Merdeka dari Kesombongan, Tunduk kepada Allah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkanmu. Tetapi jika Allah membiarkanmu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah yang sanggup menolongmu selain Dia? Karena itu, hendaklah hanya kepada Allah orang-orang mukmin bertawakal.”
(QS. Ali Imran: 160)
Sadarilah bahwa kita sejatinya hanyalah tempat kelemahan di hadapan Allah Azza wa Jalla. Segala yang kita miliki, termasuk ilmu dan keahlian, hanyalah pertolongan Allah Ta’ala agar kita mampu beribadah dan taat kepada-Nya. Semua itu tidak akan pernah berkumpul dalam diri bila bukan karena izin-Nya, dan sewaktu-waktu bisa dicabut kembali. Kesadaran ini adalah peringatan kuat bahwa Allah-lah pemilik nyawa dan pemberi segala fasilitas hidup, yang kelak semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.
Kesadaran akan ketidakberdayaan inilah yang menundukkan hati ketika mulai lupa kepada-Nya. Dengan menyadari bahwa kita bukan siapa-siapa di hadapan Allah, hati pun terjaga dari penyakit yang paling dibenci-Nya, yaitu kesombongan. Keyakinan bahwa tak ada sesuatu pun yang bisa kita lakukan tanpa pertolongan Allah juga membuat jiwa tenang, karena kita tahu kita tidak pernah sendiri.
Inilah yang memerdekakan kita dari tekanan sesama makhluk, dari rasa rendah diri di hadapan orang berpangkat atau berharta, hingga akhirnya kita hanya menjadi hamba Allah semata. Itulah kemerdekaan sejati manusia. Maka, ucapkanlah, “Laa haula wa laa quwwata illa billah” (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).
Kesadaran bahwa hanya Allah yang berkehendak atas makhluk-Nya juga membuat kita semakin rendah hati di hadapan-Nya. Rasa hina di hadapan Allah sangat penting untuk mencapai kesempurnaan ibadah, karena ia akan membersihkan kesombongan, mematahkan angan-angan setan, dan menundukkan hawa nafsu.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Ibadah atau penghambaan diri mengandung kesempurnaan cinta sekaligus puncak kerendahan diri. Sesuatu yang dicintai namun tidak diagungkan dan direndahkan kepadanya tidak layak disebut sesembahan. Begitu pula sesuatu yang diagungkan tetapi tidak dicintai, juga tidak layak disebut sesembahan.”
Kunci Pertolongan
Bersandarlah hanya kepada Allah Ta’ala, dan bertawakallah kepada-Nya dalam setiap urusan. Tawakal bukan hanya di akhir, tetapi juga sejak awal perencanaan, saat menjalankan, hingga menanti hasil. Dengan begitu, apa pun misi yang kita jalani tidak akan lepas dari pertolongan-Nya. Tawakal juga menjaga kita dari kesombongan, karena sejak awal kita sadar: tidak ada yang mampu dilakukan tanpa pertolongan Allah.
Kesadaran ini akan melahirkan sifat tawadhu: rendah hati kepada sesama manusia, dan merendahkan diri di hadapan Allah. Tawadhu ibarat bulan di malam hari—tampak rendah di kaki cakrawala, seakan menyentuh lautan, namun tetap tinggi dan bercahaya di langit.
Maka, mohonlah pertolongan Allah di setiap urusan. Meski merasa ahli, jangan pernah meninggalkan doa, sebab orang yang enggan berdoa sejatinya adalah orang yang sombong. Allah berfirman:
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan dimasukkan ke dalam neraka Jahanam dalam keadaan hina.” (QS. Al-Mu’min: 60).
Jangan lupa pula untuk bertaubat, karena taubat adalah cahaya bagi jiwa. Akui kelemahan kita, dan panjatkan doa sebagaimana diajarkan Rasulullah ﷺ:
“Ya Allah, rahmat-Mulah yang aku harapkan. Janganlah Engkau biarkan aku bergantung pada diriku sendiri walau sekejap mata, dan perbaikilah seluruh urusanku. Tiada sesembahan yang haq selain Engkau.” (HR. Abu Dawud).
Kadang masalah terasa begitu berat hingga jiwa rapuh. Itu lumrah. Namun jangan biarkan kesedihan berlarut-larut, karena rahmat Allah tidak pernah meninggalkan kita. Kesedihan yang berlebihan hanyalah tanda kita lupa kepada-Nya. Padahal, bila selama ini kita mampu melangkah, itu bukan karena kuasa kita, melainkan karena ridha-Nya yang membuka jalan kemudahan.
Maka, perbanyaklah istighfar dan dzikir, “Laa haula wa laa quwwata illa billah.”
Kalimat ini adalah pengakuan sekaligus permohonan agar Allah senantiasa menolong kita. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Wahai Abdullah bin Qais, ucapkanlah ‘laa hawla wa laa quwwata illa billah’, karena kalimat itu merupakan simpanan pahala berharga di surga.” (HR. Bukhari).*