Melepaskan Belenggu Kehidupan

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
SETIAP manusia yang masih bernapas di muka bumi tidak akan pernah benar-benar terbebas dari ujian. Ada yang diuji dengan kesempitan ekonomi, persoalan keluarga, penyakit, kehilangan, hingga beban batin yang tidak selalu terlihat oleh mata.
Namun, berat dan ringannya sebuah beban tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya persoalan. Cara hati dan pikiran dalam menerimanya turut menentukan bagaimana seseorang menjalani ujian tersebut.
Ada sebuah petuah yang layak direnungkan: sesuatu yang sedikit akan terasa banyak ketika hati memiliki qana’ah, rasa cukup. Sebaliknya, sesuatu yang banyak akan terasa sedikit ketika hati dipenuhi ketamakan. Sesuatu yang jauh terasa dekat ketika dilandasi cinta, sedangkan yang dekat terasa jauh ketika diselimuti amarah.
Demikian pula sesuatu yang sulit dapat terasa ringan dengan kesabaran. Sebaliknya, sesuatu yang sebenarnya mudah dapat berubah menjadi berat ketika terus-menerus dikeluhkan.
Pesan tersebut mengajarkan bahwa kehidupan tidak hanya tentang apa yang terjadi kepada kita, tetapi juga tentang bagaimana kita menyikapinya. Peristiwa yang sama dapat melahirkan ketenangan pada satu hati, tetapi menimbulkan kegelisahan pada hati yang lain.
Karena itu, seorang mukmin memiliki dua sikap utama dalam menghadapi kehidupan. Ketika memperoleh sesuatu yang tidak disukai, ia bersabar. Ketika mendapatkan sesuatu yang disenangi, ia bersyukur.
Keduanya menjadi bekal penting agar manusia tidak mudah dikendalikan oleh keadaan. Kesulitan tidak membuatnya berputus asa, sementara kenikmatan tidak membuatnya terlena.
Namun, ada satu hal yang lebih mendasar. Agar kehidupan tidak terus-menerus terasa sebagai himpitan, seorang Muslim perlu mencari ruang perlindungan yang lebih luas daripada sekadar kekuatan dirinya sendiri. Ruang itu adalah rahmat Allah SWT.
Salah satu pintu untuk mendekatinya adalah ittiba’, yakni mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Sering kali aturan agama dipersepsikan sebagai tambahan beban. Syariat dianggap membatasi kebebasan, sementara sunnah dipandang sebagai sesuatu yang membuat kehidupan semakin sulit. Padahal, cara pandang tersebut justru berlawanan dengan salah satu tujuan diutusnya Rasulullah SAW.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 157: “…dan (Rasul itu) membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.”
Ayat tersebut memberikan gambaran yang sangat kuat. Kehadiran Rasulullah SAW bukan untuk menambah belenggu manusia, melainkan untuk membebaskan mereka dari belenggu yang selama ini mengikat.
Belenggu itu tidak selalu berbentuk rantai yang terlihat. Ia dapat berupa hawa nafsu, kecintaan berlebihan kepada dunia, tuntutan gengsi, keinginan untuk selalu dipuji, gaya hidup yang dipaksakan, atau ambisi yang tidak pernah menemukan kata cukup.
Seseorang bisa saja terlihat bebas secara lahiriah, tetapi sesungguhnya terikat oleh banyak hal.
Ia bekerja tanpa mengenal batas karena takut kehilangan harta. Ia mengejar pengakuan karena takut dianggap tidak berhasil. Ia mengikuti gaya hidup tertentu karena takut tertinggal. Ia menuruti keinginan tanpa batas hingga akhirnya justru kehilangan ketenangan.
Hidup yang terus mengikuti hawa nafsu ternyata tidak selalu berarti hidup yang bebas. Bisa jadi justru semakin banyak keinginan yang dipenuhi, semakin banyak pula belenggu yang harus dipikul.
Dalam konteks inilah sunnah Nabi SAW dapat dipahami bukan sebagai beban tambahan, melainkan sebagai jalan pembebasan.
Bayangkan seseorang berada di tengah lautan dengan tangan terborgol dan kaki terikat batu. Ia mungkin masih dapat bergerak, tetapi setiap gerakan menjadi berat. Syahwat duniawi, gengsi, gaya hidup berlebihan, dan hawa nafsu yang tidak terkendali dapat menjadi borgol dan batu tersebut.
Sunnah hadir untuk membantu manusia melepaskan ikatan itu. Ketika Nabi SAW mengajarkan kesederhanaan, ia bukan sedang mengurangi kenikmatan hidup manusia, melainkan membebaskan manusia dari ketergantungan kepada kenikmatan.
Ketika Nabi SAW mengajarkan qana’ah, beliau bukan sedang mengajarkan kemiskinan, melainkan membebaskan hati dari ketamakan.
Ketika Nabi SAW mengajarkan kesabaran, beliau bukan sedang meminta manusia pasrah terhadap keadaan, melainkan mengajarkan kekuatan untuk menghadapi ujian tanpa kehilangan arah.
Karena itu, mengikuti sunnah bukan sekadar menjalankan sejumlah amalan lahiriah. Ittiba’ juga berarti belajar membentuk cara pandang, cara bersikap, dan cara menjalani kehidupan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Jika ketaatan beragama masih terasa seperti rantai yang mencekik, ada baiknya kita berhenti sejenak dan melakukan introspeksi.
Boleh jadi yang kita praktikkan atas nama agama belum sepenuhnya mencerminkan sunnah Rasulullah SAW. Atau mungkin kita sendiri yang keliru memahami aturan agama sebagai belenggu, padahal ia merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT kepada manusia.
Seperti sabuk pengaman pada kendaraan. Sabuk pengaman memang membatasi gerak tubuh. Namun, pembatasan itu bukan dimaksudkan untuk menyusahkan, melainkan untuk melindungi ketika terjadi benturan.
Demikian pula sebagian aturan agama. Ada batas-batas yang mungkin terasa membatasi keinginan, tetapi justru dapat menyelamatkan manusia dari kebinasaan yang lebih besar.
Pada akhirnya, kehidupan tidak akan pernah benar-benar tanpa ujian. Beban akan selalu datang dalam berbagai bentuk. Yang dapat kita ikhtiarkan adalah bagaimana menjalani semua itu dengan hati yang benar.
Ketika kesulitan datang, bersabarlah. Ketika nikmat hadir, bersyukurlah. Ketika dunia terasa terlalu berat, periksa kembali apa yang sedang mengikat hati.
Lalu, dekatilah sunnah Rasulullah SAW. Sebab bisa jadi, jalan keluar dari sebagian beban yang selama ini kita keluhkan bukan dengan menambah sesuatu dalam hidup, melainkan dengan melepaskan apa yang selama ini tidak semestinya kita pikul.
Dengan ittiba’ kepada Rasulullah SAW, seorang Muslim tidak hanya sedang berusaha menyempurnakan ibadah. Ia juga sedang belajar membebaskan dirinya dari belenggu hawa nafsu, ketamakan, gengsi, dan kecintaan berlebihan kepada dunia.
Sunnah bukan rantai yang mengikat. Ia adalah jalan yang mengantarkan manusia menuju kehidupan yang lebih tertata, tenang, dan dekat dengan rahmat Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawab.*