayat Muslim).
عن أبي قتادة رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والسنة التي بعده. رواه مسلم
Diriwayatkan dari Abu Qatadah ra. bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Puasa pada hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan (dengannya) dosa-dosa pada tahun lalu dan tahun yang akan datang. (Riwayat Muslim).
عن قتادة بن النعمان رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من صام يوم عرفة غفر له سنة أمامه وسنة بعده. رواه ابن ماجة
“Dari Qatadah bin Nu’man: Aku mendengar Rasulullah SAW berkata, barangsiapa yang berpuasa pada hari Arafah, diampunkan baginya setahun sebelumnya dan setahun selepasnya.” (Riwayat Ibn Majah).
Tetapi, para ulama menjelaskan bahwa yang dosa yang dimaksudkan dalam hadits-hadits di atas adalah dosa-dosa kecil. Hal itu berdasarkan hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، كَانَ يَقُولُ : الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Antara shalat lima waktu, (shalat) Jumat ke Jumat, (puasa) Ramadan ke Ramadan adalah penghapus dosa-dosa diantaranya jika dijauhi dosa-dosa besar.” (Riwayat Muslim).
Para ulama menjelaskan bahwa shalat lima waktu, shalat Jumat dan puasa Ramadan itu lebih utama daripada puasa Arafah. Oleh karena itu jika shalat fardhu, shalat Jumat dan puasa Ramadan itu tidak bisa menghapuskan dosa-dosa besar, maka tentu puasa Arafah juga tidak dapat menghapuskan dosa-dosa besar tersebut.
Penghapusan dosa-dosa besar itu haruslah dengan bertobat dengan sebenar-benarnya tobat (taubat nashuha). Hal itu karena Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk bertobat dan para ulama sepakat bahwa tobat itu adalah suatu hal yang wajib. Jika dosa-dosa besar itu dapat dihapuskan dengan shalat lima waktu, puasa Ramadhan atau puasa Arafah tentu kita tidak lagi perlu untuk bertobat. Dan tentu saja hal itu tidak benar karena Allah SWT mewajibakan kepada para hamba-Nya untuk bertobat.
Begitu juga dengan dengan dosa yang berkaitan dengan hak manusia, maka harus diselesaikan dengan mengembalikan hak yang diambil secara batil. Bahkan pahala jihad di jalan Allah Ta’ala pun tidak dapat menghapuskan hutang yang merupakan hak orang lain yang ada dalam diri seorang mujahid di jalan Allah SWT. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، أَنَّ ّالنَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : الْقَتْلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُكَفِّرُ كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا الدَّيْنَ
Abdullah bin ‘Amru bin al-Ash meriwayatkan bahwa Nabi SAW. bersabda: “Mati sewaktu berjihad di jalan Allah dapat menghapus semua dosa kecuali hutang.” (Riwayat Muslim).
Dalam hadits lain disebutkan:
عن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي اللَّه عنه أَنَّ رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم قال : مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا؟ فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِيْنَارٌ وَلا درهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤخَذَ لأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ
Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa melakukan kezaliman kepada saudaranya, hendaklah meminta dihalalkan (dimaafkan) darinya ; karena di sana (akhirat) tidak ada lagi perhitungan dinar dan dirham, sebelum kebaikannya diberikan kepada saudaranya, dan jika ia tidak punya kebaikan lagi, maka keburukan saudaranya itu akan diambil dan diberikan kepadanya.” [Riwayat Bukhari).
Wallahu a’lam bish shawab.*